Sebagian Buruh Pilih Aksi di DPR, Bukan Rayakan May Day Monas

- Perayaan May Day 2026 di Jakarta terbagi dua, sebagian buruh merayakan di Monas bersama Presiden Prabowo, sementara lainnya memilih aksi di depan DPR RI.
- Aksi di DPR RI dipimpin berbagai serikat buruh seperti KASBI yang menegaskan May Day sebagai momentum perjuangan, bukan sekadar seremoni tahunan.
- Massa buruh menuntut pemerintah segera mengesahkan undang-undang ketenagakerjaan yang lebih berpihak pada pekerja, terutama bagi buruh perempuan yang masih menghadapi ketimpangan.
Jakarta, IDN Times - Perayaan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Jakarta berlangsung dengan dua wajah berbeda. Di kawasan Monumen Nasional (Monas), ribuan buruh mengikuti perayaan yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto, lengkap dengan rangkaian acara dan pembagian sembako.
Namun di saat bersamaan, ratusan buruh dari berbagai serikat justru memilih bergerak ke depan Gedung DPR RI. Mereka datang bukan untuk merayakan, melainkan menyuarakan tuntutan yang dinilai belum terpenuhi.
Langkah ini menegaskan adanya perbedaan sikap di kalangan buruh. Sebagian memilih perayaan, sementara lainnya menilai May Day tetap harus menjadi ruang perjuangan dan pengingat atas hak-hak pekerja yang belum terpenuhi.
Perwakilan dari Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Siti Nurhalimah (31), menegaskan aksi di DPR RI merupakan bentuk peringatan sekaligus perlawanan.
Ia menilai May Day bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum mengingat sejarah panjang perjuangan buruh yang masih menyisakan banyak persoalan, terutama bagi buruh perempuan.
"Seperti yang kita ketahui juga, teman-teman di Monas itu kan merayakan dengan Prabowo. Sedangkan kita ini bukan perayaan, tapi memperingati," kata dia di depan Gedung DPR, Jakarta, Jumat (1/5/2026).
Aksi di depan Gedung DPR RI menjadi simbol tekanan langsung kepada para pembuat kebijakan. Di tengah orasi, teriakan, dan poster tuntutan, massa buruh menyuarakan desakan agar pemerintah lebih serius memperhatikan nasib pekerja.
Mereka menyoroti perlunya percepatan pengesahan undang-undang ketenagakerjaan yang dinilai lebih berpihak kepada buruh, khususnya buruh perempuan yang masih menghadapi berbagai ketimpangan di dunia kerja.
"Nah, harapannya ya itu tadi, bagaimana pemerintah sekali lagi untuk lebih mendengar dan juga poin utama adalah bagaimana pemerintah segera mengesahkan undang-undang ketenagakerjaan yang pro terhadap buruh, khususnya buruh perempuan," ujarnya.
Hingga Jumat sore, massa aksi masih bertahan di sekitar kompleks parlemen. Mereka terus menyuarakan tuntutan dan menunggu adanya respons konkret dari pemerintah maupun DPR RI.
Di sisi lain, peringatan May Day 2026 di Jakarta juga diwarnai dengan penampilan sejumlah musisi, termasuk Efek Rumah Kaca (ERK), yang turut mengisi panggung sebagai bagian dari rangkaian aksi dan ekspresi solidaritas buruh.

















