Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Benarkah Tekanan Jelang Pemilu Bikin Netanyahu Nentang Trump soal BOP?

Benarkah Tekanan Jelang Pemilu Bikin Netanyahu Nentang Trump soal BOP?
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kanan) dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (kiri) (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
  • Benjamin Netanyahu menghadapi tekanan sayap kanan menjelang pemilu Israel kurang dari tiga bulan lagi, saat dukungan koalisi dan persaingan jajak pendapat menjadi faktor penting.
  • Netanyahu menolak dokumen 15 poin roadmap Gaza yang didukung Donald Trump dan menegaskan IDF tidak akan mundur sebelum Hamas dilucuti dari seluruh persenjataan.
  • Sikap keras Netanyahu bertujuan menjaga dukungan domestik, tetapi berisiko memicu ketegangan dengan Washington di tengah dorongan Trump menjalankan roadmap dan komitmen Hamas terhadap rencana tersebut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menghadapi tekanan politik yang semakin kuat dari kubu sayap kanan menjelang pemilihan umum Israel yang dijadwalkan berlangsung kurang dari tiga bulan lagi. Persoalan rencana perdamaian Gaza yang didukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi salah satu isu yang berpotensi memengaruhi posisi politik Netanyahu.

Di tengah tekanan tersebut, Netanyahu memilih menyampaikan sikap yang lebih tegas mengenai rencana Gaza Trump. Dalam rapat kabinet mingguan pada Minggu, ia menyatakan Israel tidak menerima dokumen 15 poin yang menjadi bagian dari roadmap tersebut.

Pernyataan itu disampaikan ketika Netanyahu membutuhkan dukungan partai-partai sayap kanan untuk mempertahankan koalisi dan peluangnya tetap menjadi perdana menteri setelah pemilu. Jajak pendapat juga menunjukkan Netanyahu masih menghadapi persaingan ketat.

Karena itu, sikap Netanyahu terhadap rencana Gaza dinilai tidak hanya berkaitan dengan negosiasi dengan Hamas maupun pemerintahan Trump, tetapi juga dengan upayanya mempertahankan dukungan politik di dalam negeri.

  1. 1. Netanyahu hadapi tekanan dari sayap kanan

    Benarkah Tekanan Jelang Pemilu Bikin Netanyahu Nentang Trump Soal BOP?
    Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 2017 (U.S. Embassy Tel Aviv, CC BY 2.0 , via Wikimedia Commons)

    Kelompok sayap kanan dalam pemerintahan Netanyahu sebelumnya telah menyuarakan penolakan terhadap sejumlah bagian dari roadmap Gaza yang didukung Trump. Mereka juga menyerukan agar keputusan kabinet terkait pengerahan International Stabilization Force (ISF) di Gaza ditinjau kembali.

    Tekanan tersebut menjadi persoalan serius bagi Netanyahu. Sistem politik Israel mengharuskan perdana menteri membangun koalisi dengan sejumlah partai untuk dapat memerintah, sehingga dukungan kelompok sayap kanan dapat menjadi faktor penting dalam pembentukan pemerintahan berikutnya.

    Netanyahu juga disebut telah menyetujui secara diam-diam dimulainya pekerjaan rekonstruksi di wilayah percontohan Gaza. Langkah tersebut berpotensi dipandang sebagai konsesi oleh kelompok kanan yang menginginkan Israel mempertahankan keleluasaan lebih besar dalam menentukan masa depan Gaza.

    Dalam situasi tersebut, pernyataan keras Netanyahu mengenai pelucutan senjata Hamas dapat dibaca sebagai upaya menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan memberikan konsesi yang dianggap mengancam kepentingan keamanan Israel.

  2. 2. Netanyahu bicara kepada pemilih

    Benarkah Tekanan Jelang Pemilu Bikin Netanyahu Nentang Trump Soal BOP?
    potret Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (commons.wikimedia.org/Itzhak Harari)

    Tekanan politik itu membuat posisi Netanyahu terhadap rencana Gaza Trump menjadi semakin sensitif. Trump sebelumnya kembali mendorong implementasi roadmap yang mencakup pelucutan senjata Hamas dan penarikan bertahap pasukan Israel dari Gaza.

    Kepala Board of Peace (BoP), Nickolay Mladenov, mengatakan proses tersebut dapat berlangsung secara bertahap dan dilakukan secara beriringan. Menurutnya, penarikan pasukan Israel dapat dilakukan setelah terdapat langkah pelucutan senjata Hamas yang dapat diverifikasi di lapangan. Namun Netanyahu menegaskan posisi yang lebih keras.

    “IDF tidak akan melakukan penarikan apa pun sampai Hamas dilucuti. Dan ketika saya mengatakan pelucutan Hamas, itu berarti persenjataan berat, persenjataan ringan, seluruh persenjataan. Kita berbicara tentang pelucutan senjata yang nyata, bukan pelucutan senjata fiktif,” kata Netanyahu, dilansir dari CNN, Senin (10/8/2026).

    Sikap tersebut tidak hanya ditujukan kepada Hamas. Di dalam negeri, Netanyahu juga perlu meyakinkan pemilih dan sekutu politiknya bahwa setiap langkah menuju kesepakatan Gaza tidak akan mengorbankan keamanan Israel.

  3. 3. Trump bisa jadi tantangan bagi Netanyahu

    Benarkah Tekanan Jelang Pemilu Bikin Netanyahu Nentang Trump Soal BOP?
    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Donald Trump di gedung putih (commons.wikimedia.org/ Dan Scavino)

    Posisi Netanyahu tersebut berpotensi menempatkannya dalam situasi sulit. Di satu sisi, ia membutuhkan dukungan Trump, yang kembali menjadikan penyelesaian konflik Gaza sebagai salah satu agenda penting pemerintahannya. Di sisi lain, Netanyahu harus mempertahankan dukungan basis pemilih dan partai-partai sayap kanan yang menentang pembatasan terhadap operasi Israel di Gaza.

    Bahkan, sejumlah pesaing Netanyahu dalam pemilu diperkirakan tidak akan menjadikan pendekatan Mladenov sebagai platform politik yang menarik. Mladenov sebelumnya memperingatkan bahwa kegagalan menjalankan roadmap secara penuh dapat membuka peluang Hamas kembali mempersenjatai diri dan meningkatkan risiko serangan seperti 7 Oktober 2023.

    Situasi tersebut membuat isu Gaza menjadi bagian dari kalkulasi politik Netanyahu menjelang pemilu. Penolakan terhadap bagian tertentu dari roadmap Trump dapat membantu Netanyahu meredam tekanan dari kanan, tetapi sekaligus berisiko menimbulkan ketegangan dengan Washington.

    Sementara itu, Hamas menyatakan tetap berkomitmen terhadap roadmap tersebut dan berharap Board of Peace memberikan tekanan kepada Netanyahu agar menjalankannya. Dengan pemilu yang semakin dekat, Netanyahu kini harus menyeimbangkan tiga kepentingan sekaligus: mempertahankan dukungan politik domestik, menjaga hubungan dengan Trump, dan menentukan posisi Israel dalam kesepakatan yang akan menentukan masa depan Gaza.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More