Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Arab Saudi Galang Koalisi Internasional untuk Lindungi Pelayaran di Laut Merah

Arab Saudi Galang Koalisi Internasional untuk Lindungi Pelayaran di Laut Merah
bendera Arab Saudi (pixabay.com/Chickenonline)
Intinya Sih
  • Arab Saudi menggalang koalisi internasional untuk melindungi pelayaran Laut Merah setelah blokade dan serangan Houthi mengganggu pengiriman minyak; Riyadh membalas dengan serangan ke fasilitas Houthi di Hodeidah.
  • Riyadh mengundang sekitar 50 negara, termasuk AS dan sejumlah negara Teluk serta Eropa; Mesir, Djibouti, dan Sudan dilaporkan bersedia bergabung, sementara Saudi menolak keterlibatan militer langsung Washington.
  • Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb menjadi jalur vital perdagangan energi global; ancaman Houthi terhadap rute ini memperluas risiko bagi tanker minyak dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times Arab Saudi mulai menggalang koalisi internasional untuk melindungi jalur pelayaran di Laut Merah dari serangan kelompok Houthi di Yaman. Komposisi koalisi tersebut masih dibahas bersama puluhan negara dan hingga kini belum diumumkan secara resmi.

Langkah tersebut muncul setelah Houthi memberlakukan blokade maritim terhadap Arab Saudi pada 20 Juli, yang mengganggu pengiriman minyak melalui Laut Merah. Milisi itu menuduh Riyadh telah menerapkan pengepungan yang tidak adil dan menindas terhadap Yaman selama hampir 12 tahun, sekaligus menjarah sumber daya negara itu dan memberlakukan blokade menyeluruh.

Sejak saat itu, kelompok Houthi mengklaim telah melancarkan sejumlah serangan terhadap kapal-kapal Arab Saudi di Laut Merah. Sebagai balasan, Riyadh menggempur fasilitas militer Houthi di Pelabuhan Hodeidah yang digunakan untuk mengancam pelayaran komersial, dilansir The Straits Times.

Konflik tersebut membuka babak baru dalam perang yang lebih luas antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Eskalasi itu juga memperluas ancaman terhadap kapal tanker pengangkut energi di luar kawasan Teluk dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.

1. Puluhan negara diundang bergabung dalam koalisi

ilustrasi peta Arab Saudi (pexels.com/Lara Jameson)
ilustrasi peta Arab Saudi (pexels.com/Lara Jameson)

Arab Saudi dilaporkan telah mengundang sekitar 50 negara untuk bergabung dalam koalisi tersebut, meski daftar resminya belum dipublikasikan. Sejumlah negara yang disebut menerima undangan antara lain Amerika Serikat (AS), Pakistan, Mesir, Turki, Djibouti, Somalia, Sudan, serta beberapa negara Eropa, seperti Jerman, Prancis, dan Italia, mengutip laporan Al Jazeera.

Menurut seorang pejabat AS, sedikitnya Mesir, Djibouti, dan Sudan telah menyatakan kesediaannya untuk bergabung dalam koalisi tersebut. Riyadh juga menetapkan tenggat waktu bagi negara-negara yang diundang untuk menyampaikan keputusan mereka.

Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Khalid bin Salman, dilaporkan telah menyampaikan kepada Washington bahwa Riyadh tidak menginginkan eskalasi lebih lanjut dalam konflik AS-Israel melawan Iran. Namun, Khalid menegaskan kesiapan negaranya untuk mempertahankan diri apabila ancaman terus berlanjut.

Khalid juga menyampaikan kepada Wakil Presiden AS, JD Vance, bahwa Riyadh masih mampu menangani ancaman Houthi di Yaman. Dia mengatakan bahwa pihaknya saat ini tidak membutuhkan keterlibatan langsung militer Washington.

2. Negara-negara Teluk dorong upaya meredakan konflik

ilustrasi konflik AS dan Iran
ilustrasi konflik AS dan Iran (unsplash.com/Saifee Art)

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud, melakukan pembicaraan melalui telepon dengan para menteri luar negeri Qatar, Kuwait, dan Bahrain. Menurut Kementerian Luar Negeri, para diplomat tersebut menekankan pentingnya melanjutkan berbagai upaya untuk meredakan ketegangan di kawasan.

Para diplomat negara Teluk itu juga mengutuk serangan yang dilakukan Iran dan kelompok-kelompok yang berafiliasi dengannya di Irak dan Yaman. Mereka menegaskan pentingnya koordinasi yang lebih erat di bawah kerangka Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).

Sementara itu, Menteri Informasi Yaman, Moammar al-Eryani, menuduh Houthi bertindak atas arahan Iran untuk melakukan pemungutan biaya terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Bab al-Mandeb. Dia menyebut langkah itu sebagai eskalasi berbahaya yang bertujuan mengubah jalur pelayaran paling strategis di dunia menjadi sumber pendanaan bagi aktivitas militer dan teror kelompok Houthi.

3. Selat Bab al-Mandeb menjadi jalur vital perdagangan dunia

Kapal AS di Selat Hormuz
Kapal AS di Selat Hormuz. (Specialist Noah Martin, Public domain, via Wikimedia Commons)

Laut Merah merupakan salah satu jalur pelayaran penting di dunia, dengan sekitar 30 persen dari lalu lintas pelayaran global melewati kawasan tersebut. Peran itu sangat bergantung pada Selat Bab al-Mandeb, yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.

Selat Bab al-Mandeb memiliki lebar hanya sekitar 29 kilometer pada titik tersempitnya, sehingga kapal hanya dapat melintas melalui dua jalur utama untuk pelayaran masuk dan keluar. Sepanjang 2024, sekitar 4,1 miliar barel minyak mentah dan produk minyak olahan melewati selat tersebut atau sekitar 5 persen dari total perdagangan minyak dunia.

Di tengah konflik AS-Iran dan penutupan Selat Hormuz, Arab Saudi terpaksa mengalihkan sebagian besar ekspor minyaknya melalui Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Namun, jalur tersebut kini berada di bawah ancaman Houthi yang didukung Iran.

Houthi juga dilaporkan sedang mempertimbangkan penerapan biaya bagi kapal-kapal yang melintasi Laut Merah, serupa dengan rencana Iran untuk memberlakukan pungutan di Selat Hormuz. Kelompok itu disebut tengah menyiapkan badan khusus yang akan bertugas mengumpulkan pembayaran dari perusahaan pelayaran, meski waktu penerapannya masih belum ditetapkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More