AS Akan Blokade Pelabuhan Iran Selama yang Diperlukan

- Menhan AS Pete Hegseth menegaskan blokade laut terhadap pelabuhan Iran akan terus diberlakukan selama diperlukan, sambil memperingatkan potensi serangan baru jika diplomasi gagal.
- Militer AS memperketat pengawasan di sekitar Teluk Oman, menyiagakan kapal perusak dan pesawat tempur setelah 13 kapal memilih mundur akibat peringatan keras dari pasukan Amerika.
- Blokade ini muncul setelah perundingan damai AS-Iran di Pakistan gagal mencapai kesepakatan, memicu perintah langsung Presiden Donald Trump untuk menutup akses laut Iran.
Jakarta, IDN Times - Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth menegaskan bahwa blokade laut terhadap pelabuhan Iran akan terus berlangsung selama yang diperlukan. AS juga mengancam akan kembali menyerang infrastruktur sipil dan energi Iran jika kesepakatan damai tidak terwujud.
Hegseth menyatakan pasukan AS telah bersiaga untuk kembali melancarkan serangan. Namun, pihak Washington masih berharap konflik ini bisa diselesaikan melalui jalur diplomasi.
"Untuk saat ini, selama yang diperlukan, kami akan terus menjalankan blokade ini, yang sejauh ini terbukti berhasil. Namun, jika Iran salah mengambil langkah, mereka tidak hanya akan menghadapi blokade, tapi juga hujan bom yang menyasar infrastruktur, jaringan listrik, dan sektor energi mereka," ujar Hegseth dalam sebuah konferensi pers pada Kamis (16/4/2026).
1. Hegseth klaim industri pertahanan Iran telah lumpuh

Militer AS memantau pergerakan pasukan Iran di tengah masa jeda pertempuran ini. Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan sedang berusaha menggali sisa peralatan militer mereka dari reruntuhan fasilitas yang hancur.
Hegseth mengklaim Teheran kini tidak lagi memiliki industri pertahanan yang memadai. Kondisi ini membuat mereka kehilangan kemampuan untuk mengganti rudal maupun sistem pertahanan udara.
"Anda sedang menggali sisa peluncur dan rudal tanpa kemampuan untuk menggantinya. Anda tidak memiliki industri pertahanan, kemampuan untuk memulihkan kapasitas serangan maupun pertahanan Anda," ujar Hegseth, dilansir The New Arab.
Sementara itu, militer AS justru memanfaatkan masa gencatan senjata ini untuk mengisi ulang amunisi. Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper menyebut pasukannya sedang menyesuaikan taktik, teknik, dan prosedur tempur mereka.
2. Belasan kapal putar balik akibat peringatan militer AS

Kepala Staf Gabungan Militer AS, Jenderal Dan Caine menegaskan bahwa aturan blokade ini berlaku untuk seluruh kapal tanpa memandang asal negaranya. Pasukan AS tidak akan ragu menggunakan kekuatan militer untuk armada yang nekat menerobos perairan Iran.
"Jika Anda tidak mematuhi blokade ini, kami akan menggunakan kekerasan militer. Sejauh ini, sudah ada 13 kapal yang mengambil keputusan bijak untuk memutar balik," kata Caine, dilansir TRT World.
AS juga memperluas area pengawasan mereka hingga ke luar kawasan Teluk Oman. Mereka akan memburu kapal-kapal gelap yang kedapatan mencoba menyusupkan bantuan logistik maupun pasokan minyak ke wilayah Iran.
Untuk menjaga blokade, Angkatan Laut AS telah menyiagakan belasan kapal perusak yang dilengkapi persenjataan canggih. Operasi di lautan terbuka ini juga mendapat dukungan penuh dari pesawat tempur dan helikopter pengintai di udara.
3. Buntut mandeknya perundingan damai di Pakistan

Blokade ini merupakan respons atas mandeknya negosiasi damai antara AS dan Iran di Pakistan. Presiden AS Donald Trump langsung memerintahkan penutupan akses laut pada Senin sore setelah delegasinya gagal mencapai kesepakatan.
Perundingan tersebut awalnya diharapkan bisa mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung selama lebih dari lima pekan. Namun, ketidakpercayaan yang dalam membuat kedua belah pihak sulit menyepakati syarat penghentian perang.
Di tengah memanasnya situasi, Hegseth sempat membantah laporan intelijen mengenai keterlibatan pihak asing. Ia menepis rumor yang menyebut pemerintah China sedang mempersiapkan pengiriman senjata untuk membantu pertahanan Iran.
Dalam konferensi pers tersebut, sang menteri juga melayangkan kritik terhadap pemberitaan media domestik AS. Ia menilai banyak jurnalis bersikap tidak patriotik karena terus mengkritik perubahan strategi perang yang diambil pemerintah.

















