Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Nepal Minta Bantuan Teknis Asing untuk Tangani Dampak Banjir Bandang

Nepal Minta Bantuan Teknis Asing untuk Tangani Dampak Banjir Bandang
Foto udara pemukiman yang terdampak banjir bandang dan longsor Nepal pada 27 Agustus 2026 (AFP/PRABIN RANABHAT)
  • Nepal meminta bantuan teknis internasional pascabanjir bandang di Himalaya, tetapi menolak personel SAR asing karena operasi pencarian tetap dipimpin tim lokal.
  • Kebutuhan bantuan difokuskan pada evakuasi dari terowongan, pemulihan komunikasi, jembatan darurat, serta fasilitas forensik untuk penyimpanan jenazah dan pengujian DNA.
  • Runtuhan gletser memicu banjir lumpur yang menewaskan sekitar 600 orang, membuat 2.000 orang hilang, merusak infrastruktur, dan meningkatkan risiko longsor susulan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Pemerintah Nepal secara resmi meminta bantuan teknis internasional untuk memulihkan kerusakan pascabanjir bandang di kawasan Himalaya, pada Sabtu (29/8/2026). Bencana yang melanda perbatasan Nepal dan China sejak pertengahan pekan ini telah melumpuhkan berbagai infrastruktur publik.

Kendati tingkat kerusakan tergolong parah, pemerintah setempat memastikan penanganan darurat tahap awal masih terkendali. Nepal menegaskan saat ini lebih membutuhkan bantuan peralatan spesifik dan tenaga ahli asing, bukan tim penyelamat umum atau Search and Rescue (SAR).

  1. 1. Operasi pencarian korban dipimpin oleh tim penyelamat lokal

    AFP__20260828__C6QR8WF__v1__HighRes__NepalDisasterFlood.jpg
    Personel Angkatan Darat Nepal membawa jenazah para korban tewas banjir bandang (Prabin Ranabhat / AFP

    Otoritas Nepal menegaskan tidak akan menerima personel asing untuk misi pencarian dan penyelamatan korban di lokasi bencana. Pemerintah menilai kapasitas tim SAR domestik masih sangat mumpuni untuk menjangkau wilayah terisolasi secara mandiri.

    Langkah ini diambil oleh Kementerian Luar Negeri guna mencegah tumpang tindih operasi di lapangan. Nepal ingin memastikan seluruh proses evakuasi berjalan efisien di bawah satu komando nasional.

    "Kami merasa tidak perlu ada tenaga bantuan asing yang datang hanya untuk melakukan tugas pencarian yang sama di lapangan," kata Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, dilansir Channel News Asia.

  2. 2. Bantuan asing difokuskan untuk infrastruktur dan forensik

    IMG_0556.jpeg
    Banjir dan longsor di Nepal, ratusan orang masih hilang. (AFP/Prakash Mathema)

    Penanganan mendesak yang membutuhkan tenaga ahli internasional mencakup evakuasi warga dari dalam terowongan dan pemulihan jaringan komunikasi. Selain itu, hancurnya 24 jembatan mendorong Nepal meminta pasokan jembatan darurat kepada India dan China.

    Pemulihan akses darat ini menjadi prioritas utama agar distribusi logistik bagi korban terdampak kembali lancar. Di sektor medis, otoritas kesehatan membutuhkan dukungan fasilitas forensik internasional untuk penyimpanan jenazah dan pengujian DNA.

    "Kami mengajukan permohonan untuk layanan teknis di sektor-sektor yang tenaga lokalnya belum memiliki peralatan serta keahlian memadai," ujar Khanal.

  3. 3. Runtuhan gletser picu banjir dan ancaman longsor susulan

    Bendera Nepal sedang berkibar.
    potret bendera Nepal (unsplash.com/Samrat Khadka)

    Tragedi ini bermula dari runtuhnya bagian bawah gletser di Pegunungan Himalaya. Material es, batuan, dan lumpur meluncur deras menerjang aliran Sungai Bhote Koshi dan Sungai Trishuli.

    Runtuhan gletser tersebut memicu getaran seismik yang tercatat setara dengan gempa bermagnitudo 5,2. Gelombang banjir lumpur seketika menyapu permukiman warga, merusak instalasi pembangkit listrik, dan menyeret ratusan kendaraan.

    Bencana ini menewaskan sekitar 600 orang di Nepal dan Tibet, sementara 2.000 jiwa lainnya masih dinyatakan hilang.

    "Kawasan pegunungan di sekitar lokasi bencana sangat tidak stabil, sehingga berisiko tinggi mengalami tanah longsor susulan kapan saja," jelas Perwakilan Pertahanan Perbatasan Gyirong China di Tibet, Chen Xi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More