Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Nepal Minta Meta dan TikTok Hapus Konten Hoaks tentang Bencana Banjir

Nepal Minta Meta dan TikTok Hapus Konten Hoaks tentang Bencana Banjir
bendera Nepal (unsplash.com/Samrat Khadka)
  • Pemerintah Nepal meminta Meta dan TikTok menghapus foto serta video manipulatif tentang banjir bandang Bhotekoshi, karena ISP lokal tak dapat memblokir unggahan spesifik.
  • Disinformasi berupa video lama, gambar AI, dan kode QR donasi palsu meningkat pascabencana; Nepal menilai respons penghapusan 24–48 jam terlalu lambat.
  • Nepal membentuk satgas lintas lembaga dan mengerahkan polisi untuk memantau konten, melacak penyebar hoaks, serta mencegah kepanikan selama evakuasi dan pemulihan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Pemerintah Nepal mengambil langkah tegas untuk mengendalikan penyebaran informasi palsu di media sosial pascabencana banjir bandang Bhotekoshi pada Jumat (28/8/2026).

Otoritas setempat memanggil perwakilan platform digital guna menangani peredaran konten menyesatkan yang meresahkan masyarakat. Langkah ini bertujuan menjaga kondusivitas agar proses evakuasi dan pemulihan darurat tidak terganggu.

  1. 1. Keterbatasan pemblokiran lokal paksa pemerintah hubungi platform

    ilustrasi logo Meta
    ilustrasi logo Meta (unsplash.com/Mariia Berezovsky)

    Pemerintah Nepal mendesak Meta dan TikTok segera menghapus foto dan video manipulatif terkait tragedi Bhotekoshi. Langkah ini diambil lantaran penyedia jasa internet (ISP) lokal hanya mampu memblokir situs web secara keseluruhan, bukan mencabut konten spesifik.

    Kelambanan penanganan unggahan palsu ini dikhawatirkan dapat memperburuk kondisi psikologis keluarga korban. Nepal juga meminta pengembang aplikasi menunjuk perwakilan khusus di negaranya agar pelaporan konten bermasalah bisa diproses lebih cepat.

    "Penyedia internet lokal hanya bisa menutup akses seluruh situs, sehingga kami harus berkoordinasi langsung dengan pihak platform untuk menghapus unggahan hoaks," kata Direktur Otoritas Telekomunikasi Nepal, Bijay Kumar Roy, dikutip dari The Kathmandu Post.

  2. 2. Desakan pembaruan algoritma untuk cegah hoaks dan penipuan donasi

    ilustrasi hoaks
    ilustrasi hoaks (freepik.com/freepik)

    Penyebaran disinformasi, termasuk daur ulang video lama dan gambar rekayasa kecerdasan buatan (AI), melonjak drastis usai banjir bandang melanda. Selain itu, otoritas juga menemukan kode QR palsu berkedok penggalangan dana fiktif bagi korban bencana.

    Waktu tanggap platform digital saat ini memakan waktu 24 hingga 48 jam untuk menghapus unggahan yang dilaporkan. Durasi ini dinilai terlalu lambat karena hoaks telanjur viral sebelum berhasil dicabut.

    "Kami telah mendesak TikTok dan Meta agar memperbarui sistem algoritma mereka supaya konten palsu langsung terblokir secara otomatis saat diunggah," ujar Roy.

  3. 3. Tim lintas lembaga dibentuk untuk awasi dan tindak penyebar hoaks

    Foto udara pemukiman yang terdampak banjir bandang dan longsor Nepal pada 27 Agustus 2026 (AFP/PRABIN RANABHAT)
    Foto udara pemukiman yang terdampak banjir bandang dan longsor Nepal pada 27 Agustus 2026 (AFP/PRABIN RANABHAT)

    Sebagai solusi komprehensif, Nepal membentuk satuan tugas (satgas) lintas lembaga yang melibatkan Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi, Otoritas Telekomunikasi, dan Kementerian Dalam Negeri. Tim ini bertugas memantau peredaran konten digital sekaligus menindak tegas oknum penyebar rumor berbahaya secara hukum.

    Kepolisian turut dikerahkan guna melacak para kreator konten palsu yang memicu kepanikan massal. Pengawasan ketat ini diharapkan mampu melindungi masyarakat dari trauma akibat visual yang meresahkan.

    "Kami mengimbau seluruh media dan warganet agar tidak membagikan informasi yang belum terverifikasi maupun konten rekayasa AI yang dapat memicu kepanikan," tegas perwakilan Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi Nepal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More