Bawa Dua Ribu Semut Hidup di Koper, Kenya Tangkap Seorang Pria China

Petugas Bandara Jomo Kenyatta menangkap warga China, Zhang Kequn, karena menyelundupkan 2.238 semut kebun hidup yang disembunyikan rapi dalam koper dan tas jinjingnya.
Otoritas Kenya menelusuri jaringan internasional penyelundupan semut ke Asia, memeriksa perangkat digital Zhang untuk mengungkap hubungan antara pembeli luar negeri dan pengumpul lokal.
Penyelundupan semut langka ini mengancam keseimbangan ekosistem Kenya serta merugikan ekonomi negara, karena semut berperan penting menjaga kesuburan tanah dan menarik wisata alam.
Jakarta, IDN Times - Petugas keamanan di Bandara Internasional Jomo Kenyatta, Nairobi, menangkap seorang warga negara China pada Selasa (10/3/2026). Pria tersebut kedapatan membawa ribuan semut kebun hidup yang disimpan di dalam bagasinya. Ribuan semut tersebut ditemukan dalam kondisi terbungkus rapi dan sistematis saat pelaku hendak terbang meninggalkan Kenya.
Berdasarkan dokumen persidangan yang keluar pada Kamis (12/3/2026), diketahui bahwa pelaku memang sudah lama dipantau oleh pihak imigrasi Kenya. Otoritas setempat menyatakan bahwa kasus ini menjadi perhatian serius karena melibatkan eksploitasi sumber daya hayati secara ilegal.
1. Diduga selundupkan ribuan semut di Bandara Kenya
Petugas keamanan Bandara Internasional Jomo Kenyatta menangkap seorang pria asal China bernama Zhang Kequn (27) pada Selasa (10/3/2026). Penangkapan ini bermula saat petugas imigrasi melihat adanya status cekal pada paspor Zhang ketika ia hendak berangkat di terminal internasional. Status peringatan tersebut muncul karena Zhang sebelumnya pernah melarikan diri dari upaya penangkapan di Kenya pada tahun 2025.
Setelah dilakukan pemeriksaan mendalam terhadap barang bawaannya, petugas menemukan ribuan semut hidup yang disembunyikan dengan sangat rapi di dalam koper dan tas jinjing. Secara total, terdapat 2.238 ekor semut kebun yang dikemas sedemikian rupa agar tetap hidup selama penerbangan jarak jauh. Pelaku sengaja menyembunyikan serangga tersebut untuk menghindari pemeriksaan petugas bea cukai dan otoritas perlindungan satwa liar.
Dalam persidangan, Jaksa Allen Mulama menjelaskan bahwa sebagian besar semut disimpan di dalam tabung reaksi laboratorium, sementara sisanya dibungkus dengan tisu.
"Saat pemeriksaan, ditemukan 1.948 semut kebun dalam tabung reaksi di bagasinya. Kami juga menemukan 300 semut hidup lainnya yang disembunyikan dalam tiga gulungan tisu," ujar Allen Mulama di hadapan hakim, dilansir The Independent.
2. Polisi selidiki jaringan internasional penyelundupan semut asal Kenya ke Asia
Pihak berwenang Kenya melalui Kenya Wildlife Service (KWS) kini tengah mendalami jaringan perdagangan semut internasional. Selama dua minggu di Kenya, Zhang diduga dibantu oleh tiga warga lokal yang bertugas mencari semut dari alam liar. Penyelidikan ini semakin menguat setelah otoritas di Bangkok, Thailand, juga menyita kiriman semut dari Kenya pada Selasa (10/3/2026), yang menunjukkan adanya jalur distribusi tetap antara Afrika Timur dan Asia.
Saat ini, polisi sedang memperluas pencarian ke kota Nakuru dan Naivasha yang diduga menjadi tempat pengumpulan serangga langka tersebut sebelum dikirim ke Nairobi. Selain mengejar pelaku lain, petugas juga melakukan pemeriksaan mendalam terhadap ponsel dan laptop milik Zhang untuk melacak data komunikasi serta transaksi keuangan sindikat tersebut. Hakim Njeri Thuku telah memberikan izin kepada penyidik untuk menahan Zhang selama lima hari tambahan guna menyelesaikan pemeriksaan digital tersebut.
Pihak KWS menegaskan bahwa pemeriksaan perangkat elektronik ini sangat penting untuk mengungkap hubungan antara pembeli di luar negeri dengan pengumpul di Kenya. Hal ini mengingat harga semut yang sangat mahal di pasar hobi internasional.
"Penyitaan kiriman semut serupa di Bangkok pada hari Selasa yang berasal dari Kenya mengindikasikan adanya jaringan penyelundupan semut yang luas dan terorganisir," menurut pihak KWS dalam dokumen resmi, dilansir South China Morning Post.
3. Penyelundupan semut langka asal Kenya ancam keseimbangan alam dan ekonomi
Kasus yang melibatkan warga China, Zhang Kequn, mengungkap tren baru kejahatan lingkungan di Kenya. Para penyelundup kini mulai mengincar serangga kecil seperti semut pemanen raksasa Afrika, bukan lagi hanya hewan besar seperti gajah atau badak. Semut ini sangat dicari oleh kolektor di Eropa dan Asia untuk dipelihara dalam akuarium khusus. Di pasar gelap Inggris, harga satu ekor ratu semut jenis ini bisa mencapai sekitar 175 poundsterling (Rp3,95 juta), sehingga memicu aksi pencurian sumber daya alam yang merugikan ekonomi serta kedaulatan Kenya.
Secara alamiah, pengambilan ribuan semut secara ilegal ini dapat merusak lingkungan di padang rumput Kenya. Semut pemanen memiliki peran penting dalam menjaga kesuburan tanah dan membantu penyebaran benih tanaman yang menjadi makanan hewan lain. Jika populasi semut hilang dalam jumlah besar, keseimbangan alam akan terganggu dan kualitas lahan penggembalaan bagi hewan-hewan besar di Kenya akan menurun. Hal ini tentu saja dapat merusak daya tarik wisata alam yang menjadi kebanggaan negara tersebut.
"Kejahatan ini menunjukkan pergeseran tren perdagangan, dari mamalia besar yang ikonik ke spesies kurang populer namun sangat kritis bagi ekosistem," ujar pihak KWS, dilansir Ground.

















