Korea Utara Kecam Latihan Militer AS dan Korea Selatan

- Korea Utara mengecam latihan Ulchi Freedom Shield AS-Korea Selatan sebagai persiapan perang agresif dan menyatakan siap menggunakan hak membela diri terhadap ancaman.
- Presiden Donald Trump memerintahkan pengurangan partisipasi pasukan AS demi penghematan anggaran dan hubungan dengan Kim Jong Un, tanpa pemberitahuan resmi sebelumnya kepada Seoul.
- AS dan Korea Selatan membatalkan fase simulasi serangan balasan serta mengalihkan banyak manuver lapangan ke komputer, sambil menegaskan komitmen keamanan aliansi tetap terjaga.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Korea Utara melayangkan kecaman keras atas pelaksanaan latihan militer gabungan Amerika Serikat dan Korea Selatan pada Rabu (19/8/2026). Pyongyang menegaskan komitmennya untuk menggunakan hak membela diri guna menanggapi potensi ancaman dari kedua negara sekutu tersebut.
Pernyataan tersebut merespons pembukaan agenda latihan militer tahunan Ulchi Freedom Shield di Semenanjung Korea. Kendati Washington berniat mengurangi keterlibatan pasukannya, pihak Korea Utara tetap memandang manuver militer tersebut sebagai bentuk provokasi kawasan.
1. Korea Utara sebut latihan bersama sebagai persiapan perang

bendera Korea Utara (freepik.com/leoaltman) Media pemerintah Korea Utara mengecam keras dimulainya manuver Ulchi Freedom Shield yang dijadwalkan berlangsung selama 11 hari. Pyongyang menilai aktivitas tempur tersebut hanya memicu eskalasi konflik di Semenanjung Korea. Selain itu, pihak militer siap mengambil tindakan balasan demi menjaga kedaulatan wilayahnya.
Otoritas Korea Utara juga menolak klaim sekutu bahwa manuver ini murni latihan pertahanan rutin. Pyongyang menganggap penjelasan tersebut hanya alibi untuk menutupi ancaman militer yang sebenarnya.
"Latihan tahunan defensif ini sejatinya merupakan gladi bersih untuk perang agresif," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara, dilansir Channel News Asia.
2. Donald Trump perintahkan pemangkasan partisipasi pasukan AS

Donald Trump (Matt Johnson from Omaha, Nebraska, United States, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons) Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendadak menginstruksikan Kementerian Pertahanan untuk mengurangi partisipasi militer dalam latihan bersama. Trump berdalih pemangkasan ini penting demi menghemat anggaran dan menjaga hubungan baik dengan Kim Jong Un. Ia juga kecewa karena Seoul menolak permintaan Washington terkait denuklirisasi Iran.
Kebijakan sepihak dari Washington tersebut sempat memicu kebingungan di kalangan pejabat Korea Selatan. Pemerintah Seoul mengaku tidak menerima pemberitahuan resmi sebelum keputusan itu diumumkan ke publik.
"Latihan ini tidak hanya mahal, tetapi juga mengirimkan sinyal yang tidak tepat dan bermusuhan," kata Presiden Donald Trump.
3. Militer sekutu pangkas durasi dan ubah skenario latihan

ilustrasi tentara militer AS (pexels.com/Matthew Hintz) Arahan Gedung Putih membuat militer Amerika Serikat dan Korea Selatan merombak agenda Ulchi Freedom Shield. Kedua negara sepakat membatalkan fase kedua latihan yang mencakup simulasi serangan balasan. Sebagian besar manuver lapangan pun dialihkan menjadi latihan berbasis simulasi komputer.
Pemerintah Korea Selatan menegaskan bahwa penyesuaian skala ini tidak memengaruhi komitmen mereka dalam menjaga stabilitas kawasan. Seoul berfokus meningkatkan pertahanan mandiri sembari memelihara kemitraan strategis dengan Washington.
"Aliansi yang kuat memperkokoh fondasi keamanan dan meningkatkan nilai kita sebagai sekutu," kata Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung.




















