Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Buka Era Baru, Zohran Mamdani: New York untuk Semua Warganya

Buka Era Baru, Zohran Mamdani: New York untuk Semua Warganya
Wali Kota New York Terpilih, Zohran Mamdani (Karamccurdy, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Hunian, transportasi, dan biaya hidup jadi fokusnya: Zohran Mamdani membekukan sewa untuk kembalikan rasa aman. Ia akan membuat bus menjadi cepat dan gratis. Biaya penitipan anak tidak boleh lagi membuat orang takut memulai hidup
  • New York milik jutaan warganya: New York adalah kota milik jutaan identitas, bukan satu kelompok dominan. Mamdani menyambut perubahan politik yang lebih jujur dan berani
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Wali Kota New York City, Zohran Mamdani mengajukan satu pertanyaan mendasar yang menjadi benang merah visinya, mengenai siapa sebenarnya pemilik New York City. Pertanyaan ini ia sampaikan dalam pidato inaugurasi perdananya sebagai walikota yang baru.

Pertanyaan itu ia sampaikan bukan sebagai retorika kosong, melainkan sebagai kritik langsung terhadap sejarah panjang kebijakan kota yang, menurutnya, terlalu sering berpihak pada kaum kaya dan berpengaruh.

“Untuk sebagian besar sejarah kita, jawaban dari Balai Kota sederhana saja, New York hanya milik mereka yang kaya dan memiliki koneksi,” kata Mamdani, Jumat (2/1/2026).

Dilansir dari Fox News, dari cara pandang tersebut Mamdani menilai warga pekerja menanggung dampaknya selama puluhan tahun. Ia menggambarkan realitas kota dengan kelas-kelas sekolah yang penuh sesak, perumahan publik dengan lift rusak, jalan berlubang, serta bus yang datang terlambat, atau bahkan tidak datang sama sekali.

Karena itu, Mamdani menegaskan, pemerintahannya akan mengubah jawaban atas pertanyaan tersebut secara nyata.

“Mulai hari ini, kami akan memerintah dengan berani dan luas. Kami mungkin tidak selalu berhasil, tapi kami tidak akan pernah dituduh kekurangan keberanian untuk mencoba,” seru Mamdani.

1. Hunian, transportasi, dan biaya hidup jadi fokusnya

Dalam isu hunian, Mamdani secara tegas menyebut ketakutan akan kenaikan sewa sebagai bentuk ketidakadilan struktural yang dialami jutaan warga New York. Ia menilai, rasa cemas itu telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari penyewa, terutama kelas pekerja.

“Warga di rumah sewa stabil tidak lagi boleh hidup dalam ketakutan setiap kali musim kenaikan sewa tiba,” kata Mamdani.

Ia pun berjanji akan membekukan sewa sebagai langkah awal untuk mengembalikan rasa aman. Transportasi publik juga menjadi sorotan tajam. Mamdani mengkritik kondisi bus dan kereta yang lambat, mahal, dan tidak dapat diandalkan.

“Naik bus tanpa khawatir tarif naik atau terlambat sampai tujuan seharusnya bukan keajaiban kecil. Karena itu, kami akan membuat bus menjadi cepat dan gratis,” ujarnya.

Soal biaya penitipan anak, Mamdani menyebutnya sebagai penghalang besar bagi generasi muda untuk membangun keluarga. “Biaya penitipan anak tidak boleh lagi membuat orang takut memulai hidup,” katanya.

Ia menegaskan kebijakan-kebijakan ini bukan sekadar soal angka. “Ini bukan hanya tentang biaya yang kami gratiskan, tetapi tentang kehidupan yang kami isi dengan kebebasan,” ujar Mamdani.

2. New York milik jutaan warganya

Dalam pidatonya, Mamdani menekankan, New York adalah kota milik jutaan identitas, bukan satu kelompok dominan. Ia menyebut warga yang berbicara Pashto dan Mandarin, Yiddish dan Creole, mereka yang beribadah di masjid, sinagoga, gereja, kuil, maupun yang tidak beribadah sama sekali.

“Tidak peduli apa yang kamu makan, bagaimana kamu berdoa, atau dari mana kamu berasal, kata yang paling mendefinisikan kita semua tetap sama: New Yorkers,” kata Mamdani.

Ia juga mengkritik apa yang ia sebut sebagai bahasa kesopanan politik yang sering dipakai untuk menutupi kebijakan kejam. “Terlalu lama, mereka yang fasih berbicara sopan menggunakan kesopanan itu untuk menyamarkan agenda kekejaman,” lanjut dia.

Sebaliknya, Mamdani menyambut perubahan politik yang lebih jujur dan berani. Ia mengatakan pemerintahannya akan merangkul warga yang selama ini merasa dikhianati oleh tatanan lama.

“Kebutuhan mereka akan dipenuhi, harapan dan kepentingan mereka akan tercermin secara transparan dalam pemerintahan,” seru Mamdani.

3. Pemerintahan yang berpihak pada pekerja

Mamdani berulang kali menegaskan pemerintah kota harus bekerja paling keras untuk mereka yang bekerja paling keras. Ia menyebut operator transportasi, penjaja makanan, petugas kebersihan, perawat, hingga pekerja gudang sebagai fondasi kehidupan kota.

“New York bisa menjadi milik mereka yang mengoperasikan kereta bawah tanah, yang menyapu taman, yang memberi kita biryani dan pastrami,” kata Mamdani.

Menurutnya, hal itu hanya bisa terwujud jika pemerintah berani bekerja paling keras untuk rakyat pekerja. Ia juga menegaskan sikap keras terhadap keserakahan korporasi dan tuan tanah bermasalah.

“Balai Kota tidak akan lagi ragu menggunakan kekuasaannya untuk memperbaiki kehidupan warga,” katanya.

Menutup pidatonya, Mamdani menyampaikan pesan yang menjadi inti pemerintahannya. “New York bukan milik 1 persen. New York milik semua yang tinggal di dalamnya,” tuturnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in News

See More

TOP 5: Sekeluarga Ditemukan Tewas hingga Isu Ijazah Jokowi Seret Nama SBY

03 Jan 2026, 05:00 WIBNews