Serangan Proyektil Hantam Tiga Kapal Kargo di Selat Hormuz

- Tiga kapal kargo diserang proyektil di Selat Hormuz, termasuk kapal Thailand Mayuree Naree yang terbakar dan menyebabkan tiga awak hilang, sementara dua kapal lain mengalami kerusakan ringan.
- Iran mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal Thailand dan memperingatkan bahwa kapal menuju pihak tertentu akan dianggap target sah di tengah konflik dengan AS dan Israel.
- AS menuduh Iran menggunakan pelabuhan sipil untuk operasi militer, memicu ancaman balasan keras dari Presiden Trump, sementara harga minyak dunia melonjak hingga 20 persen lebih tinggi dari sebelumnya.
Jakarta, IDN Times – Tiga kapal kargo komersial dilaporkan menjadi sasaran serangan proyektil saat melintasi Selat Hormuz pada Senin (11/3/2026). Jalur laut sempit ini merupakan salah satu rute paling penting bagi perdagangan energi dunia karena mengangkut sekitar seperlima distribusi minyak global melalui jalur laut.
Insiden tersebut terjadi di tengah konflik bersenjata antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat (AS) yang berlangsung sejak akhir bulan lalu. Kondisi ini membuat arus kapal dagang di kawasan tersebut langsung menurun tajam, sementara harga minyak dunia ikut melonjak.
1. Kapal kargo Thailand terkena dua proyektil

Kapal pengangkut curah berbendera Thailand, Mayuree Naree, dimiliki perusahaan pelayaran Precious Shipping yang berbasis di Thailand. Kapal sepanjang 178 meter dengan bobot sekitar 30 ribu ton itu berangkat dari Pelabuhan Khalifa di Uni Emirat Arab dan sedang menuju Kandla di India.
Pada Rabu (11/3/2026) dua proyektil dilaporkan menghantam kapal tersebut. Dilansir dari CNA, ledakan yang terjadi di bagian buritan memicu kebakaran besar di ruang mesin, sementara foto yang dirilis Angkatan Laut Kerajaan Thailand memperlihatkan asap hitam pekat mengepul dari lambung dan struktur atas kapal serta sejumlah rakit penyelamat yang telah mengapung di laut.
Angkatan Laut Kerajaan Thailand menyatakan kapal itu diserang saat melintas di Selat Hormuz dan rincian penyebab kejadian masih diselidiki. Dari 23 awak kapal, sebanyak 20 orang berhasil dievakuasi Angkatan Laut Oman dan telah tiba dengan selamat di wilayah Oman, sementara tiga awak lain yang berada di ruang mesin saat ledakan terjadi masih dinyatakan hilang dan sedang dicari tim penyelamat.
Serangan terhadap kapal tersebut terjadi sekitar 11 mil laut di utara Oman. Iran kemudian mengakui bertanggung jawab atas insiden ini sambil menyatakan awak kapal mengabaikan peringatan yang telah diberikan.
2. Dua kapal lain turut mengalami serangan proyektil

Sebuah kapal kontainer berbendera Jepang juga mengalami kerusakan ringan setelah terkena proyektil yang diduga berasal dari arah tertentu. Insiden ini terjadi sekitar 46 kilometer atau 25 mil laut dari pantai Uni Emirat Arab di dekat Ra’s al Khaymah, sementara nakhoda kapal melaporkan seluruh awak selamat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Selain itu, satu kapal pengangkut curah lain yang namanya belum diungkap juga dilaporkan terkena proyektil tak dikenal. Lokasi kejadian berada sekitar 93 kilometer atau 50 mil laut di barat laut Dubai, dan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) menyatakan semua awak kapal berada dalam kondisi aman.
UKMTO kemudian mengeluarkan peringatan terkait tiga insiden tersebut. Dilansir dari Fox Business, lembaga itu meminta seluruh kapal yang melintasi kawasan tersebut agar meningkatkan kewaspadaan selama proses penyelidikan masih berlangsung.
3. Iran dan AS saling menyampaikan peringatan

Juru bicara Ebrahim Zolfaqari menyampaikan melalui video yang ditayangkan televisi negara bahwa kapal atau tanker yang menuju pihak tertentu akan dianggap sebagai target yang sah.
“Bersiaplah untuk harga satu barel minyak mencapai 200 dolar AS (setara Rp3,37 juta) karena harga minyak bergantung pada stabilitas regional yang telah kalian destabilisasi,” katanya, dikutip dari BBC.
Korps Garda Revolusi Islam juga menyatakan mereka tak akan mengizinkan ekspor bahkan satu liter minyak pun dari kawasan tersebut menuju pihak musuh dan mitra-mitranya sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.
Komando Pusat AS (US CENTCOM) menyatakan rezim Iran menggunakan pelabuhan sipil di sepanjang Selat Hormuz untuk menjalankan operasi militer yang mengancam pelayaran internasional. Mereka menyebut tindakan tersebut membahayakan nyawa warga sipil, sementara pelabuhan yang dipakai untuk aktivitas militer akan kehilangan perlindungan sipilnya dan dapat menjadi target militer sah menurut hukum internasional.
Presiden AS Donald Trump melalui unggahan di Truth Social menyatakan bahwa jika Iran menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, maka negara itu akan diserang oleh AS dua puluh kali lebih keras dari sebelumnya. Ia juga menulis bahwa AS akan menghancurkan target-target yang mudah diserang sehingga Iran hampir tak mungkin dibangun kembali sebagai sebuah bangsa, dengan kematian, api, dan kemarahan akan menimpa mereka, meskipun ia berharap hal itu tidak terjadi.
Harga minyak sempat melonjak mendekati 120 dolar AS per barel (sekitar Rp2,02 juta) saat konflik mulai pecah sebelum kemudian turun ke kisaran 87 dolar AS per barel (sekitar Rp1,46 juta). Angka tersebut masih sekitar 20 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik. Badan Energi Internasional telah mengumumkan pelepasan 400 juta barel dari cadangan strategis setelah pertemuan tingkat tinggi G7 sebagai upaya menstabilkan pasokan minyak global.


















