Bukan AS, Ini Negara dengan Tingkat Judi Online Tertinggi di Dunia

- Survei GWI kuartal II 2025 pada 48 pasar menempatkan Afrika Selatan sebagai partisipasi judi online tertinggi, yakni 32,3% pengguna internet usia 16+ dalam sebulan.
- Norwegia berada di urutan kedua dengan 31,2% meski regulasinya ketat; Yunani 25,8%, Selandia Baru 24%, serta Ghana dan Hungaria masing-masing 21,5%.
- Amerika Serikat hanya peringkat ke-38 dengan 10,2%, menegaskan persentase pengguna platform judi online berbeda dari besarnya pendapatan industri perjudian.
Ketika membicarakan negara dengan industri perjudian terbesar di dunia, Amerika Serikat mungkin menjadi salah satu negara yang langsung terlintas di pikiranmu. Pasalnya, negara tersebut dikenal memiliki industri kasino dan taruhan bernilai fantastis. Namun, kalau ukurannya adalah persentase pengguna internet yang mengakses situs atau aplikasi judi online setiap bulan, hasilnya ternyata cukup mengejutkan, lho.
Amerika Serikat bahkan gak masuk dalam jajaran 10 besar negara dengan tingkat partisipasi judi online tertinggi. Posisi teratas justru ditempati negara di Afrika, disusul sejumlah negara Eropa yang memiliki kebijakan perjudian berbeda-beda.
Data yang dipublikasikan dalam Digital 2026 Global Overview Report berdasarkan survei GWI kuartal II 2025 memperlihatkan bagaimana kebiasaan berjudi secara online tersebar di berbagai negara. Penelitian ini mencakup 48 pasar dengan mengukur persentase pengguna internet berusia 16 tahun ke atas yang mengunjungi situs atau aplikasi perjudian dan taruhan dalam satu bulan terakhir.
Lantas, negara mana saja yang memiliki tingkat judi online tertinggi di dunia? Berikut lima hal menarik yang perlu kamu ketahui.
1. Afrika Selatan menjadi negara dengan tingkat judi online tertinggi

ilustrasi Afrika Selatan (pexels.com/Zak H) Siapa sangka, negara dengan tingkat partisipasi judi online tertinggi di dunia justru berasal dari Afrika, bukan Amerika Serikat. Afrika Selatan menempati posisi pertama dengan persentase mencapai 32,3 persen. Artinya, hampir satu dari tiga pengguna internet berusia 16 tahun ke atas di negara tersebut mengakses situs atau aplikasi perjudian online setidaknya sekali dalam sebulan terakhir. Angka ini menempatkan Afrika Selatan di atas 47 pasar lain yang masuk dalam pemeringkatan.
Tingginya angka partisipasi tersebut sejalan dengan perkembangan industri perjudian di Afrika Selatan dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh meningkatnya aktivitas taruhan olahraga dan penggunaan platform perjudian online. Menurut National Gambling Board, total perputaran uang industri perjudian negara tersebut mencapai 1,1 triliun rand pada tahun fiskal 2023/2024. Jika dikonversikan dengan perkiraan kurs Rp900 per rand, nilainya setara sekitar Rp990 triliun.
Pada periode yang sama, pendapatan kotor industri perjudian meningkat 25,7 persen menjadi 59,3 miliar rand atau sekitar Rp53,37 triliun. Menariknya, aktivitas taruhan menyumbang sekitar 61 persen dari total pendapatan industri perjudian. Kontribusinya bahkan berhasil melampaui kasino yang sebelumnya menjadi salah satu segmen utama industri tersebut. Meski angka perputaran uang ini tidak secara khusus mengukur pengguna judi online, data tersebut memperlihatkan besarnya industri perjudian di Afrika Selatan.
2. Norwegia berada di posisi kedua meski regulasinya ketat

ilustrasi kota Bergen di Norwegia, Eropa (unsplash.com/Magnus Skaare) Negara berikutnya yang memiliki tingkat partisipasi judi online tinggi adalah Norwegia dengan persentase 31,2 persen. Selisihnya dengan Afrika Selatan hanya sekitar 1,1 poin persentase. Artinya, hampir sepertiga pengguna internet berusia 16 tahun ke atas di Norwegia mengakses platform perjudian atau taruhan online setiap bulannya. Pencapaian ini cukup menarik karena Norwegia dikenal memiliki aturan perjudian yang relatif ketat di Eropa.
Sebagian besar aktivitas perjudian utama di Norwegia berada di bawah kendali dua operator, yaitu Norsk Tipping dan Norsk Rikstoto. Norsk Tipping menerapkan batas kerugian wajib bagi pemain sebagai salah satu upaya untuk mengendalikan aktivitas perjudian. Operator tersebut juga melakukan pemantauan terhadap pengguna yang menunjukkan perilaku berjudi berisiko. Kebijakan ini memperlihatkan adanya upaya pemerintah untuk mengawasi aktivitas perjudian sekaligus mengurangi potensi dampak negatifnya.
Norwegia juga menerapkan pembatasan terhadap platform perjudian asing. Pada 2025, negara tersebut memperkenalkan pemblokiran pembayaran dan situs web untuk membatasi akses terhadap operator yang gak memiliki izin. Meski memiliki berbagai pembatasan, tingkat partisipasi judi online di Norwegia tetap tergolong tinggi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa ketatnya regulasi terhadap operator perjudian gak selalu berbanding lurus dengan rendahnya partisipasi masyarakat.
3. Yunani, Selandia Baru, dan Ghana masuk jajaran teratas

ilustrasi pasar tradisional di Ghana, Afrika (pexels.com/Zeal Creative Studios) Setelah Afrika Selatan dan Norwegia, posisi ketiga ditempati Yunani dengan tingkat partisipasi mencapai 25,8 persen. Selanjutnya, ada Selandia Baru yang berada di posisi keempat dengan persentase 24 persen. Kedua negara tersebut menunjukkan bahwa aktivitas perjudian online cukup populer di berbagai kawasan, termasuk Eropa dan Oseania. Perbedaannya dengan dua negara teratas memang cukup terlihat, tapi angkanya masih tergolong tinggi.
Menariknya, Ghana dan Hungaria sama-sama menempati posisi kelima dengan persentase 21,5 persen. Dengan demikian, enam negara pertama dalam pemeringkatan ini berasal dari kawasan yang cukup beragam. Ghana menjadi salah satu negara Afrika yang memiliki tingkat partisipasi perjudian online tinggi setelah Afrika Selatan. Sementara itu, Hungaria memperlihatkan tingginya aktivitas perjudian online di salah satu negara Eropa Tengah.
Negara lain yang juga masuk dalam 10 besar adalah Inggris dengan persentase 19,6 persen, Brasil sebesar 19 persen, Austria 18,7 persen, serta Australia dan Nigeria yang sama-sama mencatatkan 18 persen. Kehadiran Nigeria dalam daftar tersebut juga cukup menarik karena negara Afrika ini memiliki tingkat partisipasi yang relatif tinggi. Jika melihat komposisi 10 besar, kamu bisa menemukan bahwa aktivitas perjudian online dengan tingkat partisipasi tinggi gak hanya terkonsentrasi di satu kawasan.
4. Amerika Serikat ternyata hanya menempati posisi ke-38

ilustrasi Las Vegas, Amerika Serikat (pexels.com/Dave Morgan) Amerika Serikat mungkin dikenal sebagai salah satu pemain besar dalam industri perjudian global. Las Vegas menjadi salah satu destinasi kasino paling terkenal di dunia, sementara industri taruhan di negara tersebut memiliki nilai ekonomi yang besar. Namun, popularitas industri tersebut ternyata gak otomatis membuat Amerika Serikat memiliki tingkat partisipasi judi online tertinggi. Dalam pemeringkatan 48 pasar, negara ini justru hanya berada di posisi ke-38 dengan persentase 10,2 persen.
Angka tersebut bahkan lebih rendah dibandingkan beberapa negara berbahasa Inggris lainnya. Selandia Baru mencatatkan tingkat partisipasi 24 persen, Inggris 19,6 persen, dan Australia 18 persen. Sementara itu, Kanada yang merupakan negara tetangga Amerika Serikat memiliki persentase 14,3 persen. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa popularitas industri perjudian di suatu negara gak selalu mencerminkan seberapa banyak pengguna internet yang mengakses platform perjudian online.
Ada hal penting yang perlu kamu pahami ketika membaca angka-angka tersebut. Tingkat partisipasi pengguna dan besarnya pendapatan industri merupakan dua indikator yang berbeda. Amerika Serikat pernah menempati posisi kedua sebagai pasar judi online terbesar di dunia berdasarkan pendapatan pada 2021, hanya berada di bawah Inggris. Jadi, meskipun persentase pengguna yang mengakses platform judi online setiap bulan relatif rendah, nilai ekonomi industri perjudian di negara tersebut tetap bisa sangat besar.
5. Perbedaan tingkat judi online antarnegara cukup mencolok

ilustrasi online gambling, judi online, judol (magnific.com/magnific) Jika melihat seluruh 48 pasar yang diteliti, kamu akan menemukan perbedaan tingkat partisipasi yang cukup besar, bahkan di antara negara-negara dalam kawasan yang sama. Di Afrika, misalnya, Afrika Selatan memiliki tingkat partisipasi 32,3 persen, lebih dari empat kali lipat dibandingkan Maroko yang hanya mencatatkan 7,3 persen. Ghana dan Nigeria juga memiliki angka relatif tinggi, masing-masing 21,5 persen dan 18 persen. Sementara itu, Kenya berada di posisi ke-13 dengan persentase 16 persen.
Perbedaan serupa juga terlihat di Eropa. Norwegia mencatatkan tingkat partisipasi 31,2 persen, hampir tiga kali lipat dibandingkan Belanda yang berada di angka 10,9 persen. Di kawasan Amerika Selatan, Brasil menjadi negara dengan persentase tertinggi sebesar 19 persen. Angka tersebut berada di atas Chile yang mencapai 16,6 persen dan Kolombia sebesar 13,8 persen.
Sementara itu, Korea Selatan menjadi negara dengan tingkat partisipasi judi online terendah dalam pemeringkatan tersebut, yakni hanya 2,7 persen. Vietnam juga mencatatkan angka relatif rendah sebesar 5,7 persen, disusul Taiwan dengan 6,5 persen dan Rusia sebesar 7 persen. India dan Jepang masing-masing memiliki tingkat partisipasi 7,6 persen dan 7,5 persen. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kebiasaan mengakses platform perjudian online bisa sangat beragam, bahkan di negara-negara yang secara geografis berdekatan.
Dari pemeringkatan tersebut, Afrika Selatan diketahui menjadi negara dengan tingkat judi online tertinggi di dunia, mengungguli Norwegia dan Yunani. Sementara itu, Amerika Serikat yang dikenal memiliki industri perjudian bernilai besar ternyata hanya berada di posisi ke-38. Perlu diingat, angka dalam pemeringkatan ini mengukur persentase pengguna internet berusia 16 tahun ke atas yang mengakses platform perjudian online dalam satu bulan, bukan jumlah seluruh penjudi atau besarnya uang yang dipertaruhkan. Jadi, tingginya tingkat partisipasi gak selalu berarti suatu negara memiliki industri perjudian dengan pendapatan paling besar.



















