Trump Bersedia Akhiri Perang Meski Selat Hormuz Masih Ditutup

- Donald Trump dikabarkan siap mengakhiri perang dengan Iran meski Selat Hormuz masih ditutup, namun tetap berharap negosiasi agar jalur perdagangan minyak bisa kembali dibuka.
- Iran telah mengizinkan kapal dari beberapa negara seperti Indonesia, China, dan Jepang melintas di Selat Hormuz, tetapi tetap menolak akses bagi Amerika Serikat dan Israel.
- Iran menuntut pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz sebagai syarat perdamaian, namun Amerika Serikat menolak karena dianggap melanggar hukum internasional dan membahayakan stabilitas global.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan bersedia mengakhiri perang dengan Iran meski mereka masih menutup Selat Hormuz. Kabar tersebut termuat dalam laporan Wall Street Journal (WSJ) pada Senin (30/3/2026) yang dikutip oleh Jerusalem Post, Selasa (31/3/2026). WSJ sendiri mendapatkan informasi tersebut dari seorang pejabat AS.
Meski begitu, Trump disebut tetap ingin membuka Selat Hormuz yang ditutup oleh Iran. Sebab, Trump ingin membuat kapal-kapal dagang, terutama kapal minyak, dari seluruh dunia dan dari AS bisa berlayar di selat tersebut dengan bebas. Selain itu, Trump juga disebut masih ingin bernegosiasi dengan Iran agar mereka mau mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
1. Trump mulai melunak dari ancaman Iran

Sikap yang diambil Trump ini menandakan bahwa dirinya mulai melunak atas ancaman Iran. Padahal, sebelumnya, AS sangat ingin membuka Selat Hormuz yang ditutup oleh Iran. Bahkan, ia juga sempat mengajak sejumlah negara di dunia untuk mengirim pasukan ke Selat Hormuz.
Beberapa waktu lalu, sebanyak lebih dari 30 negara, termasuk Inggris, Uni Emirat Arab, Prancis, Jerman, Kanada, dan Australia telah menyatakan siap membantu AS melakukan operasi gabungan untuk mengamankan Selat Hormuz dari ancaman Iran. Kesiapan tersebut tertuang dalam pernyataan bersama yang sudah ditandatangani beberapa waktu lalu. Angkatan laut Inggris juga sudah menyatakan siap untuk memimpin operasi tersebut.
Operasi ini dilakukan agar kapal-kapal minyak bisa kembali berlayar di Selat Hormuz tanpa ancaman dari Iran. Jika kapal minyak bisa berlayar dengan bebas di selat tersebut, maka pasokan minyak dari Timur Tengah ke pasar global akan lancar. Jika pasokan lancar, maka harga minyak global akan menurun sehingga krisis energi seperti yang kini sedang terjadi bisa segera teratasi.
2. Iran sudah mengizinkan kapal dari sejumlah negara untuk melewati Selat Hormuz

Saat ini, Iran sebetulnya sudah mengizinkan kapal dari sejumlah negara untuk berlayar di Selat Hormuz. Namun, Iran tetap menutup selat tersebut untuk AS dan Israel karena mereka merupakan negara yang memicu terjadinya perang.
Ada sejumlah negara yang kini sudah mengantongi izin dari Iran agar kapalnya bisa berlayar di Selat Hormuz. Beberapa di antaranya, seperti Malaysia, Thailand, Indonesia, China, Jepang, Irak, dan Rusia.
Awalnya, kapal dari negara-negara di atas sempat tertahan di Selat Hormuz. Namun, usai melobi pemerintah Iran beberapa waktu lalu, kapal mereka kini sudah diizinkan Iran untuk berlayar dari dan ke Selat Hormuz.
3. Iran meminta kedaulatan di Selat Hormuz

Meski sudah mengizinkan sejumlah kapal berlayar, Iran tetap bersikukuh untuk menguasai Selat Hormuz. Bahkan, Iran meminta AS dan Israel untuk mengakui kedaulatan mereka di selat tersebut. Ini juga menjadi salah satu syarat yang diberikan Iran kepada AS dan Israel untuk mengakhiri perang.
Namun, Negeri Paman Sam menolak mentah-mentah permintaan Iran untuk menguasai Selat Hormuz. Sebab, menurut AS, tindakan tersebut ilegal dan melanggar hukum internasional.
“Ini bukan hanya ilegal, tetapi juga tidak dapat diterima, berbahaya bagi dunia, dan penting bagi dunia untuk memiliki rencana untuk menghadapinya,” kata Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, seperti dilansir CNN.


















