Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Israel Genjot Produksi Senjata di Tengah Perang Lawan Iran

Israel Genjot Produksi Senjata di Tengah Perang Lawan Iran
Iron Dome milik Israel (Israel Defense Forces, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Kementerian Pertahanan Israel menandatangani kontrak 48 juta dolar AS dengan Elbit Systems untuk meningkatkan produksi peluru artileri dan amunisi pertahanan udara di tengah perang melawan Iran dan Hizbullah.
  • Parlemen Israel menyetujui anggaran 2026 senilai 699 miliar shekel, dengan 143 miliar shekel dialokasikan untuk sektor pertahanan, mencatat lonjakan belanja militer hingga 120 persen dibandingkan sebelum perang Gaza.
  • Stok rudal pencegat Israel menipis setelah menghadapi lebih dari 400 serangan rudal Iran, memaksa penggunaan sistem David’s Sling guna menghemat rudal Arrow yang bernilai tinggi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Kementerian Pertahanan Israel, pada Senin (30/3/2026), menyepakati kontrak 48 juta dolar AS (Rp816 miliar) dengan Elbit Systems untuk memproduksi puluhan ribu peluru artileri 155 mm. Produksi amunisi sistem pertahanan udara juga ditingkatkan hingga tiga kali lipat di tengah eskalasi perang melawan Iran dan Hizbullah.

Langkah ini diambil untuk menjaga pasokan senjata saat cadangan amunisi militer dilaporkan mulai menipis. Guna mendanai kebutuhan perang, parlemen Israel baru saja mengesahkan rekor anggaran pertahanan tertinggi dalam sejarah negara itu.

1. Ribuan pekerja dikerahkan untuk tingkatkan produksi amunisi

ilustrasi bendera Israel. (unsplash.com/Taylor Brandon)
ilustrasi bendera Israel. (unsplash.com/Taylor Brandon)

Stok peluru artileri Israel diproduksi di berbagai fasilitas milik Elbit yang tersebar di seluruh negeri. Ribuan pekerja dikerahkan untuk beroperasi selama 24 jam penuh dalam tiga shift di bawah pengawasan kementerian.

Tingkat produksi amunisi diproyeksikan dapat melonjak hingga empat kali lipat dari batas normal menjelang liburan Paskah Yahudi. Israel sebenarnya telah mempersiapkan bahan baku untuk peningkatan ini sejak perang Iran-Israel Juni 2025.

Selain memproduksi secara mandiri, Israel juga menerima sekitar 8 ribu ton bantuan senjata dan perlengkapan militer sejak 28 Februari. Sebagian besar bantuan dikirim langsung oleh Amerika Serikat (AS) dan Jerman.

"Kami kini bekerja untuk mengisi kembali semua amunisi yang terpakai agar siap menghadapi skenario apa pun," tutur Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan Israel, Amir Baram, dilansir The New Arab.

2. Anggaran pertahanan Israel tembus rekor baru

pasukan Israel di Sungai Litani, Lebanon
pasukan Israel di Sungai Litani, Lebanon (wikimedia/ / IDF Spokesperson's Unit)

Parlemen Israel baru saja menyetujui anggaran negara tahun 2026 senilai 699 miliar shekel atau sekitar Rp3,7 kuadriliun. Sektor pertahanan mendominasi alokasi dana dengan nilai mencapai 143 miliar shekel (sekitar Rp767 triliun).

Angka belanja militer meroket tajam sebesar 120 persen dibandingkan periode 2023 sebelum meletusnya perang Gaza. Pemerintah Israel juga menyiapkan tambahan dana cadangan senilai 6 miliar shekel (Rp32,2 triliun) untuk membiayai perang melawan Iran.

Suntikan dana ekstra difokuskan untuk memperbarui inventaris militer sekaligus membayar gaji tentara cadangan. Lonjakan pengeluaran pertahanan ini memaksa pemerintah menetapkan target defisit anggaran sebesar 4,9 persen dari produk domestik bruto.

Pemerintah Israel menutup defisit lewat penerbitan utang baru dan pemangkasan belanja kementerian sipil secara merata sebesar tiga persen. Pengesahan undang-undang anggaran ini sekaligus mencegah kejatuhan kabinet koalisi pada akhir bulan Maret.

3. Israel mulai kehabisan stok amunisi pencegat

Iron Dome milik Israel
Iron Dome milik Israel (Israel Defense Forces from Israel, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Produksi senjata dikebut setelah Israel menembakkan banyak misil pencegat untuk menghalau lebih dari 400 rudal balistik Iran. Lembaga riset RUSI menaksir 81,33 persen stok rudal Arrow Israel telah menipis dan diproyeksikan bakal benar-benar habis pada akhir Maret.

Militer Israel terpaksa memakai sistem David's Sling untuk menghemat rudal Arrow 3 yang harganya mencapai 2 juta dolar AS (Rp33 miliar) per unit. Pasukan AS-Israel diperkirakan telah menembakkan 11.294 amunisi senilai 26 miliar dolar AS (Rp441 triliun) dalam 16 hari pertama perang.

Pertempuran masih berlanjut setelah Iran menolak proposal perdamaian 15 poin dari AS. Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan fasilitas listrik dan kilang minyak Iran jika gencatan senjata tertunda. Konflik ini tercatat telah merenggut sedikitnya 1.340 korban jiwa di pihak Iran.

"Tuntutan pihak Amerika Serikat merupakan sesuatu yang berlebihan, tidak realistis, dan irasional," ungkap Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, dilansir The Guardian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More