Eks Tentara Merah Jepang Meninggal Tersedak Makanan di Penjara Fuchu

Jakarta, IDN Times - Mantan militan Tentara Merah Jepang (JRA), Tsutomu Shirosaki, meninggal dunia di Penjara Fuchu, Tokyo, kata sumber investigasi pada Minggu (21/7/2024).
Pria berusia 76 tahun tersebut meninggal pada Sabt, setelah tersedak makanan saat makan malam. Shirosaki pernah terlibat dalam serangan roket mematikan pada 1986 di Kedutaan Besar (Kedubes) Jepang di Jakarta, dilansir Asahi Shimbun.
Pada 2018, Pengadilan Tinggi Tokyo menguatkan putusan pengadilan yang lebih rendah, yang menjatuhkan hukuman 12 tahun penjara kepada Shirosaki karena berkonspirasi dengan seseorang untuk menembakkan dua roket ke arah Kedubes Jepang di Indonesia.
1. Pembebasan dan upaya penangkapan Shirosaki
Saat masih menjalani hukuman atas perampokan dan kejahatan lainnya, Shirosaki dibebaskan dari penjara Jepang pada 1977. Ini merupakan upaya pemerintah Jepang sebagai tanggapan atas insiden pembajakan pesawat jet Japan Airlines (JAL) oleh JRA di Dhaka, ibu kota Bangladesh, dan menuntut pembebasan tahanan.
Pada 1996, ia ditangkap di Nepal dan dikirim ke Amerika Serikat (AS). Lalu, ia divonis 30 tahun penjara atas serangan roket terpisah pada 1986 di Kedubes AS di Jakarta, yang dilakukan bersamaan dengan serangan terhadap Kedubes Jepang.
Pada 2015, ia dibebaskan dari penjara, setelah terbukti menjadi narapidana teladan. Pada tahun yang sama, Shirosaki dideportasi dari AS dan ditangkap saat tibanya di Jepang oleh polisi Tokyo. Ia dijatuhi hukuman penjara karena percobaan pembunuhan dan kejahatan lainnya terkait insiden di Jakarta.
2. Tentara Merah Jepang pernah terlibat dalam serangkaian pembajakan pesawat

Dilansir dari laman resmi Badan Kepolisian Nasional (NPA) Jepang, Tentara Merah Jepang adalah organisasi teroris internasional yang didirikan oleh sekelompok ekstremis yang melakukan kejahatan berat. Fusako Shigenobu merupakan pendiri kelompok tersebut.
Organisasi ini dibentuk di luar negeri, setelah para anggotanya melarikan diri dari Negeri Sakura guna mencari basis bagi kegiatan revolusioner mereka sambil mendukung 'Rencana Pembangunan Pangkalan Internasional'. Mereka mendirikan basis aktivitas di Timur Tengah, setelah menjalin kontak dengan Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP).
Pada 1972, tiga anggota JRA secara acak menembakkan senapan otomatis ke Bandara Tel Aviv Lod di Israel, yang sekarang menjadi Bandara Internasional Ben Gurion. Insiden tersebut menewaskan 24 orang dan menyebabkan 76 orang lainnya mengalami luka ringan hingga serius.
Sejak insiden itu, JRA telah melakukan serangkaian kejahatan kejam di seluruh dunia, seperti merebut kedutaan asing dan membajak pesawat. Di antara insiden tersebut, Jepang dipaksa membebaskan para anggota JRA yang dipenjara atau ditahan dalam sebuah insiden, di mana Kedubes AS dan fasilitas lainnya di Kuala Lumpur, Malaysia diduduki oleh para anggota JRA pada 1975.
3. Setelah dipenjara selama 20 tahun, eks pendiri JRA dibebaskan pada 2022

Pada 2000, polisi menangkap Shigenobu di Osaka. Di balik jeruji, ia mengumumkan pembubaran JRA pada April 2001. Setelah menjalani hukuman 20 tahun penjara karena mendalangi penyitaan Kedubes Prancis di Den Haag, Belanda pada 1974, Shigenobu dibebaskan dari penjara pada Mei 2022.
Belasan anggota Tentara Merah Jepang telah ditangkap selama bertahun-tahun, namun perburuan Jepang terhadap 7 orang lainnya masih terus berlanjut.
Departemen Kepolisian Tokyo pada Februari 2022 sempat mengeluarkan video dan memperbarui gambar para militan yang kini berusia 70-an untuk memberikan gambaran perkiraan tentang bagaimana penampilan mereka sekarang, dikutip dari Kyodo News.


















