Eropa Luncurkan 2 Satelit Canggih Pemantau Tanaman dan Lautan

- ESA meluncurkan satelit FLEX dan Sentinel-3C dengan roket Vega-C dari Guiana Prancis ke orbit sinkron matahari; sinyal perdana keduanya telah diterima.
- FLEX mengukur fluoresensi tanaman untuk menilai fotosintesis, stres vegetasi, produktivitas ekosistem, serta peran tanaman dalam siklus karbon dan air.
- Sentinel-3C memantau laut, daratan, es, vegetasi, dan air pedalaman; datanya mendukung pemahaman krisis iklim serta peningkatan hasil pertanian.
Jakarta, IDN Times - Badan Antariksa Eropa (ESA) meluncurkan dua satelit pemantau Bumi, yakni FLEX dan Sentinel-3C, menggunakan roket Vega-C dari Pusat Antariksa Kourou di Guiana Prancis, pada Selasa (15/9/2026), pukul 01.21 GMT atau Senin (14/9/2026), pukul 22.21 waktu setempat. Misi antariksa ini ditujukan untuk meningkatkan pemantauan terhadap krisis iklim serta dampak nyata yang ditimbulkannya pada tumbuhan dan perairan laut dunia.
Melalui penerbangan berkode VV30, kedua wahana antariksa tersebut berhasil meluncur ke orbit sinkron matahari (sun-synchronous orbit). Pusat Operasi Antariksa Eropa di Jerman mengonfirmasi bahwa mereka telah menerima sinyal perdana dari masing-masing satelit sebagai tanda bahwa pemisahan berlangsung aman.
1. Misi FLEX untuk meneliti fotosintesis dan kesehatan tanaman

ilustrasi menyiram tanaman (pexels.com/Karola G) Satelit FLEX, singkatan dari Fluorescence Explorer, menjadi satelit pertama ESA yang dirancang khusus untuk mengukur aktivitas fotosintesis dari antariksa. Instrumen Fluorescence Imaging Spectrometer pada satelit ini bertugas mendeteksi pendaran cahaya merah redup yang dipancarkan tanaman saat menyerap sinar matahari. Sebagaimana dilansir TRT World, kepala program FLEX Thierry Huiban mengatakan kepada AFP bahwa misi ini bertujuan menetapkan dan mengukur hubungan antara tingkat stres tanaman dan fluoresensi.
Pendaran tersebut tidak kasatmata bagi mata manusia, tetapi menjadi petunjuk langsung mengenai seberapa efisien tanaman mengubah cahaya dan karbon dioksida menjadi energi. Pengukuran ini akan membantu para ilmuwan menilai kesehatan vegetasi, produktivitas ekosistem, serta ancaman akibat gelombang panas dan perubahan iklim global. Data tersebut juga diharapkan dapat memperdalam pemahaman mengenai peran fotosintesis dalam siklus karbon dan air di Bumi.
2. Peran Sentinel-3C dalam mengamati laut dan daratan

ilustrasi laut (pexels.com/Sindre Fs) Sentinel-3C merupakan satelit ketiga dalam seri Sentinel-3 yang menjadi bagian dari Copernicus, program pengamatan Bumi milik Uni Eropa. Satelit ini bertugas mengamati kondisi kelautan secara berkala, seperti suhu permukaan laut, ketinggian gelombang, arus samudera, hingga warna air laut. Selain memantau perairan laut, instrumen satelit ini juga mengumpulkan data kondisi daratan, tutupan es, vegetasi, serta ketinggian air pedalaman.
Pengumpulan data daratan dan vegetasi tersebut akan dimanfaatkan untuk membantu meningkatkan hasil panen pertanian sekaligus menekan risiko krisis pangan. Direktur Program Pengamatan Bumi ESA Simonetta Cheli menegaskan bahwa misi pengamatan ini sangat penting untuk memahami sekaligus menanggapi krisis iklim dunia. "Peluncuran hari ini adalah puncak dari inovasi ilmiah, keunggulan rekayasa teknik, dan kerja sama internasional selama bertahun-tahun," ujar Cheli.
3. Keandalan roket Vega-C dalam mengorbitkan dua satelit

ilustrasi roket (unsplash.com/Stephen Cobb) Kedua satelit tersebut diluncurkan secara bersamaan dengan adaptor khusus bernama Vespa yang menyusun dua wahana di dalam selubung pelindung (fairing) roket Vega-C. Sentinel-3C diposisikan pada bagian atas adaptor dan dilepaskan lebih dahulu ke orbit, kemudian disusul oleh satelit FLEX sekitar satu jam berikutnya. Roket seberat 210 ton tersebut memiliki tiga tahap pendorong berbahan bakar padat dan satu tahap berbahan bakar cair yang mampu membawa muatan seberat 2.300 kilogram ke orbit rendah Bumi.
Misi Sentinel-3 dikelola bersama oleh ESA dan Eumetsat; Eumetsat bertanggung jawab atas operasi rutin satelit Sentinel-3C, sedangkan ESA memasok produk darat, kriosfer, air pedalaman, dan atmosfer offline. Kendali satelit FLEX tetap berada di bawah ESA. Satelit FLEX dijadwalkan mengorbit secara beriringan dengan Sentinel-3A, kemudian Sentinel-3C akan dipindahkan untuk menggantikan Sentinel-3A dalam formasi tandem tersebut. Penataan formasi beriringan ini memudahkan para ilmuwan memadukan data pendaran tanaman milik FLEX dengan data atmosfer dan suhu daratan dari Sentinel-3.



















