Filipina Tangkap Eks Jenderal yang Serukan Penggulingan Presiden

- Romeo Poquiz ditangkap di Bandara Manila atas tuduhan hasutan dan pemberontakan
- Tuduhan terhadap Poquiz berkaitan dengan seruan untuk menarik dukungan militer dari Presiden Marcos
- Pemerintah Filipina tegaskan prosedur hukum berjalan sesuai aturan
Jakarta, IDN Times - Polisi Filipina menangkap mantan Jenderal Angkatan Udara Romeo Poquiz di Bandara Internasional Manila atas tuduhan hasutan, pada Senin (5/1/2026). Penangkapan dilakukan sesaat setelah Poquiz kembali dari liburan di Thailand.
Menurut pihak berwenang, Poquiz diduga mendorong anggota militer untuk menarik dukungan terhadap Presiden Ferdinand Marcos Jr., di tengah skandal korupsi besar yang tengah melanda pemerintahan Filipina. Otoritas keamanan menyatakan bahwa penyelidikan terhadap dugaan keterlibatan Poquiz akan terus berlanjut untuk menentukan motif serta jaringan yang terlibat.
1. Romeo Poquiz ditangkap di Bandara Manila atas tuduhan hasutan dan pemberontakan
Mantan Jenderal Angkatan Udara Filipina, Romeo Poquiz, ditangkap oleh Kelompok Deteksi dan Penyelidikan Pidana Kepolisian Nasional Filipina (PNP-CIDG) pada Senin pagi (5/1/2026) sekitar pukul 08.11 waktu setempat, di Terminal 3 Bandara Internasional Ninoy Aquino (NAIA), Manila.
Penangkapan Poquiz didasarkan pada surat perintah yang dikeluarkan Pengadilan Daerah Quezon City Cabang 77 pada 5 Desember 2025, terkait kasus hasutan dan pemberontakan. Ia baru tiba dari liburan keluarga di Bangkok, Thailand, sebelum langsung dibawa ke Markas PNP di Camp Crame, Manila, untuk proses administrasi dan selanjutnya akan dipresentasikan ke pengadilan.
“Ia ditangkap atas tuduhan hasutan yang berkaitan dengan pernyataan publiknya baru-baru ini. Penangkapan dilakukan sesaat setelah tiba dari Bangkok pagi ini,” ujar Menteri Dalam Negeri Filipina, Jonvic Remulla, dikutip Channel News Asia.
2. Tuduhan terhadap Poquiz berkaitan dengan seruan untuk menarik dukungan militer dari Presiden Marcos
Tuduhan terhadap Romeo Poquiz berawal dari aksi protes antikorupsi yang diselenggarakan oleh kelompoknya pada November 2025 di Monumen People Power, Manila. Dalam aksi tersebut, Poquiz secara terbuka meminta militer untuk menarik dukungan terhadap Presiden Ferdinand Marcos Jr., di tengah skandal korupsi proyek pengendalian banjir senilai miliaran dolar.
Poquiz diketahui menjabat sebagai koordinator kelompok Inisiatif Rakyat Bersatu (United People’s Initiative/UPI), organisasi beranggotakan perwira militer pensiunan yang vokal mengkritik kebijakan pemerintah. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Filipina, Jenderal Romeo Brawner, sebelumnya menyatakan bahwa militer aktif menolak ajakan perwira pensiunan seperti Poquiz yang dinilai berpotensi memecah belah kesatuan angkatan bersenjata.
“Saya ditangkap oleh Kepolisian Nasional Filipina di terminal bandara. Hidup rakyat Filipina!” tulis Poquiz melalui unggahan di Facebook, dilansir TRT World.
3. Pemerintah Filipina tegaskan prosedur hukum berjalan sesuai aturan
Ferdinand Topacio, pengacara Romeo Poquiz, menyatakan bahwa dirinya belum diizinkan bertemu dengan kliennya sejak penangkapan pada Senin pagi. Ia menegaskan bahwa seruan Poquiz kepada militer tidak dimaksudkan sebagai ajakan pemberontakan, melainkan sebagai diskusi publik mengenai dampak korupsi terhadap pemerintahan.
“Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah lebih memilih membungkam mereka yang berbicara tentang kesalahan daripada menindak para pelaku korupsi yang sebenarnya,” ujar Topacio, dikutip Channel News Asia.
Sementara itu, Kepala Polisi sementara Jose Nartatez mengonfirmasi penangkapan Poquiz dalam konferensi pers di Camp Crame, dan menegaskan bahwa seluruh prosedur hukum telah dijalankan sesuai standar. Di sisi lain, Jenderal Romeo Brawner mengungkapkan bahwa perwira militer pensiunan seperti Poquiz pernah berusaha mendekati perwira muda untuk mendorong kudeta atau junta militer demi melakukan “reset” terhadap masyarakat Filipina.

















