Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Fokus Perangi Iran, AS Bakal Kurangi Bantuan Militer untuk Ukraina

Fokus Perangi Iran, AS Bakal Kurangi Bantuan Militer untuk Ukraina
potret bendera Amerika Serikat (unsplash.com/Tim Mossholder)
Intinya Sih
  • Amerika Serikat berencana mengurangi bantuan militer untuk Ukraina karena ingin memusatkan fokus pada konflik dengan Iran di Timur Tengah.
  • Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy khawatir pengurangan bantuan ini akan melemahkan pertahanan negaranya terhadap serangan Rusia.
  • Perang antara Iran, AS, dan Israel masih berlangsung tanpa kesepakatan damai, setelah Iran menolak proposal perdamaian yang diajukan Washington.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat dilaporkan berencana mengurangi bantuan militer untuk Ukraina. Menurut laporan Washington Post pada Kamis (26/3/2026) yang dikutip Jerusalem Post, Jumat (27/3/2026), Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) saat ini juga sedang mempertimbangkan hal tersebut.

Pengurangan bantuan militer ini meliputi berbagai jenis senjata yang selama ini dikirim ke Ukraina untuk membantu melawan pasukan Rusia. Salah satunya adalah sistem pertahanan udara. Sistem tersebut sangat penting bagi Ukraina untuk menghalau serangan drone dari Rusia. 

Menurut Pentagon, pengurangan bantuan militer untuk Ukraina dilakukan karena AS ingin fokus berperang melawan Iran di Timur Tengah. Terlebih, perang antara kedua negara tersebut kini juga makin intens. Sebab, Iran tidak kunjung mengaku kalah meski sudah dipaksa oleh Presiden AS, Donald Trump.  

1. Volodymyr Zelenskyy sudah khawatir AS akan mengurangi bantuan militer untuk Ukraina

Volodymyr Zelenskyy sedang berada di kantornya.
potret Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy (flickr.com/President Of Ukraine via commons.wikimedia.org/President Of Ukraine)

Rencana pengurangan bantuan militer AS ini sebetulnya sudah dikhawatirkan oleh Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, sejak lama. Pada awal Maret 2026 lalu, Zelenskyy menyebut konflik di Timur Tengah yang dipicu perang antara Iran dengan AS dan Israel bisa berdampak buruk bagi negaranya. Sebab, ia menilai konflik ini bisa mengalihkan perhatian sekutu-sekutu Ukraina, termasuk AS, untuk membantu melawan Rusia. 

Dalam pernyataannya, Zelenskyy mengaku khawatir Ukraina akan kehilangan bantuan senjata dari AS. Sebab, AS yang menjadi pemasok senjata utama bagi Ukraina kini sedang fokus berperang dengan Iran. Oleh karena itu, Negeri Paman Sam tentu butuh pasokan senjata yang memadai untuk diri sendiri.

"Kita mungkin akan kesulitan mendapatkan rudal dan senjata untuk mempertahankan wilayah udara kita. Amerika (Serikat) dan sekutu mereka di Timur Tengah mungkin membutuhkan senjata untuk membela diri. Misalnya, rudal Patriot," kata Zelenskyy, seperti dilansir BBC.

2. Zelenskyy ingin perang Iran segera usai

Keir Starmer dan Volodymyr Zelenskyy sedang melakukan pertemuan.
potret Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer (kiri) dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy (kanan) (flickr.com/Simon Dawson via commons.wikimedia.org/Simon Dawson)

Oleh karena itu, Zelenskyy berharap perang antara Iran dengan AS dan Israel yang terjadi di Timur Tengah segera berakhir. Sebab, jika perang berlanjut, situasi di kawasan tersebut bisa makin kacau sehingga mengancam perdamaian dunia.

Selain itu, jika perang terus terjadi, AS dan sekutu yang lain bisa saja melupakan Ukraina. Tanpa AS dan bantuan dari negara lain, Ukraina tidak akan sanggup melawan Rusia.

“Saya berharap krisis Iran tetap menjadi operasi terbatas dan tidak berubah menjadi perang yang berkepanjangan. Kita tahu sendiri betapa berdarahnya perang itu," lanjut Zelenskyy.

3. Perang antara Iran dengan AS dan Israel masih berlanjut

Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
ilustrasi perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)

Sebagai informasi, perang antara Iran dengan AS dan Israel kini masih berlangsung dan sudah memasuki pekan ke-4. Untuk mengakhiri perang, beberapa waktu lalu, AS sudah mengirim proposal perdamaian ke Iran. Namun, proposal itu ditolak oleh Iran karena dianggap hanya menguntungkan AS. 

Di sisi lain, Presiden Trump juga sudah memaksa Iran untuk menyerah. Sebab, menurutnya, Iran sudah kalah secara militer. Trump juga mengancam akan menyerang Iran dengan kekuatan yang lebih besar jika Iran tidak kunjung mengaku kalah. 

“Presiden (Donald) Trump tidak main-main dan dia siap untuk melepaskan malapetaka. Iran tidak boleh salah perhitungan lagi. Jika Iran gagal menerima realitas situasi saat ini, jika mereka gagal memahami bahwa mereka telah dikalahkan secara militer, dan akan terus dikalahkan, Presiden Trump akan memastikan mereka dihantam lebih keras daripada yang pernah mereka alami sebelumnya,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada Rabu (25/3/2026), seperti dilansir The Strait Times.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in News

See More