Hacker Iran Retas Ponsel Eks Kepala Militer Israel, Curi 19 Ribu File

- Grup peretas Iran bernama Handala mengklaim meretas ponsel eks Kepala Staf Militer Israel, Herzi Halevi, mencuri 19 ribu file sensitif berisi foto, video, dan dokumen rahasia militer.
- Kebocoran data menyingkap pertemuan rahasia Halevi dengan pejabat militer Amerika Serikat dan Yordania, serta kunjungan diplomatiknya ke Abu Dhabi yang sebelumnya tidak pernah diumumkan publik.
- Pakar siber menduga serangan Handala memakai teknik rekayasa sosial atau eksploitasi akun cloud pribadi Halevi, bukan menembus jaringan militer langsung, menunjukkan ancaman serius perang siber modern.
Jakarta, IDN Times- Grup peretas asal Iran bernama Handala mengklaim telah meretas ponsel mantan Kepala Staf Militer Israel, Herzi Halevi pada Kamis (9/4/2026). Mereka berhasil mencuri 19 ribu file sensitif yang mencakup foto dan video rahasia.
Operasi peretasan ini dikabarkan telah berlangsung secara rahasia selama bertahun-tahun. Insiden ini menjadi salah satu kebocoran data keamanan paling parah bagi pejabat militer Israel.
1. Handala curi file pribadi hingga sensitif

Dokumen yang diretas mencakup foto fasilitas militer rahasia dan peta strategis keamanan. Peretas juga mendapatkan akses ke detail tata letak pusat komando dan ruang krisis militer Israel.
Kebocoran siber ini turut mengekspos kehidupan pribadi Halevi beserta keluarganya. Grup tersebut merilis foto paspor milik Halevi dan istrinya serta video aktivitas di dalam rumah.
Handala mengklaim memiliki data identitas jelas dari para pilot dan komandan senior Israel. Mereka berencana memublikasikan wajah para pejabat militer tersebut satu per satu.
"Setiap wajah, setiap komandan, dan setiap pilot kriminal, jelas dan tidak kabur, ada di tangan kami dan akan diungkapkan satu per satu pada saat yang tepat," bunyi pernyataan Handala, dilansir Anadolu Agency.
2. Ungkap pertemuan rahasia di Qatar dan Yordania

Data yang bocor mengungkap aktivitas diplomasi rahasia yang tidak pernah diumumkan ke publik. Salah satu foto menunjukkan Halevi bertemu dengan mantan kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), Michael Kurilla, di Qatar.
Pertemuan tersebut diperkirakan terjadi dalam rentang waktu antara Januari 2023 hingga Agustus 2025. Halevi sendiri diketahui telah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai kepala staf militer Israel pada Maret 2025.
Data lain menampilkan video pertemuan Halevi dengan Kepala Militer Yordania, Yousef Huneiti, di Yordania. Dalam video itu, Halevi menyerahkan sebuah belati milik tentara Yordania yang tewas pada Perang Enam Hari 1967.
Dokumen peretasan Handala juga memperlihatkan Halevi melakukan kunjungan ke Masjid Agung Sheikh Zayed di Abu Dhabi. Semua agenda rahasia mancanegara ini terbongkar melalui rekaman visual yang tersimpan dari perangkat pribadinya.
3. Peretasan diduga memanfaatkan rekayasa sosial

Pakar keamanan siber menilai peretasan ini tidak menembus jaringan militer rahasia secara langsung. Serangan Handala kemungkinan besar menggunakan teknik rekayasa sosial atau eksploitasi kata sandi layanan cloud.
Kepala Staf Check Point, Gil Messing, menduga peretas menyusup ke akun surel pribadi milik Halevi. Mereka kemudian secara sabar menyimpan materi tersebut dan menunggu momen yang tepat untuk menyebarkannya kepada publik.
Handala memang memiliki rekam jejak panjang dalam menargetkan pejabat tinggi keamanan Israel. Sebelumnya, mereka telah membocorkan data pribadi mantan Perdana Menteri (PM) Israel Naftali Bennett dan mantan Direktur Mossad Tamir Pardo.
"Meskipun ada gencatan senjata dalam perang kinetik tidak berarti perang siber ikut berhenti," ucap Messing, dilansir Ynetnews.

















