Heboh! Menara Eiffel Ditutup Usai Pekerja Perempuan Disingkirkan

Jakarta, IDN Times – Staf Menara Eiffel menggelar aksi mogok kerja hingga membuat ikon Kota Paris itu ditutup total pada Senin (7/9/2026). Aksi ini dipicu oleh dugaan pemindahan pekerja perempuan dari pos mereka saat kelompok keagamaan Hindu, Bochasanwasi Akshar Purushottam Swaminarayan Sanstha (BAPS), berkunjung pada Sabtu (5/9/2026).
Perwakilan serikat pekerja, Diane Davoine, menyampaikan kepada media televisi Prancis bahwa staf perempuan dipindahkan dari tempat kerja saat delegasi melintas. Rombongan sekitar 100 orang tersebut datang setelah meresmikan kuil baru di dekat Paris pada akhir pekan. Sementara itu, situs resmi Menara Eiffel mengumumkan penutupan terjadi akibat kondisi luar biasa dan meminta pemegang tiket memeriksa surel mereka.
Seorang perwakilan staf menyampaikan bahwa menara akan kembali dibuka seperti biasa pada Selasa (8/9/2026). Pernyataan tersebut disampaikan usai penutupan akibat aksi mogok kerja staf.
1. Pengelola Menara Eiffel akui adanya pengaturan kunjungan

Menara Eiffel (pexels.com/Efrem Efre) Para karyawan mengeluarkan pernyataan yang mengecam instruksi tempat kerja tersebut karena membuat pekerja perempuan disingkirkan, digantikan, dan dibuat tak terlihat hanya karena gender mereka. Perusahaan Pengelola Menara Eiffel (SETE) membenarkan bahwa delegasi tersebut meminta agar kunjungan diatur demi membatasi interaksi dengan perempuan.
SETE menyatakan persyaratan tersebut seharusnya tidak disetujui karena bertentangan dengan nilai-nilai perusahaan serta prinsip kesetaraan gender. Presiden SETE Ariel Weil mengatakan kepada AFP bahwa pihak perusahaan akan mengusut tuntas kejadian ini dan mengambil langkah tegas yang diperlukan.
Serikat pekerja Confédération Générale du Travail (CGT) turut membeberkan detail instruksi tersebut kepada publik. CGT menyebut sejumlah staf perempuan diminta meninggalkan pos lalu dipindahkan ke area lain, sementara posisi mereka digantikan oleh staf pria. Seluruh karyawan perempuan juga dilarang melintasi area tertentu selama delegasi berada di lokasi.
2. BAPS atur kunjungan Menara Eiffel bersama pengelola

Menara Eiffel (pexels.com/Maurijn Pach) Kunjungan tersebut berlangsung bersamaan dengan prosesi perahu budaya di Sungai Seine yang diselenggarakan oleh BAPS. Kelompok ini dikenal dekat dengan partai penguasa Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi dan baru saja meresmikan kuil besar pertamanya di Prancis. Kuil Hindu BAPS di Paris menyatakan telah menanggapi persoalan ini secara serius serta memohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan.
Pihak BAPS menjelaskan bahwa kunjungan tersebut telah disusun bersama tim Menara Eiffel pada awal jam buka normal mengingat besarnya jumlah rombongan. Pengaturan itu diklaim bertujuan untuk menghindari gangguan bagi pengunjung lain. BAPS juga menambahkan bahwa sejauh pengetahuan mereka tidak ada seorang pun yang dilarang mengakses menara, dan mereka tetap menjunjung nilai universal saling menghormati.
Wali Kota Paris Emmanuel Grégoire menegaskan melalui platform X bahwa ia memahami kemarahan para karyawan dan menilai pengaturan semacam itu sangat tidak bisa diterima. Menurut Grégoire, tindakan tersebut mencoreng nilai-nilai yang diusung Menara Eiffel, di mana setiap orang seharusnya bebas bergerak tanpa diskriminasi gender. Ia memastikan proses investigasi telah dimulai untuk mengusut kejadian ini.
3. Pejabat Prancis tegas tolak pembatasan perempuan

Bendera Prancis (pexels.com/Atypeek Dgn) Presiden Majelis Nasional Yaël Braun-Pivet mengecam keras penyesuaian aturan yang menuruti permintaan pengunjung asing tersebut.
"Saya menolak menerima bahwa perempuan disuruh menyingkir untuk memenuhi permintaan pengunjung asing. Menyambut orang lain tak pernah berarti melepaskan nilai-nilai kita. Di Prancis, perempuan sepenuhnya hadir dalam kehidupan publik. Tak ada yang boleh menyuruh mereka menjadi tak terlihat," kata Braun-Pivet, dikutip Euro News.
Menteri Kesetaraan Prancis Aurore Bergé turut menyuarakan nada serupa lewat media sosialnya.
"Di Prancis, kami tak meminta perempuan untuk menghapus diri mereka sendiri. Tak ada dogma, tak ada agama yang berada di atas hukum Republik," tulis Bergé di X, dikutip France 24.
Pemimpin sayap kanan Marine Le Pen menegaskan bahwa Prancis tidak akan pernah menoleransi pembatasan terhadap kehadiran perempuan di ruang publik. Sementara itu, eks PM Gabriel Attal menambahkan bahwa di Prancis tidak ada budaya, keyakinan, maupun agama apa pun yang berhak mendikte posisi perempuan.






.jpg)















