Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kepala BGN: Program Literasi Gizi MBG Bukan Berarti Guru Ikut Urus Ompreng

Kepala BGN: Program Literasi Gizi MBG Bukan Berarti Guru Ikut Urus Ompreng
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono saat ditemui di Kantor Kemendagri, Jakarta (13/8/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
  • BGN menegaskan guru dalam program MBG bertugas memberi edukasi gizi, bukan mengurus ompreng siswa.
  • BGN menggandeng Kemendikdasmen dan menargetkan sekitar 3,5 juta guru memperoleh literasi gizi secara daring.
  • Portal Radar MBG disiapkan agar masyarakat dapat memantau menu, kandungan gizi, dan SPPG pelaksana program.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, apa fokus utama guru saat MBG?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengatakan program literasi gizi dalam pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak berarti guru ikut mengurus wadah makan atau ompreng siswa. Guru justru dilibatkan untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya asupan bergizi kepada siswa.

Sudaryono mengatakan guru akan makan bersama siswa saat jam istirahat. Momen tersebut dimanfaatkan sebagai sarana memberikan pemahaman sederhana mengenai kandungan, dan manfaat makanan yang dikonsumsi siswa.

"Jadi bukan kok guru itu suruh ngurus ompreng, gak ada. Jadi di setiap sekolah itu ada PIC sekolah yang ada insentifnya. Yang dia ngurus ompreng, dia memastikan, dia juga ada tugas-tugas, ada poin-poin yang harus dia kerjakan," ujar Sudaryono kepada jurnalis di Kantor Kemendagri, Jakarta, Kamis (13/8/2026).

Menurut Sudaryono, guru memiliki peran berbeda, yakni mendampingi siswa makan sekaligus memberikan literasi gizi. Edukasi tersebut dapat dilakukan dengan cara sederhana, misalnya, menjelaskan kandungan protein dalam telur maupun manfaat serat dari sayuran.

  1. 1. Meluruskan berbagai isu soal gizi

    Kepala BGN: Program Literasi Gizi MBG Bukan Berarti Guru Ikut Urus Ompreng
    Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono ketika memberikan keterangan di kantor BGN. (IDN Times/Santi Dewi)

    Sudaryono menilai literasi gizi penting karena masih terdapat anggapan keliru mengenai makanan di sejumlah daerah. Salah satunya anggapan mengonsumsi telur dapat menyebabkan bisul.

    "Misalnya ada yang bilang lontarkan makan telur bikin bisulan. Mungkin orang kota ini tertawa, 'ah gak bener tuh Pak Kepala Badan'. Kenyataannya di daerah itu masih banyak orang yang menganggap bahwa makan telur bikin bisul," katanya.

    Karena itu, guru dinilai dapat membantu meluruskan pemahaman tersebut kepada siswa. Guru dapat menjelaskan telur merupakan sumber protein, dan sayuran memiliki serat yang dibutuhkan tubuh.

    Sudaryono mengatakan materi mengenai gizi selama ini belum secara spesifik menjadi bagian tersendiri dalam pembelajaran di jenjang SD, SMP, maupun SMA. Karena itu, BGN ingin menjadikan program MBG sekaligus momentum untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai gizi.

    "Saya kira ini menjadi penting karena literasi gizi ini menjadi salah satu modal kita memahami gizi. Dengan memahami gizi maka kita bisa mengerti apa sebetulnya esensi yang dibutuhkan tubuh kita," ujarnya.

    Sudaryono mengatakan program tersebut tidak dapat mengubah kebiasaan dalam waktu singkat. Karena itu, edukasi gizi akan dilakukan secara berkelanjutan.

  2. 2. BGN targetkan 3,5 juta guru dapat literasi gizi

    Kepala BGN: Program Literasi Gizi MBG Bukan Berarti Guru Ikut Urus Ompreng
    Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono meresmikan Pusat Pelayanan Terpadu dan Media Center BGN. (Dok. BGN)

    Sudaryono mengatakan, BGN menggandeng Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) untuk memberikan literasi gizi kepada guru. Pelaksanaannya dilakukan secara daring menggunakan Zoom agar dapat menjangkau guru dalam jumlah besar.

    Menurut dia, BGN menargetkan sekitar 3,5 juta guru di Indonesia mendapatkan literasi gizi. Program tersebut telah dimulai melalui kegiatan kick-off dan akan dilanjutkan secara bertahap.

    "Kita ingin menjangkau sekitar 3,5 juta guru. Kemarin kita sudah kick-off dengan Kementerian Dikdasmen, dan akan kita teruskan sampai dengan 3,5 juta guru, itu kemudian bisa mendapatkan literasi," kata Sudaryono.

    Selain edukasi gizi, kegiatan makan bersama siswa juga diharapkan membentuk kebiasaan dan tata krama. Guru dapat memberikan contoh kepada siswa mengenai antre, mencuci tangan, berdoa sebelum makan, hingga membangun kebiasaan makan yang baik.

    "Ya makan bersama siswa untuk edukasi gizi. Tatakrama, ngantri, cuci tangan, berdoa," ujarnya.

    Sudaryono mengatakan pengalaman kunjungannya ke Bogor menunjukkan guru dan siswa dapat menikmati proses tersebut. Menurutnya, pembiasaan semacam itu penting, terutama bagi siswa SD hingga SMA.

  3. 3. Radar MBG jadi sarana pengawasan publik

    Kepala BGN: Program Literasi Gizi MBG Bukan Berarti Guru Ikut Urus Ompreng
    Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono bertemu Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian di Gedung Kemendagri, Jakarta Pusat, Kamis (13/8/2026)(IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

    Selain memperkuat literasi gizi, BGN juga menyiapkan mekanisme pengawasan publik melalui portal Radar MBG. Portal tersebut memungkinkan masyarakat memantau pelaksanaan program MBG, termasuk menu makanan, foto makanan, kandungan gizi, serta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasaknya.

    Informasi tersebut dapat diakses orang tua, guru, kepala sekolah, kepala daerah, dinas terkait, hingga masyarakat umum.

    "Termasuk masyarakat umum bisa memonitor di sekolah mana menunya apa, foto menunya ada, gizinya mana, dan dimasak di SPPG mana, itu bisa dicek melalui yang kami namakan Radar MBG," ujar Sudaryono.

    BGN juga mendorong seluruh SPPG melakukan pelaporan proses produksi secara digital. Saat ini, sekitar 85 persen dapur disebut telah melakukan pengisian laporan proses produksi.

    Jika informasi atau dokumentasi suatu SPPG tidak muncul di Radar MBG, masyarakat dapat ikut mempertanyakannya. Kepala daerah, dinas, maupun komite sekolah bahkan diharapkan dapat mendatangi dapur yang bersangkutan untuk meminta penjelasan.

    "Sehingga partisipasi publik inilah yang kemudian kami harapkan perbaikan dari sisi kualitas dapurnya diperbaiki, kualitas menunya diperbaiki, kualitas layanan diperbaiki," katanya.

    Sudaryono menegaskan standar keberhasilan MBG tidak berhenti pada tidak adanya kasus keracunan. BGN ingin kualitas menu dan pemenuhan gizi penerima manfaat terus meningkat.

    "Yang kita inginkan bukan hanya tidak keracunan, tapi yang kami inginkan adalah perbaikan menu, perbaikan gizi sebagaimana yang kita harapkan," ujarnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More