Imbas Perang Iran, Puluhan Ribu Penerbangan Batal di Dubai

- Serangan balasan Iran memicu kekacauan global, menyebabkan lebih dari 23.000 penerbangan dibatalkan dan empat orang terluka akibat serpihan rudal di kawasan Palm Jumeirah, Dubai.
- Pembatalan massal membuat ratusan ribu wisatawan terlantar di hub besar seperti Dubai dan Doha, dengan sebagian rela membayar hingga miliaran rupiah untuk penerbangan charter ke Eropa.
- Meski Emirates mulai beroperasi terbatas lewat koridor udara aman, industri perjalanan masih menanggung kerugian triliunan dolar dan menghadapi tantangan besar dalam memulihkan kepercayaan wisatawan.
Jakarta, IDN Times - Selama akhir pekan, serpihan rudal dilaporkan jatuh di kawasan Palm Jumeirah, pulau buatan ikonik Dubai yang dipenuhi restoran mewah dan deretan hotel bintang lima, termasuk Burj Al Arab. Empat orang dilaporkan luka-luka akibat kebakaran yang ditimbulkan.
Tapi kerusakan fisik itu hanyalah satu sisi cerita. Serangan AS-Israel ke Iran, beserta serangan balasan yang menyusuk, ternyata ikut mengguncang industri perjalanan global. Platform analitik penerbangan Cirium mencatat lebih dari 23.000 penerbangan dibatalkan di seluruh dunia sejak Iran melancarkan respons pertamanya.
1. Ratusan ribu wisatawan terlantar, charter pesawat tembus Rp3,2 Miliar

Pembatalan massal di hub-hub besar seperti Dubai, Abu Dhabi, dan Doha membuat ratusan ribu wisatawan terjebak tanpa kepastian, sebagian mengantre penerbangan repatriasi pemerintah, sebagian lain rela merogoh lebih dari 200 ribu dolar AS atau sekitar Rp3,2 miliar demi charter ke Eropa. MSC Cruises bahkan menyewa lima penerbangan khusus untuk memulangkan tamu di kapal MSC Euribia yang terpaksa berlabuh di Dubai, setelah sebelumnya membatalkan seluruh pelayaran tersisa sepanjang Maret.
Gangguan ini masuk kategori yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi industri perjalanan senilai 11,7 triliun dolar AS atau sekitar Rp198 ribu triliun. Henry Harteveldt dari Atmosphere Research Group menyebutnya kepada Fortune sebagai satu-satunya yang sebanding dengan pandemi COVID-19. Bedanya, ini bukan soal kesehatan tapi perang, dan dampaknya telah mengacaukan perjalanan di enam benua berpenghuni sekaligus.
2. Serangan Meluas ke sembilan negara, mengguncang industri hingga ratusan ribu triliun

Yang membuat gangguan ini benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya bukan hanya skalanya, tapi jangkauannya. Berbeda dari konflik Timur Tengah sebelumnya yang biasanya terlokalisasi, serangan balasan Iran menyasar bukan hanya Israel, tapi juga UEA, Qatar, Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, Oman, Yordania, dan Lebanon sekaligus. Akibatnya, bukan sekadar rute tertentu yang terdampak, tapi sebagian besar ruang udara kawasan ditutup total, memukul industri perjalanan global yang nilainya mencapai $12 triliun atau sekitar Rp197 ribu triliun.
Kawasan Teluk memang sangat bergantung pada lalu lintas udara. Pariwisata menyumbang sekitar 12 persen dari perekonomian UEA, sementara Bandara Internasional Dubai, tersibuk di dunia, mencatat rekor 95,2 juta penumpang sepanjang 2025. Jutaan pekerja migran asal India juga rutin melintasi koridor ini dengan penerbangan kurang dari tiga jam. Ketika serangan meledak akhir pekan lalu, Harteveldt menyebut ratusan pesawat terpaksa dihentikan dan dipindahkan ke luar jalur, beserta seluruh pilot dan awak kabinnya yang ikut terlantar jauh dari posisi seharusnya.
3. Pemulihan di depan mata, kerugian triliunan dolar sudah terlanjur menganga

Di tengah kekacauan, tanda-tanda pemulihan mulai muncul. Emirates mengumumkan akan kembali beroperasi dengan jadwal terbatas, lebih dari 100 penerbangan per hari hingga pemberitahuan lebih lanjut. UEA juga membuka "koridor udara aman" yang mengizinkan Emirates, Etihad Airways, dan FlyDubai beroperasi dengan kapasitas hingga 48 penerbangan per jam, meski pihak berwenang belum menjelaskan detail teknisnya. Harteveldt sendiri optimistis sektor ini akan pulih, tamu hotel di kawasan tersebut dilaporkan masih merasa aman dan nyaman.
Tapi tantangan terbesar justru bukan soal operasional, melainkan persepsi. Harteveldt memperingatkan bahwa calon wisatawan kemungkinan akan enggan mengunjungi kawasan Teluk dalam waktu dekat, dan hub-hub yang selama ini dianggap aman perlu bekerja keras membangun ulang kepercayaan publik. Di sisi lain, ada yang justru melihat peluang.
CEO Ryanair Michael O'Leary memprediksi pariwisata Teluk akan lesu satu hingga dua tahun ke depan, tapi di saat bersamaan, ia mencatat lonjakan pemesanan penerbangan jarak pendek di Eropa, khususnya untuk musim liburan Paskah.



















