Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Iran Serang Pangkalan Militer AS-Inggris di Laut India

Iran Serang Pangkalan Militer AS-Inggris di Laut India
potret bendera Iran (unsplash.com/Akbar Nemati)
Intinya Sih
  • Iran meluncurkan dua rudal balistik ke pangkalan militer AS-Inggris di Pulau Diego Garcia, namun berhasil digagalkan tanpa menimbulkan kerusakan.
  • Serangan terjadi di tengah perang Iran melawan AS dan Israel yang telah berlangsung tiga pekan, dengan kedua pihak saling membalas serangan terhadap fasilitas strategis.
  • Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan opsi mengakhiri perang dengan Iran, tetapi menolak gencatan senjata karena ingin memastikan kemenangan penuh bagi negaranya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Iran dilaporkan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat dan Inggris di Pulau Diego Garcia, sebuah pulau yang ada di Laut India, pada Jumat (20/3/2026). Serangan tersebut dilakukan menggunakan dua rudal balistik. 

Beruntungnya, serangan tersebut tidak merusak pangkalan militer AS dan Inggris yang ada di Pulau Diego Garcia. Sebab, pasukan AS dan Inggris berhasil melumpuhkan dua rudal yang ditembakkan oleh Iran sebelum menghantam pangkalan militer mereka. 

Sebagai informasi, AS dan Inggris memang memiliki pangkalan militer bersama di Pulau Diego Garcia. Sebab, Inggris telah mengizinkan Negeri Paman Sam menggunakan pangkalan militernya di pulau tersebut untuk kepentingan operasi militer terhadap Iran. 

1. Serangan dilakukan saat perang antara Iran dengan AS dan Israel sudah memasuki pekan ke-3

Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
ilustrasi perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran (pexels.com/Saifee Art)

Serangan ke markas militer di Pulau Diego Garcia ini terjadi di saat perang antara Iran dengan AS dan Israel sudah memasuki pekan ke-3. Meski sudah hampir berjalan 1 bulan, perang juga belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. 

Hingga kini, Iran masih menyerang AS dan Israel. Di sisi lain, AS dan Israel juga masih melancarkan serangan balasan ke Iran. Pada Rabu (18/3/2026) lalu, misalnya, Israel menyerang ladang minyak dan gas (migas) South Pars milik Iran.

Sebagai balasan, Iran lantas menyerang ladang migas Ras Laffan milik Qatar pada Rabu dan Kamis (19/3/2026). Langkah ini dilakukan agar Israel tidak mendapat pasokan minyak dari Qatar. Padahal, Presiden AS, Donald Trump, sudah melarang Iran untuk menyerang fasilitas migas milik negara tersebut. 

2. Donald Trump membuka opsi untuk mengakhiri perang dengan Iran

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berjalan.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (commons.wikimedia.org/Spc. Dustin Biven)

Sebetulnya, AS dikabarkan sudah membuka opsi untuk mengakhiri perang dengan Iran. Dalam pernyataannya pada Jumat, Trump mengatakan bahwa dirinya saat ini sedang mempertimbangkan hal tersebut bersama jajarannya.

“Kita sudah sangat dekat untuk mencapai tujuan kita seiring kita mempertimbangkan untuk mengakhiri upaya militer besar-besaran kita di Timur Tengah sehubungan dengan rezim teroris Iran," tulis Trump di Truth Social seperti dilansir The Strait Times.

"Selat Hormuz juga harus dijaga dan diawasi. Jika perlu, oleh negara-negara lain yang menggunakannya!” lanjut Trump.

3. Trump enggan melakukan gencatan senjata dengan Iran

Orang sedang memegang papan bertuliskan gencatan senjata.
ilustrasi gencatan senjata (pexels.com/Efe Ersoy)

Dalam pernyataan terpisah kepada awak media pada hari yang sama, Trump juga menyebut AS tidak akan melakukan gencatan senjata dengan Iran. Sebab, langkah tersebut hanya mengakhiri perang sementara waktu. 

Trump ingin perang dengan Iran benar-benar berakhir. Sebab, Trump mengklaim AS sudah menang berperang melawan negara mayoritas Islam Syiah tersebut. Klaim ini dilontarkan Trump karena dirinya menilai Iran sudah kehabisan tenaga untuk berperang melawan AS dan Israel. 

“Anda tidak bisa melakukan gencatan senjata ketika Anda sedang menghancurkan pihak lain. Mereka tidak punya angkatan laut, mereka tidak punya angkatan udara, mereka tidak memiliki pengintai, mereka tidak memiliki persenjataan antipesawat, mereka tidak memiliki radar, dan para pemimpin mereka semuanya telah tewas di setiap tingkatan,” kata Trump dilansir The Hill.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More