Iran Siap Kerahkan Tenaga demi Kalahkan AS dan Israel

- Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan siap berperang hingga enam bulan melawan Amerika Serikat dan Israel sebagai respons atas serangan Israel di Beirut yang menewaskan empat orang.
- Serangan Israel menargetkan komandan pasukan elit Al-Quds di Hotel Ramada, Beirut, dengan alasan mereka terlibat dalam operasi terhadap Israel dan bekerja untuk IRGC di Iran.
- Presiden AS Donald Trump meminta Iran menyerah tanpa syarat, namun Presiden Iran Masoud Pezeshkian menolak dan menegaskan diplomasi tetap menjadi jalan utama penyelesaian konflik.
Jakarta, IDN Times - Iran menyatakan siap berperang selama berbulan-bulan demi bisa mengalahkan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Pernyataan tersebut disampaikan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Minggu (8/3/2026).
Dalam pernyataannya, IRGC menyatakan siap berperang habis-habisan bahkan sampai enam bulan. Mereka juga telah menyiapkan kekuatan jika memang harus berperang dengan AS dan Israel dalam waktu lama.
1. Israel menyerang para komandan pasukan Al-Quds di Beirut

Pernyataan tersebut merupakan respons IRGC terhadap serangan Israel ke Beirut, Lebanon, pada Minggu pagi waktu setempat. Dalam serangan tersebut, Israel menargetkan para komandan pasukan Al-Quds, salah satu unit pasukan elit IRGC, yang sedang berada di Hotel Ramada di Beirut.
“Para komandan Korps Pasukan Al-Quds di Lebanon beroperasi untuk memajukan serangan teror terhadap negara Israel dan warga sipilnya. Sementara itu, mereka secara bersamaan beroperasi untuk IRGC di Iran,” bunyi pernyataan resmi pasukan Israel, seperti dilansir Al Jazeera.
Berdasarkan keterangan otoritas setempat, serangan tersebut telah menewaskan 4 orang, sedangkan 10 orang lainnya terluka. Namun, tidak disebutkan secara detail apakah korban tewas merupakan para petinggi pasukan Al-Quds atau bukan.
2. Donald Trump minta Iran segera menyerah tanpa syarat

Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, telah meminta Iran menyerah tanpa syarat untuk mengakhiri konflik. Jika tidak, Trump mengatakan AS dan Israel akan terus menyerang Iran dengan kekuatan yang lebih besar. Namun, jika mau menuruti perintah AS, Trump berjanji akan membantu Iran untuk menjadi negara yang lebih sejahtera dalam segala aspek, termasuk ekonomi.
“Tidak akan ada kesepakatan dengan Iran, kecuali menyerah tanpa syarat! Setelah itu dan setelah terpilihnya pemimpin yang hebat dan dapat diterima, kami dan banyak sekutu kami yang luar biasa dan sangat berani, akan bekerja keras untuk membawa Iran kembali dari ambang kehancuran, menjadikannya lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat secara ekonomi daripada sebelumnya,” ujar Trump dilansir BBC.
3. Iran tidak mau menyerah karena alasan apa pun

Namun, Pemerintah Iran menegaskan tidak akan menyerah karena alasan apa pun. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan akan terus melawan AS dan Israel yang telah menyerang negaranya dan membunuh Ayatollah Ali Khamenei.
Meski begitu, Pezeshkian mengatakan Iran tetap mengedepankan jalan diplomasi dengan AS dan Israel agar konflik segera usai. Sebab, ia menilai cara tersebut bakal lebih efektif untuk menyelesaikan konflik ketimbang agresi militer.
"Gagasan bahwa kita akan menyerah tanpa syarat, mereka harus mengubur mimpi seperti itu sampai mati. Saya pikir kita harus menyelesaikan ini melalui diplomasi," kata Pezeshkian dilansir The Economic Times.


















