Israel Akan Tingkatkan Serangan ke Iran Usai Dimona Dibom

- Israel berencana meningkatkan serangan udara ke Iran setelah rudal balistik menghantam Dimona dan Arad, menargetkan komandan militer serta fasilitas strategis Iran.
- Iran meluncurkan operasi balasan 'True Promise 4' dengan rudal Emad, Qadr, dan drone kamikaze yang menyebabkan lebih dari 180 warga Israel terluka.
- Eskalasi konflik memicu peringatan IAEA terkait risiko radiasi, sementara Israel mengklaim rudal Iran kini mampu menjangkau Eropa hingga pangkalan AS-Inggris di Diego Garcia.
Jakarta, IDN Times - Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan pada Sabtu (21/3/2026) bahwa operasi udara terhadap wilayah Iran akan meningkat secara signifikan pada pekan ini. Peningkatan serangan ditujukan untuk mengeliminasi para komandan militer dan menghancurkan kemampuan strategis rezim Iran.
Selain Katz, Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu turut berjanji akan merespons serangan balasan musuh di semua garis depan pertempuran. Eskalasi ini terjadi tak lama setelah dua rudal balistik Iran menghantam kawasan sipil di Dimona dan Arad. Sedikitnya 180 penduduk terluka dalam serangan udara Iran yang paling merusak semenjak perang meletus tiga pekan lalu.
1. Israel masih belum capai semua tujuannya di Iran

Ancaman Katz diumumkan kepada publik sesaat setelah selesainya rapat evaluasi keamanan nasional pada hari Sabtu. Pertemuan tersebut dihadiri langsung oleh Wakil Kepala Staf Tamir Yadai beserta Kepala Intelijen Militer Shlomi Binder.
"Intensitas serangan yang dilakukan oleh militer Israel dan AS terhadap rezim Iran akan meningkat secara signifikan. Israel tidak akan berhenti menggempur musuh sampai semua tujuan perang tercapai," tutur Katz, dilansir The New Arab.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) baru saja menyelesaikan misi pengeboman kompleks Universitas Malek Ashtar di jantung kota Teheran. Fasilitas riset tersebut selama ini diyakini beroperasi sebagai pusat pengembangan komponen utama senjata nuklir dan armada rudal balistik Iran.
Dalam rangkaian operasi udara tersebut, sebuah jet tempur Israel sempat dikunci dan ditembak oleh sistem rudal darat-ke-udara milik Iran. Juru bicara militer Israel, Effie Defrin, memastikan pesawat tempur mereka lolos tanpa kerusakan sehingga misi pemboman tetap dieksekusi sesuai jadwal.
2. Ratusan warga Israel terluka akibat rudal Iran

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah meluncurkan operasi militer balasan yang diberi nama "True Promise 4". Pasukan elit Teheran tersebut menggunakan kombinasi rudal kendali Emad, rudal Qadr dan drone kamikaze untuk menembus pertahanan udara lawan.
Kementerian Kesehatan Israel mencatat jumlah korban cedera di pusat kota Arad melonjak drastis hingga 116 orang akibat hantaman proyektil ini. Serangan juga meruntuhkan muka bangunan apartemen serta menciptakan lubang besar di kawasan perumahan padat penduduk.
Sebuah rudal balistik lainnya menghantam kota Dimona dan melukai sekitar 64 warga sipil. Serangan ini dilaporkan terjadi dalam radius yang dekat dengan fasilitas penelitian nuklir rahasia Shimon Peres.
Pemerintah Iran menyatakan serangan ke fasilitas Dimona merupakan balasan atas gempuran Israel ke pusat pengayaan nuklir Natanz. Fasilitas yang menyimpan mesin sentrifugal uranium bawah tanah tersebut dilaporkan pernah mengalami kerusakan pada perang Juni 2025.
3. Israel klaim rudal Iran mampu capai Eropa

Aksi saling serang yang mengancam situs nuklir kedua negara membuat Badan Energi Atom Internasional (IAEA) segera mengeluarkan peringatan. Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, mendesak semua komando militer untuk menahan diri demi menghindari risiko bencana radiasi.
Israel mengklaim ancaman rudal balistik Teheran kini mampu menjangkau target di Eropa, jauh melampaui Timur Tengah. Pasalnya, Iran baru saja menembakkan rudal balistik antarbenua sejauh 4 ribu kilometer ke arah pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia.
"Rudal-rudal balistik dua tahap ini tidak dimaksudkan untuk menyerang negara Israel. Namun, jangkauan senjata tersebut sudah terbukti mampu mencapai daratan ibu kota negara-negara Eropa," tutur kepala militer Israel, Eyal Zamir, dilansir The Straits Times.
AS juga merespons ancaman Iran dengan mengerahkan skuadron pesawat tempur guna menjatuhkan bom seberat 5 ribu pon di wilayah pesisir negara tersebut. Serangan ini diklaim sukses menghancurkan gudang bawah tanah yang menyimpan armada rudal jelajah antikapal dan sistem radar kelautan.

















