Israel Hancurkan 25 Bangunan Kamp Pengungsi di Tepi Barat

- Israel klaim penghancuran sebagai bagian operasi melawan militan
- Skala pengungsian mencapai tingkat krisis, 1.500 keluarga belum bisa kembali
- Kamp Nur Shams telah berdiri sejak 1948, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya
Jakarta, IDN Times - Pasukan Israel memulai penghancuran 25 bangunan tempat tinggal di kamp Nur Shams, wilayah utara Tepi Barat yang diduduki, pada Rabu (31/12/2025). Warga hanya bisa pasrah saat buldoser dan crane militer meratakan rumah-rumah yang dulunya menampung sekitar 100 keluarga Palestina itu.
“Direnggut dari rumah kami, lingkungan kami, dan kenangan kami adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Pendudukan berusaha dengan segala cara untuk melemahkan dan menekan kami,” kata Mutaz Mahr, salah satu warga yang tempat tinggalnya ikut dihancurkan, dikutip dari Al Jazeera.
Kini, Mahr dan sekitar 25 kerabatnya terpaksa berlindung di sebuah apartemen seluas 100 meter persegi setelah diusir dari kamp tersebut.
1. Israel klaim penghancuran tersebut merupakan bagian dari operasi melawan militan
Militer Israel mengklaim penghancuran tersebut merupakan bagian dari operasi melawan militan. Namun, warga Palestina dan kelompok hak asasi manusia sepakat bahwa tindakan itu merupakan bentuk hukuman kolektif dan pemindahan paksa di bawah pendudukan.
Dilansir dari The New Arab, kelompok hak asasi manusia Adalah mengungkapkan bahwa sebagian besar penduduk di kamp tersebut adalah kelompok rentan, seperti lansia, penyandang disabilitas, atau orang tua dengan anak-anak yang masih kecil.
Para penduduk juga telah diberitahu oleh militer Israel bahwa mereka tidak akan diizinkan membangun kembali rumah di area yang dihancurkan. Perintah ini secara efektif melarang warga untuk kembali ke rumah mereka.
2. Skala pengungsian mencapai tingkat krisis
Nihaya al-Jendi, anggota komite populer Nur Shams, mengatakan bahwa ratusan keluarga telah terpaksa meninggalkan rumah mereka bahkan sebelum dimulainya operasi militer tahun lalu.
“Saat ini, lebih dari 1.500 keluarga dari kamp tersebut masih belum bisa kembali. Ini adalah sebuah bencana besar – sebuah bencana kemanusiaan yang nyata bagi para pengungsi Palestina – yang terjadi di hadapan mata dunia," tutur Jendi.
Pada 2025, Israel melancarkan operasi militer yang menargetkan kamp-kamp pengungsi di bagian utara Tepi Barat, termasuk Nur Shams, Tulkarem, dan Jenin. Human Rights Watch (HRW) melaporkan sedikitnya 850 rumah telah dihancurkan atau rusak parah di ketiga kamp tersebut.
Menurut kelompok itu, penghancuran tersebut tampaknya bertujuan menciptakan zona buffer yang jelas dan secara permanen mengubah struktur perkotaan kamp secara permanen sehingga memperketat kontrol Israel.
3. Kamp Nur Shams telah berdiri sejak 1948
Nur Shams dan kamp-kamp pengungsi lainnya di Tepi Barat didirikan setelah pembentukan Israel pada 1948, ketika ratusan ribu warga Palestina terpaksa meninggalkan rumah mereka di wilayah yang kini menjadi Israel.
Seiring waktu, kamp-kamp yang didirikan di Tepi Barat itu berkembang menjadi permukiman padat yang tidak berada di bawah otoritas kota-kota di sekitarnya. Status pengungsi pun diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Banyak warga Palestina percaya bahwa Israel berupaya menghancurkan konsep kamp itu sendiri, mengubahnya menjadi permukiman biasa di kota-kota sekitarnya, dengan tujuan menghapus isu pengungsi.
















