Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Suhu Terus Naik, Thailand Diprediksi Sepanas Gurun Sahara pada 2070

Suhu Terus Naik, Thailand Diprediksi Sepanas Gurun Sahara pada 2070
ilustrasi Bangkok, Thailand (pexels.com/Onur Kaya)
Intinya Sih
  • Penelitian memprediksi Thailand bisa mencapai suhu ekstrem mirip Gurun Sahara pada 2070 jika emisi karbon global tidak ditekan, mengancam kenyamanan hidup manusia.
  • Gelombang panas di Thailand sudah terasa sejak beberapa tahun terakhir dengan suhu mencapai lebih dari 44 derajat Celsius, menandakan dampak perubahan iklim terjadi saat ini.
  • Kenaikan suhu ekstrem berpotensi menurunkan produktivitas, meningkatkan risiko kesehatan, serta mengganggu sektor ekonomi seperti pertanian dan pariwisata di kawasan Asia Tenggara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Perubahan iklim kini makin terasa di berbagai negara, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Thailand bahkan diprediksi bisa mengalami suhu ekstrem yang mirip dengan Gurun Sahara pada tahun 2070 apabila emisi global terus meningkat.

Kondisi ini tentu bikin banyak orang khawatir karena suhu panas berlebihan bukan cuma soal rasa gerah semata. Aktivitas harian, kesehatan, hingga ekonomi negara bisa ikut terdampak cukup besar.

Para peneliti juga menilai manusia sebenarnya hanya bisa hidup nyaman dalam rentang suhu tertentu. Jika suhu rata-rata terus naik melewati batas tersebut, kehidupan sehari-hari bisa menjadi jauh lebih berat dibanding sekarang.

1. Thailand mulai mendekati suhu ekstrem berbahaya

ilustrasi Gurun Sahara
ilustrasi Gurun Sahara (pexels.com/Sergey Pesterev)

Thailand saat ini memiliki suhu rata-rata tahunan sekitar 26 derajat Celsius. Angka tersebut sebenarnya sudah tergolong tinggi dibanding banyak negara lain. Penelitian yang dibahas dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences menemukan bahwa manusia selama ribuan tahun umumnya hidup nyaman pada suhu rata-rata sekitar 11 hingga 15 derajat Celsius.

Penelitian yang dipimpin Chi Xu dari Nanjing University memperingatkan bahwa suhu rata-rata di atas 29 derajat Celsius tergolong sangat ekstrem bagi kehidupan manusia. Saat ini kondisi seperti itu hanya ditemukan di sebagian kecil wilayah bumi, terutama di sekitar Gurun Sahara. Namun, apabila emisi karbon terus tinggi, wilayah dengan suhu ekstrem tersebut diperkirakan akan meluas drastis dalam beberapa dekade mendatang.

2. Kondisi panas di Thailand sebenarnya sudah terasa sekarang

ilustrasi panas matahari (pexels.com/Peter Fazekas)
ilustrasi panas matahari (pexels.com/Peter Fazekas)

Cuaca panas ekstrem sebenarnya bukan hal baru bagi masyarakat Thailand. Antara bulan Maret hingga Mei, suhu di beberapa wilayah sering melewati 40 derajat Celsius. Pada gelombang panas tahun 2016, suhu di Mae Hong Son bahkan mencapai 44,6 derajat Celsius dan menjadi rekor suhu tertinggi yang pernah tercatat di negara itu.

Lembaga antariksa NASA juga melaporkan bahwa suhu permukaan daratan Thailand kala itu mencapai 12 derajat Celsius di atas rata-rata normal. Lebih dari 50 lokasi tercatat memecahkan rekor suhu harian. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dampak perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan sudah mulai dirasakan sekarang.

3. Gelombang panas terbaru bikin situasi makin mengkhawatirkan

ilustrasi cuaca panas
ilustrasi cuaca panas (pexels.com/Alina Zhabynska)

Tahun 2024, Thailand kembali mengalami gelombang panas besar terutama di wilayah utara dan timur laut. Beberapa daerah dilaporkan mencapai suhu hingga 44 derajat Celsius pada akhir April. Data tersebut disampaikan oleh Thai Meteorological Department melalui laporan media lokal.

Bahkan memasuki tahun 2026, badan meteorologi Thailand kembali memperingatkan bahwa cuaca panas hingga sangat panas masih akan terus terjadi. Suhu di sejumlah wilayah diprediksi kembali melewati 44 derajat Celsius. Situasi ini membuat banyak ahli mulai khawatir terhadap dampak jangka panjang bagi kesehatan masyarakat, terutama kelompok lansia dan pekerja luar ruangan.

4. Dampaknya bukan cuma bikin gerah

ilustrasi Thailand
ilustrasi Thailand (unsplash.com/M o e)

Kenaikan suhu ekstrem bisa memengaruhi banyak aspek kehidupan manusia. Produktivitas kerja misalnya, dapat menurun karena tubuh lebih cepat lelah saat berada di suhu panas tinggi. Risiko dehidrasi, heatstroke, dan gangguan jantung juga meningkat ketika tubuh terus-menerus terpapar panas ekstrem.

Tara Buakamsri selaku direktur program Climate Connectors menjelaskan bahwa perubahan suhu drastis dapat mengubah kondisi lingkungan secara fundamental. Artinya, bukan cuma cuaca yang berubah, tapi juga pola hidup masyarakat hingga aktivitas ekonomi. Sektor pertanian, pariwisata, bahkan ketahanan pangan berpotensi terkena dampak besar apabila suhu terus meningkat tanpa pengendalian emisi.

5. Asia Tenggara bisa menghadapi tantangan besar di masa depan

ilustrasi macet, lalu lintas di Jakarta, Indonesia
ilustrasi macet, lalu lintas di Jakarta, Indonesia (pexels.com/Dapur Melodi)

Thailand sebenarnya bukan satu-satunya negara yang menghadapi ancaman suhu ekstrem. Kawasan Asia Tenggara secara umum memang termasuk wilayah yang rentan terhadap perubahan iklim. Kelembapan tinggi ditambah suhu panas dapat membuat kondisi terasa jauh lebih menyiksa dibanding daerah gurun yang kering.

Apabila dunia gagal menekan emisi karbon, sebagian wilayah yang saat ini masih nyaman dihuni bisa berubah menjadi area dengan risiko kesehatan tinggi. Kondisi tersebut membuat banyak negara mulai didorong untuk mempercepat penggunaan energi bersih serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Langkah pencegahan dianggap penting supaya suhu bumi gak terus naik secara ekstrem dalam beberapa puluh tahun mendatang.

Prediksi Thailand bisa memiliki suhu mirip Gurun Sahara pada 2070 menjadi peringatan serius mengenai dampak perubahan iklim. Cuaca panas ekstrem ternyata bukan sekadar membuat tubuh berkeringat lebih banyak, melainkan dapat memengaruhi kesehatan, produktivitas, hingga kondisi ekonomi masyarakat.

Fakta bahwa suhu lebih dari 44 derajat Celsius sudah beberapa kali terjadi menunjukkan ancaman tersebut bukan sesuatu yang jauh dari kenyataan. Karena itu, upaya mengurangi emisi dan menjaga lingkungan menjadi semakin penting agar kondisi bumi tetap layak dihuni di masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Related Articles

See More