Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Israel Siap Gunakan Kekuatan Penuh di Lebanon jika Pasukan Terancam

Israel Siap Gunakan Kekuatan Penuh di Lebanon jika Pasukan Terancam
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz (Adi Cohen Zedek (עדי כהן צדק), CC BY-SA 3.0 , via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Israel memerintahkan IDF menggunakan kekuatan penuh di Lebanon, bahkan saat gencatan senjata, untuk melindungi pasukan dari ancaman dan menghancurkan infrastruktur yang dianggap berbahaya.
  • Pasukan Israel memperluas operasi hingga 10 kilometer ke wilayah Lebanon selatan, memicu kecaman dari Turki yang menilai langkah tersebut sebagai bentuk ekspansionisme.
  • Konflik antara Israel dan Hizbullah sejak Maret 2026 telah menewaskan hampir 2.300 orang di Lebanon dan membuat lebih dari satu juta warga mengungsi meski ada gencatan senjata sementara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada Minggu (19/4/2026), mengatakan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah diperintahkan untuk menggunakan kekuatan penuh di Lebanon, termasuk selama gencatan senjata, jika para tentara menemui ancaman.

“Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan saya telah menginstruksikan IDF untuk bertindak dengan kekuatan penuh, baik di darat maupun dari udara, termasuk selama gencatan senjata, untuk melindungi tentara kami di Lebanon dari ancaman apa pun,” kata Katz dalam sebuah acara di Tepi Barat yang diduduki, dilansir dari The New Arab.

Ia menambahkan bahwa IDF juga diperintahkan untuk menghancurkan setiap bangunan atau jalan yang dipasangi jebakan peledak, serta menyingkirkan rumah-rumah di desa-desa dekat perbatasan yang dijadikan pos kelompok Hizbullah.

Sebelumnya, IDF melaporkan bahwa satu tentaranya tewas saat memasuki sebuah bangunan yang dipasangi jebakan peledak di Lebanon selatan. Insiden itu terjadi pada Jumat (17/4/2026), hari pertama berlakunya gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon.

1. Tentara Israel hancurkan rumah-rumah di kota Bint Jbeil

dampak serangan Israel di Lebanon
dampak serangan Israel di Lebanon (User Mema435 on en.wikipedia, CC BY-SA 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.0>, via Wikimedia Commons)

Katz telah berulang kali mengancam akan menghancurkan rumah-rumah di sepanjang perbatasan sebagai bagian dari upaya membentuk zona keamanan di Lebanon selatan. Pada Sabtu (18/4/2026), pasukan Israel dilaporkan melakukan penghancuran di kota Bint Jbeil, yang sempat menjadi lokasi pertempuran sengit dengan Hizbullah.

“Tujuan utama dari kampanye militer di Lebanon adalah melucuti Hizbullah dan menghilangkan ancaman terhadap komunitas di wilayah utara, melalui kombinasi langkah militer dan diplomatik. Jika pemerintah Lebanon terus gagal memenuhi kewajibannya—maka IDF akan melakukannya melalui aksi militer yang berkelanjutan," kata Katz.

2. Menlu Turki sebut Israel lakukan ekspansionisme di Lebanon

operasi militer Israel di Lebanon selama perang 2023-2024
operasi militer Israel di Lebanon selama perang 2023-2024 ( / IDF Spokesperson's Unit)

Pada Minggu, IDF merilis sebuah peta yang menggambarkan apa yang mereka sebut sebagai “garis pertahanan depan,” yang menunjukkan lokasi operasi pasukan mereka di Lebanon selatan.

Menurut harian Israel Yedioth Ahronoth, wilayah tersebut membentang ke arah timur hingga kawasan yang disebut IDF sebagai “Cristofani Ridge”, sekitar 12 kilometer dari Mount Hermon. Area ini mencakup kota Khiam dan kawasan Beaufort di Lebanon selatan bagian tengah, serta mencapai Ras al-Bayda di sisi barat.

IDF tidak merincikan total luas wilayah tersebut, tapi Katz menyebut operasi itu menjangkau sekitar 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon. IDF sebelumnya menyebut area tersebut sebagai Yellow Line, serupa dengan yang diterapkan di Jalur Gaza untuk memisahkan wilayah yang dikuasai pasukan Israel dari area yang berada di bawah kendali kelompok Hamas.

Dilansir dari The Straits Times, Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, mengecam apa yang disebutnya sebagai ekspansionisme Israel di Lebanon.

3. Hampir 2.300 orang tewas di Lebanon akibat serangan Israel

Pasukan Hizbullah melakukan latihan di desa Aaramta di distrik Jezzine, Lebanon selatan, pada Mei 2023ps://commons.wikimedia.org/wiki/File:2023_Hezbollah_drill_in_Aaramta_03.jpg
Pasukan Hizbullah melakukan latihan di desa Aaramta di distrik Jezzine, Lebanon selatan, pada Mei 2023 (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Lebanon terseret ke dalam konflik Timur Tengah pada awal Maret 2026, ketika Hizbullah meluncurkan roket ke Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran, yang saat itu diserang oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel. Tel Aviv kemudian membalas dengan serangan besar-besaran ke Lebanon dan invasi ke wilayah selatan negara itu, menewaskan hampir 2.300 orang dan memaksa lebih dari 1 juta lainnya mengungsi.

Pada Kamis (16/4/2026), Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan gencatan senjata 10 hari di Lebanon yang mulai berlaku pada Jumat. Pengumuman ini muncul beberapa hari setelah pertemuan tingkat tinggi pertama antara Lebanon dan Israel dalam beberapa dekade.

Sementara itu, Hizbullah menyatakan bahwa para pejuangnya akan tetap bersiaga dan siap merespons setiap pelanggaran gencatan senjata oleh Israel. Sekutu Iran itu mengaku tidak mempercayai Israel.

"Para pejuang perlawanan akan tetap berada di lapangan, dengan jari di pelatuk, dan akan merespons setiap pelanggaran agresi sebagaimana mestinya," kata Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, pada Sabtu, dilansir dari Anadolu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More