Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Negosiasi Damai AS-Iran Diprediksi Butuh Waktu 6 Bulan

Negosiasi Damai AS-Iran Diprediksi Butuh Waktu 6 Bulan
ilustrasi negosiasi damai (pexels.com/Markus Winkler)
Intinya Sih
  • Negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran diperkirakan memakan waktu enam bulan, dengan saran perpanjangan gencatan senjata agar konflik tidak kembali pecah.
  • Dua pejabat Timur Tengah dan Eropa menilai pembukaan Selat Hormuz oleh Iran menjadi kunci percepatan perdamaian, sementara AS telah memblokade wilayah itu untuk memberi tekanan.
  • AS dan Iran tengah bersiap melanjutkan negosiasi damai tahap kedua setelah pertemuan pertama di Islamabad gagal, dengan Pakistan tetap berperan sebagai mediator.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Proses negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran diprediksi membutuhkan waktu selama 6 bulan. Prediksi tersebut dilontarkan oleh seorang pejabat dari Timur Tengah dan Eropa yang tidak disebut namanya kepada Bloomberg pada Kamis (16/4/2026). 

Oleh karena itu, kedua pejabat tadi menyarankan agar gencatan senjata antara AS dan Iran yang akan berakhir pada 22 April segera diperpanjang. Ini bertujuan agar perang tidak kembali meletus selagi AS dan Iran sama-sama mengusahakan perdamaian lewat negosiasi yang dimediasi Pakistan. 

1. Iran harus membuka Selat Hormuz jika ingin damai dengan AS

Selat Hormuz.
potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/OpenStreetMap)

Dua pejabat tadi juga menambahkan, agar proses negosiasi bisa berjalan lebih cepat, Iran harus segera membuka Selat Hormuz. Sebab, menurut mereka, pembukaan kembali Selat Hormuz adalah kunci jika Iran ingin berdamai dengan AS.

Negara-negara Teluk, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, dan Bahrain juga ingin Iran membuka kembali Selat Hormuz. Langkah ini bertujuan agar pasokan minyak dari Timur Tengah ke pasar global berjalan lancar sehingga harganya tidak kembali naik.

Kendati demikian, Selat Hormuz sebetulnya kini sudah diblokade oleh pasukan militer AS. Pemblokadean tersebut sudah dimulai secara efektif sejak Senin (13/4/2026). Langkah ini dilakukan sebagai upaya AS untuk menekan Iran agar segera menyetujui perdamaian.

2. Trump menyatakan perang dengan Iran hampir usai

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berpidato di Gedung Putih.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berpidato di Gedung Putih. (commons.wikimedia.org/The Trump White House)

Prediksi yang dilontarkan pejabat Timur Tengah dan Eropa tadi sebetulnya bertentangan dengan prediksi Presiden AS, Donald Trump. Sebab, ia menyebut perang dengan Iran kini sudah hampir usai. Menurut Trump, ini karena Iran akan cenderung memilih perdamaian daripada terus berperang dengan AS dan Israel. 

“Saya rasa, ini (perang antara AS dan Iran) sudah hampir berakhir, ya. Saya menganggapnya sudah sangat dekat dengan akhir,” kata Trump saat diwawancara dalam acara Mornings with Maria bersama Fox Business pada Selasa (14/4/2026) dikutip Jerusalem Post

Meski begitu, Trump mengaku perundingan damai dengan Iran bisa saja kembali gagal. Namun, ia tetap optimistis bahwa perundingan damai tahap kedua yang akan dilakukan AS dan Iran akan berjalan lancar sehingga bisa menghasilkan perdamaian abadi. 

3. AS dan Iran bersiap melakukan negosiasi damai tahap kedua

Perdamaian
ilustrasi perdamaian (unsplash.com/Road Ahead)

AS dan Iran sendiri kini sedang bersiap untuk melakukan negosiasi damai tahap kedua. Langkah ini dilakukan karena proses negosiasi tahap pertama yang dihelat di Islamabad, Pakistan, pada 11 April 2026 pekan lalu gagal total. 

Awalnya, negosiasi dikabarkan bakal kembali digelar di Pakistan pada Kamis waktu AS atau Jumat (17/4/2026) waktu Indonesia. Namun, rencana tersebut urung terjadi. Sebab, menurut Kementerian Luar Negeri Pakistan, AS dan Iran kini masih menentukan waktu yang tempat untuk bertemu.

“Siapa yang akan datang, seberapa besar delegasinya, siapa yang akan tinggal, dan siapa yang akan pergi, itu terserah pihak-pihak yang terlibat untuk memutuskan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, kepada wartawan di Islamabad dilansir Al Jazeera

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More