Jepang Kirim Tim Medis Darurat ke Venezuela, Bantu Korban Gempa

- Jepang melalui JICA mengirim lebih dari 40 tenaga medis ke Caracas untuk membantu korban gempa Venezuela, mendirikan fasilitas darurat, dan menyalurkan bantuan logistik penting.
- Gempa berkekuatan 7,2 dan 7,5 menyebabkan lebih dari 2.500 korban tewas serta puluhan ribu hilang; WHO memperingatkan risiko wabah penyakit di tempat penampungan yang padat.
- Pemerintah Venezuela membantah tuduhan lambat tanggap bencana, menetapkan masa berkabung nasional tujuh hari, dan melanjutkan operasi pencarian korban di wilayah terdampak.
Jakarta, IDN Times - Jepang mengirim tim medis bantuan bencana ke Venezuela untuk membantu penanganan korban gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang mengguncang negara itu pada 24 Juni 2026.
Upacara pelepasan tim digelar di Bandara Haneda, Tokyo, pada Sabtu (4/7/2026). Tim yang diberangkatkan oleh Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) tersebut beranggotakan lebih dari 40 tenaga medis, termasuk dokter dan perawat, dilansir NHK News.
1. Misi kemanusiaan Jepang melalui JICA

Tim medis tersebut dijadwalkan bertugas selama sekitar dua minggu di ibu kota Caracas, dengan mendirikan fasilitas medis darurat untuk merawat korban luka serta mendukung kegiatan kemanusiaan lainnya. Jepang juga mengirimkan bantuan logistik berupa wadah plastik dan alat penjernih air untuk disalurkan ke daerah-daerah yang terkena dampak, dikutip dari Nippon.
"Masih banyak orang yang berpeluang diselamatkan. Layanan medis Jepang memiliki keahlian dalam menangani bencana, dan kehadiran mereka sangat berarti bagi Venezuela saat ini," kata Duta Besar Venezuela untuk Jepang, Seiko Ishikawa.
Ketua tim medis Jepang, Kido Daisuke Roberto, mengatakan masyarakat Venezuela masih sangat membutuhkan layanan kesehatan di tengah operasi pencarian dan penyelamatan yang terus berlangsung. Ia berharap timnya dapat memberikan perawatan medis yang berkualitas dan membantu meringankan penderitaan para korban.
2. Peningkatan risiko wabah penyakit

Negara bagian La Guaira menjadi wilayah yang paling parah terdampak, di mana ratusan bangunan runtuh dan fasilitas rumah sakit lumpuh. Hingga Jumat (3/7/2026), pemerintah Venezuela mencatat jumlah korban tewas telah mencapai 2.595 jiwa, dengan lebih dari 11 ribu orang luka-luka. Selain itu, sekitar 38.500 orang dilaporkan masih hilang.
Organisasi kemanusiaan Jepang, Peace Winds Japan, melaporkan kondisi di lapangan jauh lebih buruk dibandingkan gambaran awal. Relawan organisasi tersebut, Poorman Mariko, mengatakan para penyintas menghadapi kekurangan hampir semua kebutuhan dasar. Ini termasuk tenda, air bersih, obat-obatan, hingga fasilitas sanitasi.
PBB turut memperingatkan tingginya risiko penularan penyakit di tempat-tempat penampungan yang kini kelebihan muatan. Upaya evakuasi sejauh ini juga terhambat oleh minimnya alat berat untuk memindahkan reruntuhan beton besar.
"Saat ini ada peningkatan risiko wabah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, seperti campak dan difteri, karena rendahnya cakupan vaksinasi sebelum gempa bumi," kata juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Christian Lindmeier, dikutip dari The Straits Times.
Menurut Kementerian Komunikasi dan Informasi Venezuela, di antara mereka yang diselamatkan adalah seorang anak laki-laki berusia 3 tahun. Bocah itu dilaporkan berhasil dikeluarkan dalam kondisi hidup oleh petugas penyelamat Yordania. Ia terjebak di bawah reruntuhan di La Guaira selama enam hari. Kementerian tersebut mengunggah video anak itu di media sosial dan menggambarkan penyelamatannya sebagai sebuah keajaiban.
3. Respons pemerintah Venezuela

Di tengah kritik publiik yang menilai respons pemerintah lambat, Presiden Sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, membantah keras tuduhan tersebut. Dalam konferensi persnya, Rodriguez menegaskan bahwa protokol darurat telah diaktifkan dalam hitungan jam setelah gempa. Ia menjelaskan bahwa keterlambatan di awal terjadi karena hampir seluruh pejabat daerah di La Guaira tewas akibat gedung pemerintah yang runtuh.
"Ini adalah tragedi alam dalam skala yang tidak pernah kami bayangkan, meskipun kami tahu bahwa peristiwa gempa dapat terjadi di negara kami. Pemerintah tidak menunggu satu, dua, atau tiga hari. Kami bertindak segera," ujar Rodriguez.
Pemerintah Venezuela telah menetapkan masa berkabung nasional selama 7 hari. Pihaknya juga menegaskan bahwa operasi pencarian dan penyelamatan korban hilang akan terus berlanjut. Sebab, diyakini masih ada korban yang dapat ditemukan hidup di bawah reruntuhan.

















