Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Ibu Hamil Tewas saat Kontak Tembak TNI dengan OPM di Papua

Ibu Hamil Tewas saat Kontak Tembak TNI dengan OPM di Papua
Ilustrasi peta Papua (IDN Times/Sukma Shakti)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Seorang ibu hamil bernama Melkiana Duwitau tewas tertembak saat kontak senjata antara TNI dan OPM di Intan Jaya, Papua Tengah, memicu duka mendalam dari pemerintah daerah.
  • TNI menyebut peluru nyasar dari kelompok OPM pimpinan Peles Tigau sebagai penyebab kematian korban, sementara pihak OPM menuding tembakan berasal dari pos militer Indonesia.
  • Komnas HAM Papua menyesalkan jatuhnya korban sipil dan menyerukan agar kedua pihak menghentikan baku tembak di area permukiman demi mencegah tragedi serupa terulang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Seorang perempuan bernama Melkiana Duwitau (31) tewas tertembak pada Kamis (2/7/2026) di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Dia tewas dalam keadaan sedang mengandung bayi berusia 32 minggu.

Konfirmasi tewasnya Melkiana disampaikan Bupati Intan Jaya, Aner Maisini. Dia menyampaikan duka cita atas meninggalnya korban. Aner mengatakan, wilayah Intan Jaya masih dalam status tanggap darurat penanganan konflik kelompok bersenjata.

"Pada Kamis malam ada kejadian, saya tidak sampaikan pelakunya siapa, Ibu Melkiana Duwitau dengan anak dalam kandungan usia 32 minggu yang dalam waktu dekat akan melahirkan, jadi korban. Kami berduka karena mama dan anak tersebut meninggal," ujar Aner di dalam keterangan yang dikutip pada Senin (6/7/2026).

Dia mengatakan, korban sipil terus berjatuhan di tengah konflik yang terjadi di wilayahnya. Aner mengaku kecewa karena ada lagi warga sipil yang jadi korban.

"Intan Jaya jadi daerah tanggap darurat dalam penanganan operasi militer. Masyarakat yang tidak bersalah jadi korban. Saya kecewa atas jatuhnya korban masyarakat, mulai dari gembala bahkan hingga Kamis malam ibu hamil. Mohon doa agar daerah ini damai dan masyarakat bisa beraktivitas biasa," kata dia.

Jenazah Melkiana dan bayinya kemudian diarak oleh ribuan warga mengelilingi Kota Sugapa sebelum dibawa ke rumah duka.

1. Warga sipil terus jadi korban dalam operasi militer di daerah

TNI, Papua, operasi militer
Warga mengarak jenazah Melkiana Duwitau dan bayinya yang meninggal di tengah konflik militer di Papua. (Dokumentasi Istimewa)

Aner sempat menyinggung operasi militer dan penumpasan Operasi Papua Merdeka (OPM) yang berlangsung di wilayahnya. Dia mengatakan, konflik bersenjata menyebabkan warga sipil menjadi korban.

"Dalam penanganan operasi militer di daerah-daerah yang urusannya TNI dengan OPM, dampaknya tetap masyarakat kami yang tidak bersalah yang jadi korban," kata Aner.

Sementara, Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), Sebby Sambom, menuding pelaku penembakan yang menyebabkan Melkiana tewas adalah TNI. Sambom mengatakan, berdasarkan informasi dari Papua Intelligent Services (PIS) terdengar bunyi tembakan dari pos militer Indonesia di J2, Kampung Biloga dan Kampung Wandoga, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya. Korban kemudian ditemukan tewas di rumahnya.

Manajemen markas pusat TPNPB kemudian mendesak Presiden Prabowo Subianto dan personel militer Indonesia agar segera keluar dari pemukiman warga sipil di pusat Kota Sugapa.

2. Koops TNI Habema sebut Melkiana Duwitau tewas akibat tembakan OPM

Papua, Koops TNI Habema
Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letnan Kolonel Inf M. Wirya Arthadiguna ketika memberikan keterangan. (Dokumentasi Koops TNI Habema)

Sementara, berdasarkan keterangan dari Koops TNI Habema, Melkiana Duwitau tewas akibat peluru nyasar yang ditembakan oleh kelompok OPM. Mereka menduga kelompok OPM pimpinan Peles Tigau yang menjadi dalang di balik kematian Melkiana.

"Berdasarkan laporan di lapangan, analisis kronologi dan pemetaan lokasi, rangkaian tembakan diduga dilakukan oleh kelompok bersenjata OPM pimpinan Peles Tigau dari tiga titik yang berbeda dalam rentang waktu sekitar 15 menit," ujar Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letnan Kolonel Inf. M Wirya Arthadiguna, di dalam video yang dibagikan pada Senin (6/7/2026).

Tembakan pertama, kata Wirya, terjadi pada 18.45 WIT dari arah Kampung Wandoga. Lima menit kemudian terdengar tembakan dari titik yang berbeda di kawasan perbukitan di depan Koramil Sugapa.

"Sekitar pukul 19.00 WIT, kelompok tersebut kembali melepaskan tembakan sebelum melarikan diri ke arah sungai," ujar dia.

Dia mengatakan, selama terdengar tiga tembakan tersebut, TNI tak melepaskan tembakan balasan. Hal itu lantaran kondisi medan sedang diselimuti kabut tebal dan hujan deras.

"Sehingga, jarak pandang terbatas membuat personel bertahan pada posisi perlindungan atau steling sambil memantau perkembangan situasi yang terjadi," kata dia.

Langkah itu untuk menghindari risiko warga sipil terkena tembakan balasan. Hasil analisis spasial yang dilakukan Koops TNI Habema menunjukkan tiga sumber tembakan berada pada titik yang berbeda.

"Jaraknya 900 hingga 1.500 meter. Sementara, jarak korban berada di 321 meter dari titik gangguan tembakan pertama dan berjarak lebih jauh dari posisi satgas TNI," ujar dia.

3. Komnas HAM Papua menyayangkan korban sipil masih terus berjatuhan

TNI, Papua, operasi militer
Warga mengarak jenazah Melkiana Duwitau dan bayinya yang meninggal di tengah konflik militer di Papua. (Dokumentasi Istimewa)

Sementara, Kepala Kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Perwakilan Papua, Frits Ramandey, mengatakan, pihaknya sangat menyayangkan jatuhnya korban dari kalangan warga sipil. Menurut dia, siapa pun pelakunya, baik kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) maupun aparat TNI, peristiwa semacam itu tidak seharusnya terjadi.

Komnas HAM Perwakilan Papua telah turun ke lokasi kejadian dan melihat langsung jenazah kedua korban serta lokasi penembakan. Tim juga melakukan verifikasi, rekonstruksi, dan pemetaan ulang posisi kelompok bersenjata serta posisi Satgas TNI saat peristiwa terjadi.

”Saya melihat langsung jenazah di rumah. Bahkan, ribuan warga menjemput saya dan menyampaikan banyak catatan. Namun, tentu saya lebih fokus pada hasil pemantauan kami," ujar Frits ketika dihubungi pada Senin (6/7/2026).

Menurut Frits, di lokasi ditemukan lebih dari lima bekas tembakan. Rumah korban berjarak 500-700 meter dari pos satgas TNI. Dia menyayangkan baku tembak justru terjadi di kawasan permukiman dan malam hari. Dia sangat berharap peristiwa serupa tak boleh terulang di masa depan.

”Karena itu, di depan peti jenazah saya menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Saya juga mengimbau TPNPB-OPM agar tidak melakukan aksi-aksi di sekitar permukiman. Di sisi lain, saya meminta aparat TNI tidak melakukan penyerangan secara membabi buta sebagai respons terhadap aksi kelompok bersenjata," ucap dia.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari

Related Articles

See More