Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Jurnalis Al Jazeera Tewas dalam Serangan Drone Israel di Gaza

Jurnalis Al Jazeera Tewas dalam Serangan Drone Israel di Gaza
jurnalis meliput bentrokan di Hebron, Tepi Barat, Palestina pada 1994 (Gideon Markowiz / Photographer: Israel Press and Photo Agency (I.P.P.A.) / Dan Hadani collection, National Library of Israel / CC BY 4.0, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Juru kamera Al Jazeera, Ahmed Wishah, tewas akibat serangan drone Israel yang menghantam rumah di kamp pengungsi Bureij, menewaskan tiga orang termasuk dirinya.
  • Militer Israel mengklaim Wishah terafiliasi dengan Hamas, sementara Al Jazeera membantah keras tuduhan itu dan menuntut tindakan internasional terhadap Israel.
  • Serangan terbaru di Gaza menewaskan sedikitnya enam warga sipil dan memperburuk situasi keamanan, dengan total korban jiwa melebihi 73 ribu orang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Serangan Israel kembali menewaskan seorang jurnalis di Jalur Gaza pada Sabtu (20/6/2026). Juru kamera Al Jazeera, Ahmed Wishah, tewas akibat serangan drone presisi yang menargetkan sebuah rumah.

Kematian Ahmed terjadi hanya berselang dua bulan setelah saudaranya juga gugur akibat serangan Israel. Militer Israel dan pihak Al Jazeera saling melontarkan pernyataan tajam terkait insiden mematikan tersebut.

1. Ahmed Wishah tewas di kamp Bureij

pemandangan Jalur Gaza
pemandangan Jalur Gaza (unsplash.com/Emad El Byed)

Ahmed Wishah merupakan juru kamera untuk saluran siaran langsung bahasa Arab, Al Jazeera Mubasher. Ia kehilangan nyawa saat sebuah drone Israel menghantam sebuah rumah di kamp pengungsi Bureij, Gaza tengah.

Serangan tersebut merenggut nyawa Ahmed beserta dua orang lainnya di lokasi kejadian. Serangan ini juga menyebabkan sejumlah warga sipil di sekitar area tersebut mengalami luka-luka.

Saudaranya yang bernama Mohammed Wishah telah tewas lebih dulu pada April lalu akibat serangan Israel. Mohammed juga berprofesi sebagai jurnalis dan bekerja di jaringan media yang sama.

Ahmed tercatat sebagai pekerja media Al Jazeera ke-12 yang gugur di Gaza sejak Oktober tahun lalu. Sebelum kematiannya, ia sering bertugas meliput berbagai peristiwa genting selama konflik berlangsung.

2. IDF tuduh Wishah terafiliasi dengan Hamas

ilustrasi bendera Israel. (unsplash.com/Taylor Brandon)
ilustrasi bendera Israel. (unsplash.com/Taylor Brandon)

Al Jazeera mengutuk insiden ini dan menyebutnya sebagai pembunuhan yang disengaja. Jaringan penyiaran asal Qatar tersebut menuntut langkah internasional yang konkret untuk menghukum para pejabat Israel.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) membenarkan bahwa mereka sengaja menargetkan Ahmed lewat sebuah serangan presisi. Pihak militer Israel menuduh sang juru kamera sebagai penembak jitu yang berafiliasi dengan sayap militer Hamas.

"Tuduhan ini tidak berdasar dan tidak bisa menyembunyikan kebenaran yang disaksikan oleh dunia," kata perwakilan Al Jazeera membantah tuduhan pihak Israel.

3. Serangan Israel membahayakan jurnalis dan warga sipil di Gaza

pengeboman Kota Gaza
pengeboman Kota Gaza (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

Situasi keamanan di Gaza masih buruk seiring berlanjutnya operasi militer yang menelan banyak korban jiwa. Serangan militer Israel pada Sabtu merenggut nyawa setidaknya enam warga. Total korban tewas akibat serangan Israel di Gaza kini telah melampaui angka 73 ribu jiwa.

Satu serangan udara Israel menghantam sebuah apartemen tempat tinggal keluarga Al-Safadi di lingkungan Sabra, Kota Gaza. Serangan tersebut menewaskan empat orang anggota keluarga yang mencakup dua anak perempuan yang baru berusia empat dan 14 tahun.

"Sekitar pukul dua, sepupu saya sedang tidur saat sebuah rudal menghantam mereka," ujar Nael al-Safadi yang merupakan kerabat korban, dilansir ABC.

Gaza kini menyandang predikat sebagai kawasan paling mematikan di dunia bagi pekerja media. Kantor media pemerintah daerah setempat mencatat bahwa sedikitnya 262 pekerja media tewas sejak awal meletusnya perang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella

Related Articles

See More