Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Menteri PPPA Respons Keras Pasutri Tendang Anak di Lift saat di Malaysia

3 min read
Menteri PPPA Respons Keras Pasutri Tendang Anak di Lift saat di Malaysia
Viral anak dianiaya orang tua di lift (Dok/X)
  • Menteri PPPA Arifah Fauzi mengingatkan orang tua agar tidak menggunakan kekerasan untuk mendisiplinkan anak.

  • Orang tua diminta mengenali emosi, menenangkan diri, dan bergantian mengasuh ketika emosi memuncak.

  • Bantuan profesional, dukungan keluarga, serta layanan SAPA 129 dapat digunakan untuk menghadapi tekanan pengasuhan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengingatkan orang tua agar tidak menggunakan kekerasan untuk mendisiplinkan anak. Pernyataan ini disampaikan merespons dugaan penganiayaan terhadap anak yang terekam CCTV di sebuah hotel di Alor Setar, Malaysia.

“Namun, apa pun kondisinya, kekerasan tidak dapat dibenarkan sebagai bentuk pendisiplinan anak. Orang tua perlu belajar mengenali emosinya, menenangkan diri ketika mulai kehilangan kendali, dan memilih respons yang tidak melukai anak,” tegas Menteri PPPA, Arifah Fauzi, dikutip Sabtu (24/10/2026).

  1. 1. Orang tua diminta mengendalikan emosi

    Ilustrasi kekerasan anak (IDN Times/Sukma Shakti)
    Ilustrasi kekerasan anak (IDN Times/Sukma Shakti)

    Arifah mengakui pengasuhan anak memiliki tantangan, termasuk kelelahan dan tekanan yang dapat memicu emosi orang tua. Namun, kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk melampiaskan kemarahan kepada anak.

    Dia meminta orang tua mengenali tanda-tanda ketika emosi mulai sulit dikendalikan dan menenangkan diri sebelum merespons perilaku anak.

    “Mengasuh anak memang memiliki tantangan tersendiri. Orang tua bisa mengalami kelelahan, tekanan, atau menghadapi situasi yang memicu emosi. Namun, apa pun kondisinya, kekerasan tidak dapat dibenarkan sebagai bentuk pendisiplinan anak. Orang tua perlu belajar mengenali emosinya, menenangkan diri ketika mulai kehilangan kendali, dan memilih respons yang tidak melukai anak,” ujar Arifah.

    Pada Kamis (22/10/2026), video dugaan kekerasan terhadap anak di sebuah lift hotel di Alor Setar, Malaysia, viral di media sosial. Rekaman tersebut memperlihatkan seorang perempuan diduga menampar dan menarik anak laki-laki dari stroller. Seorang pria yang berada di dekatnya juga terlihat menendang stroller hingga anak tersebut membentur dinding lift.

    Narasi yang beredar menyebut insiden bermula ketika dua anak berebut stroller. Pasangan dewasa dalam video itu diduga merupakan orang tua anak dan warga negara Indonesia (WNI) yang sedang berkunjung ke Malaysia.

  2. 2. Pasangan diminta bergantian mengasuh saat emosi memuncak

    IMG_20260909_115604.jpg
    Menteri PPPA, Arifah Fauzi dalam Sosialisasi Pedoman Pengarusutamaan Gender di Sektor Kelapa Sawit di Jakarta Selatan, Rabu (9/9/2027)/ IDN Times Dini Suciatiningrum

    Arifah juga mendorong orang tua membangun komunikasi dan komitmen bersama dalam pengasuhan. Ketika salah satu orang tua kesulitan mengendalikan emosi, pasangan dapat mengambil alih sementara untuk mencegah tindakan spontan yang berisiko menyakiti anak.

    “Ketika salah satu orang tua merasa emosinya mulai sulit dikendalikan, jangan memaksakan diri untuk terus menghadapi situasi tersebut. Berikan kesempatan kepada pasangan untuk mengambil alih pengasuhan sementara dengan tenang. Langkah sederhana ini dapat membantu mencegah respons spontan yang berisiko menyakiti anak,” kata dia.

  3. 3. Orang tua diminta mencari bantuan profesional

    Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi.
    Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi. (Dok. KemenPPPA)

    Arifah menyarankan orang tua mencari bantuan profesional ketika kesulitan mengendalikan emosi berkaitan dengan perilaku atau tahap tumbuh kembang anak. Dukungan keluarga dan orang tepercaya juga dapat membantu menghadapi tekanan selama pengasuhan.

    “Konsultasi dengan tenaga profesional dapat membantu orang tua memahami kebutuhan anak, mengidentifikasi pemicu konflik, serta menemukan strategi pengasuhan yang tepat,” demikian imbauan Arifah dalam siaran pers tersebut.

    Masyarakat yang mengetahui dugaan kekerasan terhadap anak dapat melapor melalui layanan Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) 129 atau WhatsApp 08111-129-129.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More