Kebakaran Landa Gereja Bersejarah Amsterdam saat Tahun Baru

- Gereja Vondelkerk terbakar, sejarah bangunan dan kerusakan akibat kebakaran
- Kerusuhan petasan saat pergantian tahun di Belanda, termasuk larangan petasan pribadi
- Serangan petasan meluas ke Belgia dan Jerman, menyebabkan korban tewas dan cedera serius
Jakarta, IDN Times – Kebakaran besar melanda gereja tua Vondelkerk yang telah berdiri lebih dari seabad di Amsterdam pada Kamis (1/1/2026). Api mulai berkobar menjelang dini hari ketika warga tengah merayakan pergantian tahun. Intensitas kebakaran membuat menara setinggi 50 meter ambruk, struktur atap rusak berat, serta aliran listrik ke sekitar 90 rumah di sekitarnya terhenti.
“Vondelkerk tidak lagi dapat diselamatkan. Seluruh gereja terbakar. Seluruh gereja mungkin runtuh,” kata juru bicara Veiligheidsregio Amsterdam-Amstelland, otoritas keselamatan regional, dikutip dari NL Times.
1. Riwayat bangunan Vondelkerk dan dampak kebakaran

Gereja Vondelkerk yang dibangun pada 1872 awalnya difungsikan sebagai tempat ibadah umat Katolik Roma hingga 1977. Setelah periode tersebut, bangunan bersejarah itu dialihfungsikan menjadi lokasi berbagai kegiatan acara serta usaha berskala kecil.
Kebakaran ini tak menimbulkan korban luka maupun korban jiwa, sementara penyelidikan masih dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti insiden tersebut.
2. Kerusuhan petasan warnai pergantian tahun di Belanda

Ketua Serikat Polisi Belanda, Nine Kooiman, menyatakan pergantian tahun kali ini diwarnai tingkat kekerasan terhadap polisi dan petugas darurat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Saat bertugas di Amsterdam, ia mengalami pelemparan petasan dan bahan peledak hingga tiga kali.
Tak lama setelah tengah malam, otoritas nasional mengirim peringatan darurat langka melalui ponsel kepada seluruh warga. Peringatan tersebut meminta masyarakat tak menghubungi layanan darurat yang telah kewalahan kecuali dalam kondisi mengancam nyawa. Di Breda, wilayah selatan Belanda, sejumlah orang dilaporkan melempar bom molotov ke arah aparat kepolisian.
Tahun ini menjadi momen terakhir sebelum larangan petasan pribadi diberlakukan, sehingga pembelian petasan melonjak tajam. Asosiasi Piroteknik Belanda mencatat total belanja petasan mencapai 129 juta euro (setara Rp2,5 triliun), dikutip dari CNA.
Penggunaan petasan secara masif memicu dua korban tewas dalam insiden terpisah, yakni seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun dan seorang pria berusia 38 tahun. Rumah sakit mata di Rotterdam menangani 14 pasien dengan cedera mata, sepuluh di antaranya anak-anak, dan dua pasien harus menjalani operasi.
3. Serangan petasan meluas ke Belgia dan Jerman

Di Belgia, meski larangan petasan saat Tahun Baru telah diberlakukan, polisi di Brussels dan Antwerp tetap menjadi sasaran serangan petasan. Aparat akhirnya menggunakan gas air mata dan menahan lebih dari 100 orang di Antwerp, kota pelabuhan tersebut. Anak-anak berusia 10-11 tahun juga terlibat dengan melempar petasan dan batu ke arah petugas.
Di Brussels, polisi melaporkan serangan petasan terjadi berulang kali sepanjang malam. Sekitar 70 orang ditangkap dalam rangkaian insiden tersebut.
Sementara itu di Jerman, dua remaja berusia 18 tahun meninggal di wilayah Bielefeld bagian barat setelah petasan rakitan yang mereka nyalakan menyebabkan cedera fatal di wajah. Di sejumlah daerah lain di Belanda, kebakaran terpisah juga memicu evakuasi puluhan warga, termasuk di Hellevoetsluis ketika sekitar 40-45 penghuni apartemen harus dievakuasi akibat api yang melalap garasi parkir di bawah bangunan tempat tinggal mereka.


















