Konflik Timteng, Australia dan Singapura Perkuat Pasokan Energi

- Australia dan Singapura sepakat memperkuat kerja sama energi untuk menjaga stabilitas pasokan di tengah gangguan global akibat konflik Timur Tengah.
- Kesepakatan mencakup kelancaran distribusi minyak, bensin, solar, dan gas alam cair serta mekanisme konsultasi jika terjadi gangguan perdagangan energi.
- Kedua negara sangat bergantung pada impor energi, sementara konflik di Timur Tengah menekan pasokan global dan memicu kenaikan harga bahan bakar.
Jakarta, IDN Times – Australia dan Singapura menyepakati kolaborasi untuk memastikan ketersediaan energi tetap terjaga di tengah gangguan global yang dipicu konflik di Timur Tengah. Kesepakatan ini mencakup kelancaran distribusi minyak, bensin, solar, hingga gas alam cair antara kedua negara.
Langkah tersebut diumumkan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong melalui pernyataan bersama pada Senin (23/3/2026) usai melakukan pembicaraan via telepon. Keduanya menegaskan komitmen menjaga aliran energi tetap stabil di tengah tekanan pasar global.
1. Kenapa Australia Singapura dorong stabilitas pasokan energi?

Kedua negara menyatakan hubungan bilateral mereka telah berkembang menjadi Mitra Strategis Komprehensif dengan kepentingan yang saling terkait. Mereka menilai stabilitas ekonomi, keamanan, dan kemakmuran kawasan sangat bergantung pada kerja sama erat, termasuk di sektor energi.
Selain itu, Australia dan Singapura mengungkapkan kekhawatiran terhadap dampak konflik Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok serta mendorong kenaikan harga energi. Mereka menekankan pentingnya sistem perdagangan berbasis aturan dan pasar terbuka sebagai penopang stabilitas kawasan.
Dalam kerangka tersebut, kedua pihak berkomitmen memperkuat ketahanan rantai pasok energi. Langkah ini meliputi peningkatan kolaborasi regional, percepatan energi terbarukan, serta penolakan terhadap pembatasan ekspor maupun impor yang dianggap tak beralasan.
2. Australia dan Singapura atur mekanisme distribusi energi

Kesepakatan ini menitikberatkan pada kelancaran distribusi komoditas penting seperti minyak bumi, termasuk bensin, solar, dan gas alam cair. Kedua negara juga akan saling memberi notifikasi serta melakukan konsultasi jika terjadi gangguan perdagangan energi.
Di samping itu, pembahasan terkait pengaturan perdagangan untuk barang esensial akan dipercepat. Peluang pembentukan komitmen hukum yang mengikat juga dibuka, termasuk sistem peringatan dini terhadap potensi gangguan pasokan.
Kesepakatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Deklarasi Bersama Kemitraan Strategis Komprehensif 2.0 yang disepakati pada Oktober 2025. Australia dan Singapura turut mengajak mitra dagang lain menjaga keterbukaan rantai pasok energi global.
3. Seberapa bergantung kedua negara pada energi impor?

Dilansir The Diplomat, Singapura merupakan produsen utama bahan bakar olahan di kawasan, namun hampir seluruh minyak mentahnya berasal dari impor. Sekitar 70 persen pasokan minyaknya datang dari Timur Tengah, sementara 90 persen kebutuhan listrik dipenuhi dari gas alam impor, termasuk dari Qatar.
Di sisi lain, Australia mengimpor lebih dari 80 persen kebutuhan bensin, solar, dan bahan bakar jet. Pasokan tersebut sebagian besar berasal dari negara-negara Asia seperti Korea Selatan, Singapura, Jepang, Taiwan, dan Malaysia.
Meski demikian, Australia merupakan salah satu eksportir gas alam cair terbesar di dunia. Pada 2024, negara itu memasok 39,4 persen kebutuhan gas alam cair Singapura.
4. Konflik Timur Tengah tekan pasokan energi global

Penutupan Selat Hormuz akibat konflik di Iran membuat jalur vital energi dunia terganggu. Kondisi ini memutus sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global, sementara kawasan Teluk menyuplai sekitar 60 persen impor minyak Asia dan hampir sepertiga kebutuhan gas alam cair.
Dampaknya mulai dirasakan di Australia dan Singapura melalui kenaikan harga bahan bakar. Sejumlah pompa bensin di Australia bahkan dilaporkan kehabisan jenis bahan bakar tertentu sehingga memicu kekhawatiran pembatasan pasokan.
Menteri Energi Chris Bowen menyampaikan bahwa sebagian pengiriman yang sempat dibatalkan kini telah digantikan. Ia menjelaskan perusahaan bahan bakar terus melaporkan kondisi pasokan kepada pemerintah, terutama menjelang pertengahan April saat stok diperkirakan menurun.
Di sisi lain, Asisten Menteri Luar Negeri Matt Thistlethwaite menilai kerja sama regional menjadi keunggulan Australia. Ia menyebut negara-negara Asia Pasifik memiliki peluang saling menopang kebutuhan energi masing-masing.
Sementara itu, Menteri Industri Bayangan Andrew Hastie menyoroti dampak konflik terhadap dinamika pasar energi global.
“Saya tidak pikir siapa pun mengharapkan orang Iran memegang kami dari selangkangan di Selat Hormuz, dan itu adalah kejutan bagi sekutu AS dan yang bergantung pada impor dari sana,” katanya, dikutip Region Canbera.
Perdana Menteri Albanese juga menerima pengarahan dari Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional, Fatih Birol. Dalam pernyataannya di National Press Club, Birol mengatakan dunia kini menghadapi ancaman keamanan energi global terbesar.


















