Menkeu AS Desak Eropa Tak Balas Tarif Trump: Semua Harap Tenang!

- Uni Eropa siapkan tarif balasan senilai Rp1.851 triliun ke AS.
- Bessent bantah negara-negara Eropa bakal jual surat utang Washington
- Para diplomat dan pejabat Uni Eropa dijadwalkan bakal bertemu Trump di sela WEF Davos
Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), Scott Bessent, mendesak negara-negara Eropa untuk tidak membalas tarif perdagangan AS yang diumumkan Trump terkait krisis Greenland. Pada Selasa (20/1/2026), Bessent mengatakan bahwa negara-negara dan perusahaan-perusahaan harus berhenti sejenak dan membiarkan semuanya berjalan apa adanya.
"Saya akan mengatakan ini adalah jenis histeria yang sama seperti yang kita dengar pada 2 April. Ada kepanikan. Yang saya desak kepada semua orang di sini adalah untuk tenang, menarik napas dalam-dalam, dan membiarkan semuanya berjalan apa adanya," ujar Bessent, merujuk pada tarif hari pembebasan pada April lalu, dikutip dari Bloomberg.
Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan mengenakan tarif 25 persen pada enam negara Uni Eropa, ditambah Inggris dan Norwegia dalam upayanya mendapatkan Greenland. Berbicara di Forum Ekonomi Dunia (WEF), Bessent mengatakan tarif balasan tidak akan menjadi opsi bijaksana, dan mengutip perang tarif timbal balik pada tahun lalu yang terjadi antara AS dan China.
"Ancaman Presiden Trump terhadap Greenland sangat berbeda dengan kesepakatan perdagangan lainnya. Jadi saya mendesak semua negara untuk tetap berpegang pada kesepakatan perdagangan mereka. Kita telah menyepakati hal itu, dan itu memberikan kepastian yang besar," kata Bessent
1. Uni Eropa siapkan tarif balasan senilai Rp1.851 triliun ke AS
Para diplomat senior Uni Eropa berencana untuk memberlakukan tarif senilai 93 miliar euro (sekitar Rp1.851 triliun) ke AS, yang sempat ditangguhkan sejak kesepakatan perdagangan dengan Trump disetujui. Para diplomat blok tersebut menggarisbawahi pentingnya mempersiapkan opsi nyata untuk melawan Trump jika dialog dengan Washington tidak menghasilkan resolusi cepat.
Para pejabat Eropa juga membuka alternatif lain, seperti menggunakan Instrumen Anti-Koersi (ACI) Uni Eropa, atau "bazooka perdagangan" UE, yang dirancang untuk menghukum negara-negara yang menggunakan pasar mereka sebagai alat pemerasan geopolitik. Itu menjadi langkah yang lebih kuat dan akan menimbulkan kekhawatiran dari anggota blok yang lebih berhati-hati.
Mengutip Politico, para pemimpin Eropa dijadwalkan akan bertemu Trump di sela-sela pertemuan WEF di Davos. Trump diperkirakan akan hadir pada Rabu, bertepatan sebelum blok benua biru itu merumuskan tanggapannya pada KTT Uni Eropa mendatang.
2. Bessent bantah negara-negara Eropa bakal jual surat utang Washington
Bessent juga membantah bahwa negara-negara Eropa akan membalas AS dengan menjual kepemilikan surat utang Washington. Kepala keuangan AS itu mengklaim prediksi tersebut merupakan narasi palsu yang menentang logika dan menuduh media telah bersikap histeris terhadap laporan dari Deutsche Bank terkait persoalan tersebut.
Bessent merujuk pada catatan riset dari analis Deutsche Bank, George Saravelos, yang mengatakan bahwa Eropa memiliki banyak obligasi pemerintah AS. Saravelos menyebut bahwa Washington memiliki satu kelemahan utama, yakni bergantung pada negara lain untuk membayar tagihan mereka melalui defisit eksternal yang besar, dilaporkan The Guardian.
"Di sisi lain, Eropa adalah pemberi pinjaman terbesar AS, negara-negara Eropa memiliki obligasi dan saham AS senilai 8 triliun dollar AS (sekitar Rp135.736 triliun), hampir dua kali lipat dari gabungan seluruh dunia," tulis Saravelos.
3. Eropa berharap solusi diplomatik dapat ditemukan
Para diplomat dan pejabat Uni Eropa telah menyatakan ingin menghindari pembalasan dan bertaruh bahwa solusi diplomatik untuk mengatasi krisis masih dapat ditemukan. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mengatakan bahwa perang tarif tidak akan menguntungkan siapa pun, dan menyebut bahwa krisis belum sampai pada tahap tersebut.
"Mari kita berupaya mencapai kesepakatan, melanjutkan dialog kita, dan menemukan solusi, seperti yang selalu kita lakukan di masa lalu. Dan dalam proses itu, saya yakin bahwa kita dapat dan akan mempertahankan serta memperkuat hubungan khusus kita antara kedua negara ini," ujar Ketua DPR AS, Mike Johnson.
Bessent juga berupaya menegaskan kembali komitmen AS terhadap NATO. Pejabat keuangan AS itu mengatakan keanggotaan Washington dalam blok keamanan tersebut tidak perlu dipertanyakan. Dirinya mengakui akan adanya perbedaan pendapat yang terjadi tentang masa depan Greenland di antara anggota NATO.

















