“Kami berupaya menegosiasikan kesepakatan diplomatik yang akan mengeluarkan uranium dari Iran. Itu akan memastikan mereka tidak dapat memperoleh senjata nuklir tanpa sepengetahuan kami. Ada mekanisme yang diterapkan untuk menegakkan dan memverifikasinya. Kami berhasil melakukannya tanpa menembakkan rudal (ke Iran),” kata Obama dalam acara The Late Show, seperti dilansir The Hill pada Rabu (13/5/2026).
Obama Pamer Cara Setop Program Nuklir Iran: Tanpa Invasi Militer

- Barack Obama menjelaskan bahwa Amerika Serikat berhasil menghentikan program senjata nuklir Iran lewat diplomasi tanpa invasi militer, dengan mekanisme verifikasi yang ketat.
- Upaya diplomasi itu melahirkan perjanjian JCPOA pada 2015 yang membatasi produksi uranium Iran dan mencabut sanksi ekonomi, namun dibatalkan Donald Trump pada 2018.
- Obama menilai diplomasi lebih efektif dibanding operasi militer, sedangkan Trump memilih langkah ekstrem dengan menyerang Teheran hingga menewaskan Ayatollah Ali Khamenei.
Jakarta, IDN Times - Eks Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, memamerkan bagaimana cara AS menghentikan program senjata nuklir Iran saat dirinya masih menjabat. Pada masanya, Obama menyebut AS hanya menggunakan upaya diplomasi tanpa ada invasi militer sedikit pun terhadap Iran.
1. Upaya diplomasi Obama melahirkan perjanjian JCPOA

Upaya diplomasi yang dimaksud oleh Obama tadi merujuk pada perjanjian Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). JCPOA sendiri merupakan perjanjian yang dibuat untuk meredam pengembangan program senjata nuklir Iran. Perjanjian ini disepakati oleh China, Prancis, Jerman, Rusia, Inggris Raya, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Iran pada 14 Juli 2015.
Setelah disepakati pada 2015, perjanjian JCPOA mulai berlaku pada 16 Januari 2016. Perjanjian ini mewajibkan Iran membatasi produksi uranium untuk mengembangkan program senjata nuklirnya. Sebagai gantinya, China, Prancis, Jerman, Rusia, Inggris Raya, dan Amerika Serikat bersedia membebaskan sanksi ekonomi terhadap Iran.
Pada masa Obama, perjanjian JCPOA sukses meredam ambisi Iran untuk mengembangkan senjata nuklir. Sayangnya, usai Obama tidak lagi menjabat, perjanjian JCPOA tidak lagi berlaku. Sebab, perjanjian ini dibatalkan oleh Donald Trump pada 2018. Kala itu, Trump menilai perjanjian JCPOA sebagai perjanjian terburuk yang pernah disepakati AS karena hanya menguntungkan Iran.
2. Obama sempat mempertimbangkan operasi militer ke Iran

Meski berhasil menggunakan upaya diplomasi, Obama mengaku dirinya sempat mempertimbangkan invasi militer untuk menghentikan program senjata nuklir Iran. Namun, Obama kala itu menempatkan operasi militer sebagai pilihan paling akhir. Sebab, ia yakin jalur diplomasi bisa lebih efektif untuk meredam program nuklir Iran.
“Asumsi dasar saya adalah bahwa Iran tidak mungkin menjadi negara nuklir. Namun, Iran memang memiliki rezim yang kejam. Mereka dan rakyatnya sendiri sering terlibat aksi terorisme yang didukung negara. Ini merupakan ancaman bagi Amerika Serikat dan sekutu kita. Jadi, gagasan bahwa mereka akan memiliki senjata nuklir akan sangat berbahaya,” jelas Obama.
“Yang juga saya yakini adalah bahwa rezim itu tidak sepenuhnya irasional. Mereka memiliki naluri bertahan hidup dan bahwa ketika Anda mengerahkan kekuatan militer, orang-orang yang tidak bersalah akan mati,” lanjutnya.
3. Sikap Obama dan Trump soal program senjata nuklir Iran berbeda

Sikap Obama dan Trump dalam menanggapi ancaman program senjata nuklir Iran memang jauh berbeda. Di satu sisi, Obama lebih mengutamakan jalur damai agar Iran mau menghentikan ambisi nuklirnya. Namun, Trump justru memilih cara ekstrem dengan mengerahkan operasi militer.
Operasi militer yang dilakukan Trump untuk meredam program senjata nuklir Iran terlihat dalam serangan pada 28 Februari lalu. Kala itu, Trump bersama pasukan Israel memutuskan untuk menyerang Ibu Kota Iran, Teheran. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Serangan inilah yang membuat hubungan AS dan Iran memanas hingga saat ini.



















