Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Menlu Selandia Baru Tuai Kritik usai Minta Politisi Keturunan China Pulang

Menlu Selandia Baru Tuai Kritik usai Minta Politisi Keturunan China Pulang
Bendera Selandia Baru (unsplash.com/Kerin Gedge)
Intinya Sih
  • Menlu Selandia Baru Winston Peters dikritik setelah menyuruh anggota parlemen keturunan China, Lawrence Xu-Nan, pulang ke negara asal saat debat kebijakan vaksinasi COVID-19.
  • Xu-Nan, yang lahir di Tianjin dan besar di Auckland, menilai ucapan Peters tidak pantas serta mengalihkan fokus sidang dari isu kebijakan vaksinasi.
  • Duta Besar China Wang Xiaolong, Perdana Menteri Christopher Luxon, dan oposisi mengecam komentar itu; Ketua DPR mengingatkan anggota parlemen menghindari serangan pribadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Winston Peters, menuai kritik usai meminta anggota parlemen keturunan China, Lawrence Xu-Nan, kembali ke negara asalnya. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sidang parlemen pada Rabu (29/7/2026).

Perdebatan yang awalnya membahas penanganan pandemi COVID-19 ini meluas menjadi isu etika politik, diskriminasi, hingga potensi dampaknya terhadap hubungan diplomatik Selandia Baru dan China.

1. Pernyataan kontroversial menlu di parlemen

Wakil Perdana Menteri Selandia Baru, Winston Peters. Foto : instagram / @winstonpetersnzfirst
Wakil Perdana Menteri Selandia Baru, Winston Peters. Foto : instagram / @winstonpetersnzfirst

Insiden ini bermula saat anggota parlemen dari Partai Hijau, Lawrence Xu-Nan, mempertanyakan kebijakan vaksinasi COVID-19 yang diusung pimpinan Partai NZ First.

Merespons pertanyaan tersebut, Winston Peters menyuruh Xu-Nan kembali ke negara asalnya. Peters juga menyebut bahwa sistem demokrasi di Selandia Baru berbeda dengan yang ada di China.

"Saya tahu Anda baru tiba di sini lima menit yang lalu. Kembalilah ke negara Anda sendiri," ujar Peters.

Xu-Nan, yang lahir di Tianjin dan tumbuh besar di Auckland, menilai komentar tersebut tidak pantas. Ia menegaskan bahwa ucapan Peters hanya mengalihkan perhatian dari agenda utama sidang parlemen.

2. Duta Besar China dan Peters saling berbalas pernyataan

Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Winston Peters. (dok. Kemlu RI)
Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Winston Peters. (dok. Kemlu RI)

Duta Besar China untuk Selandia Baru, Wang Xiaolong, turut menanggapi insiden tersebut melalui media sosial. Meski tidak ingin mencampuri urusan dalam negeri Selandia Baru, ia menyindir pernyataan Peters.

"Sebuah pernyataan sering kali lebih banyak menunjukkan kepribadian orang yang mengucapkannya daripada hal lainnya," kata Wang Xiaolong.

Peters membalas bahwa reaksi diplomat China justru membuktikan adanya kebebasan berpendapat di Selandia Baru. Ia meyakini ucapannya tidak akan mengganggu hubungan diplomatik kedua negara.

Di sisi lain, Wakil Pemimpin NZ First, Shane Jones, membela Peters dengan menyatakan bahwa para pendatang harus menghormati aturan dan budaya politik setempat.

3. Kecaman dari perdana menteri dan tokoh oposisi

Perdana Menteri Selandia Baru, Christopher Luxon, sedang berbicara dengan mantan Presiden Indonesia, Joko Widodo.
Perdana Menteri Selandia Baru, Christopher Luxon, sedang berbicara dengan mantan Presiden Indonesia, Joko Widodo. (commons.wikimedia.org/Sekretariat Presiden Republik Indonesia)

Perdana Menteri Selandia Baru, Christopher Luxon, menilai komentar Peters tidak tepat dan menganggapnya sebagai tindakan mencari perhatian yang tidak perlu.

Kritik keras juga datang dari Wakil Pemimpin Partai Buruh, Carmel Sepuloni. Ia menyebut ucapan menteri luar negeri bernuansa rasis dan tidak layak disampaikan oleh seorang pejabat negara.

"Komentar itu sangat rasis dan menyinggung. Anda tidak boleh menyampaikan pernyataan seperti itu sebagai seorang menteri luar negeri," kata Carmel Sepuloni, dikutip dari 1News.

Menanggapi kegaduhan ini, Ketua DPR Selandia Baru, Gerry Brownlee, mengingatkan seluruh anggota parlemen untuk menjaga etika berdebat dan menghindari serangan pribadi selama sidang berlangsung.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More