Militer Ghana Tangkap 53 Warga Nigeria Tersangka Kejahatan Siber

- Korban awalnya pergi ke Ghana untuk bekerja
- Menteri Komunikasi Ghana mengingatkan orang asing agar jangan tertipu
- Banyak warga asing di Ghana jadi sasaran perdagangan manusia
Jakarta, IDN Times - Pasukan militer Ghana dilaporkan menangkap 53 warga Nigeria yang menjadi tersangka kejahatan siber. Dari jumlah tersebut, 44 di antaranya bukan pelaku utama karena dianggap sebagai korban. Saat ini, para tersangka sudah diserahkan ke pihak imigrasi untuk diproses lebih lanjut.
Penangkapan tersebut dikonfirmasi dalam pernyataan Menteri Komunikasi, Teknologi Digital, dan Inovasi Ghana, Samuel Nartey George, pada Minggu (18/1/2026). Menurut pernyataan itu, operasi penangkapan dipimpin pihak Otoritas Kejahatan Siber Ghana (CSA) dari 16 sampai 17 Januari 2026.
Dalam operasi tersebut, mereka menemukan 62 laptop, 52 telepon seluler, dan 2 senjata api jenis pump-action. Peralatan ini diduga digunakan untuk melancarkan aksi oleh para tersangka.
1. Korban awalnya pergi ke Ghana untuk bekerja

Awalnya, korban datang ke Ghana untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi. Namun, mereka rupanya malah terjerat tindak perdagangan manusia dan dipaksa melakukan kejahatan siber.
Dilansir Sahara Reporters, 44 korban dipaksa melakukan kejahatan siber oleh 9 tersangka utama di kota-kota yang ada di Ghana. Beberapa di antaranya, seperti East Legon Hills, Afienya, Kwabenya, Weija, dan Tuba.
Selain itu, dokumen berharga yang dimiliki korban disita untuk menghilangkan jejak. Mereka juga dieksploitasi oleh majikannya setiap hari tanpa bayaran yang jelas.
2. Menteri Komunikasi Ghana mengingatkan orang asing agar jangan tertipu

Imbas kasus ini, Samuel Nartey George mengimbau warga asing dari seluruh dunia untuk tetap waspada ketika mendapat tawaran kerja di negaranya. Hal ini bertujuan agar kasus-kasus serupa tidak terulang lagi di kemudian hari.
"Semua individu yang ditangkap telah diprofilkan dan diserahkan kepada Dinas Imigrasi Ghana untuk diamankan dan diselidiki lebih lanjut," kata George dalam sebuah unggahan di X.
"Kami memperingatkan warga negara asing yang diundang ke Ghana untuk memverifikasi klaim yang dibuat oleh Ghana untuk memikat mereka ke sini," lanjutnya.
3. Banyak warga asing di Ghana jadi sasaran perdagangan manusia

Warga asing yang pergi ke Ghana dengan dalih mendapat kerja memang sering kali bernasib nahas. Alih-alih dapat kerja, mereka malah jadi korban perdagangan orang dan dipaksa melakukan kejahatan siber.
Mereka juga sering kali terlibat dalam kasus penipuan bisnis. Motifnya, seseorang berpura-pura sebagai pemberi kerja dan meminta korban untuk mengirim uang dan data sensitif agar bisa mendapatkan pekerjaan.
Laporan dari BBC menyebut kasus semacam ini telah meningkat di Ghana dalam beberapa tahun terakhir. Ini menjadi alarm serius bagi warga asing untuk selalu waspada ketika datang ke sana.
Oleh karena itu, Otoritas Siber Ghana berkomitmen akan selalu menindak tegas siapa pun yang menjadi tersangka kasus kejahatan di negaranya, termasuk kejahatan siber.
"Melindungi citra siber Ghana di kancah internasional adalah hal yang mutlak. Pujian setinggi-tingginya kepada tim CSA dan lembaga penegak hukum mitra kami," ujar Menteri Komunikasi Ghana, Sam George, mengapresiasi langkah Otoritas Siber Ghana dalam memberantas kejahatan siber.


















