Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mulai Ada Konflik, Spanyol Balik Marah Kepada AS Usai Diancam

Mulai Ada Konflik, Spanyol Balik Marah Kepada AS Usai Diancam
Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez (European Parliament from EU, CC BY 2.0 , via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menegur keras Presiden AS Donald Trump setelah ditekan untuk mendukung serangan ke Iran, menegaskan posisi negaranya berpihak pada kemanusiaan dan perdamaian.
  • Sanchez mengingatkan pengalaman pahit invasi Irak tahun 2003 yang didukung Spanyol, menyebut keputusan itu membawa penderitaan dan tak ingin kesalahan serupa terulang terhadap Iran.
  • Pemerintah Spanyol menolak izin penggunaan pangkalan militer bersama oleh AS tanpa mandat PBB, sementara Trump mengancam akan tetap memakainya dan meninjau hubungan dagang dengan Spanyol.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, balik memarahi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dia bahkan sampai menyebutkan dosa-dosa AS di masa lampau soal perang.

Kekesalan Sanchez ini muncul tak lepas dari kemarahan Trump kepada Spanyol, yang dianggap minim dukungan ke AS untuk menyerang Iran. Dia menyebut, Spanyol sudah berhitung betul soal ekonomi dan kemanusiaan.

"Pertanyaannya bukanlah soal apakah kita di pihak Iran atau tidak, tetapi apakah kita berada di pihak kemanusiaan dan kedamaian. Kita tak bisa menutup satu hal ilegal dengan hal ilegal lain. Itu awal dari kekacauan," ujar Sanchez, dilansir BBC.

1. Berkaca pada kejadian 2003

PM Spanyol. Pedro Sanchez. (Ministry of the Presidency. Government of Spain (Attribution or Attribution), via Wikimedia Commons)
PM Spanyol. Pedro Sanchez. (Ministry of the Presidency. Government of Spain (Attribution or Attribution), via Wikimedia Commons)

Sanchez berkaca pada kejadian 2003 lalu, ketika Spanyol mendukung invasi AS ke Irak, bersama dengan Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Keputusan PM Jose Maria Aznar kala itu menciptakan protes besar-besaran di Spamyol.

Invasi AS ke Irak tersebut pada akhirnya menimbulkan kegagalan. Alih-alih membuat kehidupan lebih baik, hal itu justru menghadirkan sengsara. Dikhawatirkan, hal sama bisa dialami oleh Iran.

2. Spanyol tak izinkan AS gunakan pangkalan bersama untuk perang

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez (Wikimedia.org/Pool Moncloa/Borja Puig de la Bellacasa
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez (Wikimedia.org/Pool Moncloa/Borja Puig de la Bellacasa

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri (Menlu)Spanyol, Jose Manuel Albares, mengatakan negaranya tak akan mengizinkan AS untuk menggunakan pangkalan yang dioperasikan bersama di Spanyol selatan dalam serangan apa pun yang tidak tercakup oleh piagam PBB.

"Berdasarkan semua informasi yang saya miliki, pangkalan-pangkalan tersebut tidak digunakan untuk operasi militer ini (serangan ke Iran)," kata Albares kepada televisi publik Spanyol, dilansir dari Al Jazeera, Rabu (4/3/2026).

3. Apa ancaman Trump untuk Spanyol?

potret Presiden Amerika Serikat Donald Trump
potret Presiden Amerika Serikat Donald Trump (whitehouse.gov)

Trump menegaskan AS bisa saja menggunakan pangkalan tersebut, meski Spanyol menolak. Ada gelagat, Trump mau memaksakan kehendaknya kepada Spanyol.

"Kami bisa terbang ke sana dan menggunakannya. Tidak ada yang akan mengatakan kepada kami untuk tidak menggunakannya. Tapi, kami tidak harus melakukannya," kata Trump.

Tidak jelas bagaimana Trump akan memutus perdagangan dengan Spanyol, mengingat berada di bawah naungan Uni Eropa. Uni Eropa menegosiasikan kesepakatan perdagangan atas nama seluruh 27 negara anggotanya.

"Jika pemerintahan AS ingin meninjau perjanjian perdagangan tersebut, mereka harus melakukannya dengan menghormati otonomi perusahaan swasta, hukum internasional, dan perjanjian bilateral antara Uni Eropa dan Amerika Serikat," kata juru bicara dari kantor Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ilyas Listianto Mujib
EditorIlyas Listianto Mujib
Follow Us

Latest in News

See More