Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pakistan Sodorkan Kerangka Damai, Iran Tolak Dikejar Deadline

Pakistan Sodorkan Kerangka Damai, Iran Tolak Dikejar Deadline
potret bendera Iran (unsplash.com/Akbar Nemati)
Intinya Sih
  • Pakistan ajukan kerangka perdamaian dua tahap kepada Iran dan AS, mencakup gencatan senjata segera serta kesepakatan komprehensif yang diharapkan dituangkan dalam nota kesepahaman melalui Islamabad.
  • Iran menolak membuka Selat Hormuz hanya untuk gencatan senjata sementara dan menegaskan tidak akan menerima tekanan tenggat waktu dari pihak mana pun dalam proses negosiasi.
  • Kerangka Pakistan menyentuh isu sensitif nuklir dan sanksi ekonomi, namun jalan menuju kesepakatan damai masih panjang di tengah tekanan global dan dampak konflik yang meluas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pakistan mengajukan kerangka perdamaian kepada Iran dan Amerika Serikat (AS), membuka kemungkinan gencatan senjata yang bisa segera berlaku. Tapi Iran menegaskan, Selat Hormuz tidak akan dibuka hanya untuk gencatan senjata sementara.

Upaya mengakhiri konflik AS-Israel versus Iran memasuki babak baru.

Al Jazeera, Senin (6/4/2026) melaporkan Pakistan telah menyiapkan sebuah kerangka untuk mengakhiri permusuhan dan menyampaikannya kepada Iran dan Amerika Serikat pada dini hari tadi, berdasarkan keterangan sumber yang mengetahui proses tersebut.

Kerangka yang disiapkan Pakistan menggunakan pendekatan dua tahap, dimulai dengan gencatan senjata segera, diikuti oleh kesepakatan komprehensif. Sumber tersebut menyebut Pakistan sebagai satu-satunya saluran komunikasi dalam pembicaraan ini, dan hasil kesepakatan awal akan dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman (MoU) yang diselesaikan melalui Islamabad.

Rencana tersebut mencakup komitmen Iran untuk melepaskan pengembangan senjata nuklir, sebagai imbalan atas pencabutan sanksi ekonomi dan pencairan aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri. Jika kesepakatan tercapai, salah satu dampak langsungnya adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang selama ini menjadi titik tekanan utama dalam konflik ini.

Namun Iran tidak serta-merta menyambut tawaran itu. Seorang pejabat senior Iran menegaskan, Tehran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz hanya demi gencatan senjata sementara, dan memandang Washington belum menunjukkan kesiapan untuk gencatan senjata permanen.

1. Pakistan posisikan diri jadi jembatan komunikasi

Bendera Pakistan sedang berkibar.
potret bendera Pakistan (unsplash.com/Ali Khokhar)

Di tengah kebuntuan diplomatik yang telah berlangsung berminggu-minggu, Pakistan memosisikan diri sebagai satu-satunya jembatan komunikasi antara Tehran dan Washington. Peran ini bukan sekadar simbolis, seluruh proses negosiasi disebut hanya mengalir melalui satu jalur ini.

Sumber tersebut menekankan urgensi situasi. “Semua elemen harus disepakati hari ini,” kata sumber tersebut, seraya menjelaskan jika kesepakatan awal akan dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman yang diselesaikan melalui Pakistan.

Namun Kementerian Luar Negeri Pakistan memilih untuk tidak mengkonfirmasi maupun membantah laporan tersebut. Juru bicara Kemenlu Pakistan Tahir Andrabi merespons pertanyaan Al Jazeera dengan hati-hati. “Ada beberapa laporan tentang tawaran gencatan senjata 45 hari, atau pertukaran 15 poin,” ujarnya.

“Kami tidak mengomentari insiden-insiden individual dan spesifik ini. Poin kami adalah bahwa proses perdamaian sedang berlangsung,” lanjutnya.

Pernyataan Andrabi yang tidak mengiyakan maupun menolak justru memperkuat sinyal bahwa ada sesuatu yang sedang berjalan di balik layar, sesuatu yang Pakistan pilih untuk dijaga kerahasiaannya demi menjaga kelangsungan proses itu sendiri.

2. Selat Hormuz bukan untuk dijual murah

ilustrasi selat hormuz yang jadi single point of failure
ilustrasi selat hormuz yang jadi single point of failure (unsplash.com/kz mozaffari)

Sejak awal konflik, Iran menutup Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Penutupan ini telah memicu lonjakan harga energi global dan menjadi salah satu tekanan terbesar yang mendorong dunia internasional mendesak adanya gencatan senjata.

Iran tampaknya sangat sadar posisi ini. Seorang pejabat senior Iran secara tegas menyampaikan Tehran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sebagai imbalan atas gencatan senjata yang bersifat sementara.

Pembukaan Selat Hormuz hanya akan menjadi bagian dari kesepakatan yang permanen dan menyeluruh bukan sekadar jeda tembak.

Pejabat tersebut juga mengkonfirmasi Iran memang telah menerima proposal Pakistan dan sedang mengkajinya. Namun sekaligus menegaskan sikap Tehran yang tidak mau dipaksa terburu-buru.

"Tehran tidak menerima tekanan untuk menerima tenggat waktu dan mengambil keputusan,” demikian penegasan pejabat Iran tersebut.

Sikap ini mencerminkan kalkulasi Tehran yang lebih besar: meski infrastruktur militer Iran disebut telah mengalami kerusakan signifikan, Iran masih memegang kartu strategis yang sangat berharga dan mereka tidak akan menukarnya dengan murah.

3. Antara harapan dan jalan panjang menuju damai

illustrasi selat hormuz
illustrasi selat hormuz (pexels.com/Eslam Mohammed Abdelmaksoud)

Kerangka yang diajukan Pakistan memuat dua hal besar yang selama ini menjadi inti konflik, isu nuklir Iran dan sanksi ekonomi. Iran diminta berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, sementara AS diharapkan mencabut sanksi dan mencairkan aset Iran yang dibekukan di luar negeri.

Ini bukan isu yang bisa diselesaikan dalam satu malam. Negosiasi nuklir Iran dan Barat telah berlangsung selama bertahun-tahun dengan berbagai putaran, kebuntuan, dan kemunduran. Memasukkannya dalam satu paket gencatan senjata — dengan tenggat “hari ini” — adalah ambisi yang sangat besar.

Di sisi lain, tekanan untuk segera mencapai kesepakatan juga nyata. Konflik yang kini telah berjalan lebih dari sebulan ini telah menelan ribuan korban jiwa, mengguncang pasar energi global, dan menyeret beberapa negara lain ke dalam lingkaran permusuhan.

Apakah kerangka Pakistan cukup untuk menjembatani semua itu, masih belum bisa dipastikan. Yang jelas, hari ini menjadi salah satu hari paling krusial dalam konflik yang telah mengubah peta geopolitik Timur Tengah ini.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ilyas Listianto Mujib
EditorIlyas Listianto Mujib
Follow Us

Latest in News

See More