Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Panas Ekstrem, Bimbad Edukasi Lansia Soal Esensi Hadis Arbain

Panas Ekstrem, Bimbad Edukasi Lansia Soal Esensi Hadis Arbain
Suasana di luar Masjid Nabawi. (pexels.com/SamiTÜRK)
Intinya Sih
  • PPIH Arab Saudi melalui Bimbad mengedukasi jemaah lansia di Madinah agar memahami esensi hadis Arbain tanpa memaksakan diri beribadah di tengah cuaca panas ekstrem.
  • Pembimbing ibadah menekankan pentingnya menjaga kesehatan tubuh dengan cukup minum dan nutrisi, karena kondisi fisik yang prima menjadi kunci kekhusyukan dalam beribadah.
  • Bimbad Sektor 5 menerapkan program visitasi untuk memetakan kebutuhan jemaah, terutama lansia dan perempuan, guna memastikan pendampingan spiritual serta fasilitas ibadah berjalan optimal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Madinah, IDN Times — Di tengah cuaca panas ekstrem yang menyelimuti Kota Madinah pada musim haji tahun ini, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengambil langkah persuasif untuk melindungi para Tamu Allah.

Melalui kegiatan visitasi di Hotel Mirage Taiba, Sektor 5, Madinah, Selasa (23/06/2026), para Pembimbing Ibadah (Bimbad) proaktif memetakan kebutuhan jemaah lanjut usia (lansia) sekaligus memberikan pencerahan spiritual mengenai esensi ibadah Arbain. Langkah humanis ini bertujuan agar jemaah tetap meraih keutamaan ibadah di Masjid Nabawi tanpa harus mengorbankan kondisi fisiknya.

1. Meluruskan makna Arbain demi menjaga kekhusyukan ibadah

Jemaah berpakaian putih memenuhi area Raudah dengan pilar berornamen emas dan lampu gantung megah di Masjid Nabawi.
Suasana padat jemaah di dalam Raudah, Masjid Nabawi, dengan pilar putih berhiaskan emas dan langit-langit bercorak indah. (IDN Times/Yogie Fadila)

Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW bersabda, barangsiapa shalat di masjidku ini (masjid Nabawi) selama empat puluh kali berturut-turut, maka dicatat baginya kebebasan dari neraka, selamat dari adzab, serta terbebas dari kemunafikan. (Musnad Ahmad bin Hanbal).

Selama ini, ibadah Arbain kerap dimaknai secara sebagai keharusan menunaikan salat fardu 40 waktu berturut-turut di Masjid Nabawi, yang memakan waktu kurang lebih delapan sampai hari penuh. Pemahaman ini sering kali membuat jemaah—terutama lansia—memaksakan diri menembus cuaca panas demi mengejar waktu salat, yang justru berisiko menurunkan kondisi kesehatan mereka.

Bimbad Kloter SUB 104 Surabaya, Toha Saifuddin, hadir memberikan pencerahan yang lebih menyejukkan. Menurutnya, makna dari hadis Arbain tersebut bisa dipahami secara tekstual demi menjaga motivasi beribadah tanpa mengabaikan batasan fisik jemaah.

"Jadi untuk supaya jadi motivasi dari teman-teman walaupun tidak bisa 40 waktu wajib, ya kita pilih yang secara tekstual hadis aja. Jadi 40 yang dimaksud adalah 40 salat," ungkap Toha.

Ia menjelaskan bahwa jemaah dapat menggabungkannya dengan berbagai salat sunah, seperti salat dhuha, salat hajat, salat taubat, hingga salat tahajud. Seluruh ikhtiar tersebut diyakini dapat menutupi dan memenuhi makna 40 kali salat dari hadis Arbain. Dengan pemaknaan ini, target 40 salat bahkan bisa dicapai dalam waktu yang lebih singkat tanpa harus berdiam selama delapan hari penuh.

2.. Tubuh sehat adalah kunci ibadah optimal

Masjid Nabawi tampak megah dan tenang di malam hari dengan menara bercahaya menjelang puncak kedatangan jemaah haji.
Masjid Nabawi terlihat tenang pada malam hari menjelang puncak kedatangan jemaah haji, Selasa (21/04/2026) (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)

Toha juga merefleksikan bahwa menjaga kesehatan raga adalah bentuk ketaatan yang tak kalah penting dari ibadah itu sendiri. Untuk menghadapi cuaca panas Madinah yang sangat ekstrem, jemaah diwajibkan memperhatikan kecukupan nutrisi dan memperbanyak minum. Jika di Tanah Air tubuh membutuhkan sekitar 2 liter air, di Madinah jemaah dianjurkan meminum 3 hingga 4 liter air per hari demi menjaga kesegaran dan mencegah dehidrasi.

"Ketika jasad kita sehat, maka kita ibadah pun juga bisa optimal. Kalau badannya sakit, kita ibadah pun tidak akan optimal, tidak bisa merasakan kekhusyukan dari ibadah," pesan Toha.

3. Bimbad harus proaktif mendekati jemaah

Pemandangan malam Masjid Nabawi yang tampak lengang dengan pencahayaan lembut dan beberapa pejalan kaki di area pelataran.
Masjid Nabawi terlihat tenang pada malam hari menjelang puncak kedatangan jemaah haji, Selasa (21/04/2026) (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)

Pendekatan spiritual dan kesehatan ini tidak berjalan secara kebetulan. Bimbad Sektor 5 Daker Madinah, Hj. Nunung Khoiriyah, MA, menjelaskan bahwa pendampingan berlapis ini merupakan hasil dari manajemen pelayanan melalui program visitasi. Kunjungan ke kloter-kloter menjadi instrumen krusial untuk berkoordinasi dengan Ketua Regu (Karu) dan Ketua Rombongan (Karom).

Nunung memaparkan bahwa saat ini jemaah haji didominasi oleh perempuan sebesar 55 persen, dan 25 persen di antaranya masuk dalam kategori lansia. Kelompok rentan ini jelas memerlukan ruang komunikasi dan pendampingan ekstra.

"Ketika kita melakukan visitasi, kita bisa melihat, memetakan persoalan-persoalan yang ada di kloter," tutur Nunung.

Berbekal pemetaan dari visitasi tersebut, berbagai kendala di lapangan dapat segera diselesaikan. Mulai dari penyediaan akses kursi roda untuk masuk ke area Raudhah hingga pendampingan kegiatan city tour di Kota Madinah, semuanya difasilitasi penuh oleh PPIH Arab Saudi. Kerja keras nan proaktif dari para petugas ini menjadi cerminan bahwa merawat jemaah tak sekadar mengurus administrasi, melainkan memastikan ibadah mereka tuntas dengan kekhusyukan dan keselamatan jiwa.

Share Article
Topics
Editorial Team
Yogie Fadila
EditorYogie Fadila

Related Articles

See More