Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Perang Memanas, Serangan Drone Hantam 3 Kota Besar di Sudan

Perang Memanas, Serangan Drone Hantam 3 Kota Besar di Sudan
potret drone militer (pexels.com/Barıs Karagoz)
  • Serangan drone menghantam Khartoum serta dua kota di Sudan utara pada 12 Agustus 2026; SAF menembakkan rudal dari kamp Wadi Seidna untuk melumpuhkannya, tanpa laporan korban jiwa.
  • Insiden ini terjadi di tengah eskalasi perang antara SAF dan RSF, yang telah saling menyerang di Khartoum dan kota besar lain setelah SAF merebut kembali ibu kota pada 2025.
  • Perang saudara sejak April 2023, dipicu perebutan kekuasaan SAF dan RSF, memperparah krisis kemanusiaan melalui kekerasan terhadap warga, perusakan rumah, dan kelaparan akibat lahan pertanian hancur.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Serangan drone dikabarkan menghantam tiga kota besar yang ada di Sudan, termasuk Ibu Kota Khartoum, pada Rabu (12/8/2026). Tidak diketahui berapa jumlah drone yang digunakan dalam serangan tersebut. Otoritas setempat hanya menyebut “Sejumlah drone” telah menyasar Khartoum dan dua kota lainnya yang ada di Sudan utara. 

Seorang jurnalis AFP melaporkan serangan drone tersebut terjadi sekitar pukul 05.00 subuh waktu setempat. Ia lantas mendengar suara rudal yang ditembakkan dari kamp militer Wadi Seidna, salah satu markas Angkatan Bersenjata Sudan (SAF), untuk melumpuhkan drone-drone tersebut. Peristiwa ini membuat suasana di Khartoum ketika itu berubah menjadi tegang. Tidak ada laporan korban jiwa dalam serangan ini.

  1. 1. Serangan drone merupakan bagian dari eskalasi perang antara SAF dan RSF

    Tentara sedang berperang.
    ilustrasi perang saudara (unsplash.com/Duncan Kidd)

    Serangan drone ini diduga merupakan bagian dari eskalasi perang saudara di Sudan yang terjadi antara SAF dan milisi Rapid Support Force (RSF). Sebab, selama beberapa hari terakhir, SAF dan RSF saling bertukar serangan di Khartoum dan di kota-kota besar lainnya yang ada di Sudan. Aksi saling serang ini sudah menewaskan banyak warga sipil yang ada di Sudan.

    Pada 2025 lalu, SAF berhasil mengambil alih kekuasaan di Khartoum dari tangan RSF. Hal ini membuat sekitar 2,3 juta warga Sudan bisa kembali ke tempat tinggalnya di Khartoum dengan aman. Sebab, selama dikuasai RSF, banyak warga Khartoum yang angkat kaki dari kota tersebut untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.

  2. 2. Perang saudara di Sudan sudah terjadi sejak 2023

    Perang saudara.
    ilustrasi perang saudara (unsplash.com/Hasan Almasi)

    Sebagai informasi, perang saudara di Sudan sudah meletus sejak April 2023. Itu berarti, perang kini sudah berlangsung selama kurang lebih tiga tahun. Namun, hingga saat ini, belum ada tanda-tanda perang tersebut akan usai. Sebab, SAF yang dipimpin oleh Abdel Fattah al-Burhan dan RSF yang dipimpin oleh Mohamed Hamdan Daglo masih saling serang hingga saat ini. 

    Perang saudara di Sudan ini pertama kali pecah di Darfur karena perebutan kekuasaan antara SAF dan RSF. Saat itu, SAF mendesak RSF untuk bergabung dengan mereka agar menjadi kekuatan militer yang utuh. Namun, RSF menolak dan bersikukuh ingin mengambil alih kekuasaan di Sudan.

  3. 3. Perang saudara di Sudan jadi bencana kemanusiaan paling buruk di dunia

    Sebuah wilayah di Sudan.
    potret sebuah wilayah di Sudan (unsplash.com/Steve King)

    Perang ini akhirnya berubah menjadi konflik yang berkepanjangan dan mengkhawatirkan di Sudan. Sebab, RSF jadi kerap melakukan serangan brutal kepada warga-warga Sudan yang dianggap pro-pemerintah secara membabi buta. Selain itu, RSF juga kerap memperkosa, merampas, dan menghancurkan rumah-rumah mereka.  

    Akibatnya, dilansir Council on Foreign Relation (CFR), perang saudara di Sudan dinobatkan sebagai bencana kemanusiaan paling buruk di dunia. Sebab, perang ini membuat krisis kemanusiaan di Sudan makin parah. Banyak warga yang mengalami kelaparan karena lahan pertanian mereka dihancurkan oleh RSF. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More