Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Perjanjian Nuklir AS-Rusia Berakhir, Perlombaan Senjata Menanti?

rudal Rusia
rudal Rusia (Mil.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Moskow kritik AS yang abaikan proposal perpanjangan
  • AS bersikeras China harus gabung kesepakatan baru
  • Dunia di ambang perlombaan senjata tanpa wasit
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Pemerintah Rusia menyatakan tidak lagi terikat pada batasan jumlah hulu ledak nuklir seiring berakhirnya perjanjian New START pada Kamis (5/2/2026). Kementerian Luar Negeri Rusia menegaskan, seluruh kewajiban perjanjian nuklir dengan Amerika Serikat (AS) kini telah gugur karena tidak tercapainya kesepakatan perpanjangan.

Kedua negara adidaya pemilik mayoritas arsenal nuklir dunia ini memasuki fase tanpa pengawasan senjata untuk pertama kalinya dalam setengah abad terakhir. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, menyebut momen ini sebagai titik nadir keamanan internasional yang berbahaya bagi perdamaian dunia.

1. Moskow kritik AS yang abaikan proposal perpanjangan

Presiden Rusia, Vladimir Putin
Presiden Rusia, Vladimir Putin (Duma.gov.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Kementerian Luar Negeri Rusia mengumumkan bahwa pihaknya kini bebas memilih langkah selanjutnya tanpa hambatan traktat internasional. Moskow mengkritik Washington karena telah mengabaikan proposal Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memperpanjang perjanjian selama 12 bulan.

“Kami berasumsi bahwa para pihak dalam perjanjian New START tidak lagi terikat oleh kewajiban apa pun. Ide-ide kami sengaja diabaikan,” tegas Kementerian Luar Negeri Rusia, dilansir Al Jazeera.

Perjanjian New START diteken pada 2010 oleh mantan Presiden AS Barack Obama dan mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev. New START membatasi pengerahan hulu ledak strategis (deployed) maksimal 1.550 unit bagi masing-masing pihak. Kesepakatan ini juga mewajibkan inspeksi lapangan untuk transparansi data yang sempat terhenti akibat pandemik dan perang Ukraina.

Berdasarkan data Januari 2025, Rusia tercatat memiliki total persediaan 4.309 hulu ledak nuklir, sementara AS memiliki sekitar 3.700 unit di gudang senjatanya. Gabungan arsenal kedua negara mencakup lebih dari 80 hingga 90 persen total senjata nuklir di seluruh dunia.

2. AS bersikeras China harus gabung kesepakatan baru

bendera China
bendera China (unsplash.com/CARLOS DE SOUZA)

Presiden AS Donald Trump menanggapi berakhirnya New START dengan sikap acuh tak acuh. Trump yakin pihaknya dapat membuat kesepakatan baru yang lebih baik dengan mengikutsertakan China.

“Presiden telah menegaskan bahwa untuk memiliki kontrol senjata sejati di abad ke-21, mustahil dilakukan tanpa melibatkan China karena persediaan mereka yang sangat besar dan berkembang pesat,” ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dilansir The Straits Times.

China diperkirakan memiliki sekitar 600 hulu ledak nuklir yang tumbuh secara signifikan. Sementara itu, Prancis dan Inggris masing-masing memiliki 290 dan 225 unit.

3. Dunia di ambang perlombaan senjata tanpa wasit

Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden AS, Donald Trump, di Anchorage, Alaska
Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden AS, Donald Trump, di Anchorage, Alaska. (kremlin.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Berakhirnya New START menambah deretan kegagalan diplomasi keamanan setelah runtuhnya Perjanjian INF (Rudal Jarak Menengah) dan Open Skies beberapa tahun terakhir. Pengamat memprediksi skenario terburuk di mana kedua negara dapat menggandakan jumlah hulu ledak aktif mereka dalam waktu singkat tanpa adanya batasan hukum.

Rusia dilaporkan tengah mengembangkan senjata baru seperti torpedo nuklir otonom Poseidon dan rudal jelajah bertenaga nuklir Burevestnik. Ketiga negara besar termasuk China juga berlomba memproduksi rudal hipersonik berkecepatan di atas 6.400 km per jam yang sulit dicegat.

Paus Leo XIV mendesak para pemimpin dunia untuk mencari pengganti mekanisme kontrol senjata. Sementara itu, PBB juga meminta Washington dan Moskow segera kembali ke meja perundingan.

“Hilangnya pencapaian kontrol senjata selama beberapa dekade ini terjadi di waktu yang paling buruk. Risiko penggunaan senjata nuklir kini tertinggi dalam beberapa dekade,” kata António Guterres, dilansir The Guardian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in News

See More

Perkuat Kedaulatan, Kanada dan Prancis Buka Konsulat di Greenland

07 Feb 2026, 10:10 WIBNews