Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Perundingan AS-Iran di Swiss Batal, Nasib Gencatan Senjata Tak Jelas

Perundingan AS-Iran di Swiss Batal, Nasib Gencatan Senjata Tak Jelas
ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Pertemuan AS-Iran di Swiss dibatalkan tanpa alasan jelas, menambah ketidakpastian terhadap masa depan gencatan senjata yang baru dicapai kedua negara.
  • Israel tetap melanjutkan operasi militernya di Lebanon meski ada kesepakatan damai, memunculkan keraguan atas kemampuan AS memastikan penghentian konflik regional.
  • Negosiasi 60 hari ke depan akan fokus pada program nuklir Iran dan pencabutan sanksi, dengan kedua pihak menghadapi tantangan besar dalam mencapai kesepakatan final.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Rencana pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss untuk membahas implementasi kesepakatan penghentian konflik Timur Tengah dipastikan tidak berlangsung pada Jumat (19/6/2026). Pembatalan tersebut menambah ketidakpastian mengenai masa depan gencatan senjata yang baru saja dicapai kedua negara.

Kementerian Luar Negeri Swiss mengonfirmasi pembicaraan yang semula dijadwalkan berlangsung di resor pegunungan Bürgenstock tidak akan digelar. Namun, Pemerintah Swiss tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai alasan pembatalan tersebut.

Pada saat yang sama, Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, membatalkan rencana perjalanannya ke Jenewa. Gedung Putih menyatakan delegasi AS sebenarnya telah siap berangkat begitu seluruh persiapan selesai.

“Logistik untuk negosiasi ini tidak pernah sederhana atau dapat diprediksi,” kata juru bicara Gedung Putih dalam pernyataannya pada Kamis malam waktu setempat, dikutip dari AFP.

Belum ada tanggapan resmi dari Iran tentang pembatalan pertemuan tersebut. Sebelumnya, Teheran menyatakan siap memulai pembahasan teknis setelah tercapainya kesepakatan 14 poin yang memperpanjang gencatan senjata setidaknya selama 60 hari.

1. Iran tunggu langkah nyata AS

Bendera Iran sedang berkibar.
potret bendera Iran (unsplash.com/Akbar Nemati)

Sebelum pengumuman pembatalan dari Washington, kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan para perunding Iran masih menunggu tanda-tanda implementasi kesepakatan sementara oleh Amerika Serikat.

Menurut laporan tersebut, belum ada kepastian apakah delegasi Iran akan melakukan perjalanan ke Swiss untuk mengikuti pembicaraan lanjutan.

Keraguan serupa juga muncul tentang rencana upacara penandatanganan resmi kesepakatan AS-Iran di Swiss. Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya menyebut seremoni itu akan digelar dalam waktu dekat.

Namun, Kementerian Luar Negeri Iran mempertanyakan urgensi acara tersebut. Teheran menilai penandatanganan tambahan tidak diperlukan karena Presiden Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah menandatangani memorandum tersebut secara elektronik.

Konflik yang pecah sejak 28 Februari lalu setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah menewaskan sedikitnya 7.000 orang. Perang tersebut juga memicu lonjakan harga energi global dan mengguncang pasar keuangan dunia.

2. Kesepakatan diuji, Israel terus berperang di Lebanon

Bendera Israel (kanan) dan Lebanon (kiri).
potret bendera Israel (kanan) dan Lebanon (kiri) (commons.wikimedia.org/Danielrosehill)

Ketidakpastian implementasi kesepakatan juga diperbesar oleh situasi di Lebanon. Israel yang tidak terlibat dalam perundingan damai AS-Iran, terus melanjutkan operasi militernya terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran.

Pada Jumat, serangan terbaru Israel di Lebanon dilaporkan menewaskan sedikitnya 15 orang. Kantor berita negara Lebanon, NNA, melaporkan serangan itu terjadi di sejumlah wilayah yang menurut Israel merupakan target Hizbullah.

Perkembangan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan Amerika Serikat untuk memastikan seluruh pihak mematuhi komitmen penghentian konflik yang tertuang dalam kesepakatan.

Memorandum yang disepakati Washington dan Teheran memang menyerukan penghentian permanen perang di Lebanon. Namun, pemerintah Israel telah menyatakan tidak memiliki rencana menarik pasukannya dari wilayah selatan Lebanon dalam waktu dekat.

Presiden Trump sendiri dalam beberapa pekan terakhir mulai menunjukkan kritik terbuka terhadap operasi militer Israel di Lebanon. Sikap tersebut disebut sejumlah pengamat sebagai salah satu perbedaan pandangan paling tajam antara Washington dan Tel Aviv dalam beberapa dekade terakhir.

3. Program nuklir dan sanksi jadi ujian berat

fasilitas nuklir Iran di Busheh
fasilitas nuklir Iran di Bushehr (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Selain isu keamanan kawasan, kesepakatan AS-Iran juga membuka masa negosiasi selama 60 hari untuk menentukan masa depan program nuklir Iran.

Dalam periode tersebut, kedua negara diharapkan mencapai kesepakatan final mengenai pengawasan aktivitas nuklir Iran, pencabutan sanksi, serta berbagai insentif ekonomi yang dijanjikan dalam memorandum.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, menegaskan, proses negosiasi tidak akan berjalan mudah. Dia bahkan menyebut Trump menandatangani kesepakatan itu karena terdesak oleh situasi perang yang berkepanjangan.

“Jika pihak Amerika ingin terlalu banyak menuntut, kami tidak akan menerimanya,” kata Khamenei.

Di bawah kesepakatan sementara, Iran kembali menegaskan posisinya bahwa negara itu tidak akan mengembangkan senjata nuklir. Teheran juga menyetujui proses pengenceran uranium yang diperkaya tinggi di dalam negeri serta inspeksi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Namun Iran tetap menolak tuntutan Trump agar seluruh cadangan uranium tersebut dipindahkan ke luar negeri.

Sementara itu, Pemerintah AS menyatakan perundingan masih berpotensi menghasilkan kesepakatan yang lebih kuat dibanding perjanjian nuklir tahun 2015 yang dibatalkan Trump saat masa jabatan pertamanya.

Meski demikian, sejumlah pengkritik menilai posisi Iran saat ini justru lebih kuat dibanding sebelumnya karena mampu bertahan dari serangan militer Amerika Serikat dan Israel, mempertahankan pengaruhnya di Selat Hormuz, serta memperoleh sejumlah pelonggaran sanksi ekonomi melalui kesepakatan terbaru tersebut.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari

Related Articles

See More