Pimpinan Vietnam Bertemu Trump di Gedung Putih, AS Hapus Kontrol Ekspor Strategis

- Presiden Donald Trump bertemu Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam, To Lam, di Gedung Putih dan berjanji menghapus Vietnam dari daftar kontrol ekspor strategis Amerika Serikat.
- Vietnam menjadi salah satu dari dua negara Asia Tenggara yang bergabung dalam Board of Peace (BoP) bentukan Trump, sementara pertemuan Trump dan Prabowo disebut bukan bersifat bilateral.
- Pertemuan berlangsung di tengah negosiasi dagang rumit setelah Mahkamah Agung AS menyatakan tarif Trump ilegal, meski Vietnam baru saja membeli 40 pesawat Boeing senilai 37 miliar dolar AS.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Vietnam menyebut, Pemerintah Amerika Serikat akan menghapus negara komunis itu dari daftar negara yang dibatasi untuk mengakses teknologi maju milik Negeri Paman Sam. Pengumuman itu disampaikan hari ini, Sabtu (21/2/2026) oleh Hanoi, usai Presiden Donald Trump bertemu empat mata dengan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam, To Lam di Gedung Putih, Washington DC, Jumat (20/2/2026).
"Donald Trump mengatakan ia akan memerintahkan kepada badan terkait untuk segera menghapus Vietnam dari daftar kontrol ekspor strategis," demikian ditulis oleh kantor berita milik pemerintah, dikutip dari Channel News Asia, Sabtu.
Vietnam menjadi satu dari dua negara di kawasan Asia Tenggara yang ikut bergabung ke dalam Board of Peace (BoP) bentukan Trump. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengklaim, hanya Presiden Prabowo Subianto yang melakukan pertemuan bilateral dengan Trump di tengah agenda BoP di Washington DC. Sementara, seorang pejabat di Gedung Putih menyebut, pertemuan antara Trump dan Prabowo bukan bersifat bilateral.
Kini kedua negara terjebak dalam negosiasi perdagangan yang berkepanjangan ketika Mahkamah Agung AS justru memutuskan tarif dagang Trump bersifat ilegal. Padahal, tiga maskapai penerbangan Vietnam pada minggu ini mengumumkan pembelian 40 pesawat baru dengan nilai hampir 37 miliar dolar AS dengan Boeing. Itu merupakan rangkaian kontrak yang diteken dengan perusahaan AS.
Sebelumnya, pada Juli lalu Hanoi dikenakan tarif minimum bea masuk 20 persen oleh Trump. Angka itu sudah turun dari tarif sebelumnya yakni lebih dari 40 persen. Langkah itu ditempuh oleh Vietnam sebagai imbal balik karena mereka bersedia membuka pasar bagi sejumlah produk AS termasuk mobil.
















