Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

PM Australia Dihujat saat Hadiri Salat Id di Sydney, Kenapa?

PM Australia Dihujat saat Hadiri Salat Id di Sydney, Kenapa?
potret Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese (commons.wikimedia.org/Australian Government)
Intinya Sih
  • PM Australia Anthony Albanese disoraki jemaah di Masjid Lakemba, Sydney, karena dianggap plin-plan dalam menyikapi konflik Israel-Palestina saat menghadiri Salat Id pada 20 Maret 2026.
  • Selain soal sikap terhadap konflik, Albanese juga dihujat karena pemerintahannya melarang organisasi Islam Hizb ut-Tahrir yang dinilai menebar ancaman setelah terlibat dalam serangan teroris di Pantai Bondi.
  • Albanese menyebut situasi di masjid berhasil dikendalikan oleh petugas dan komunitas setempat sehingga suasana kembali normal tanpa ada bentrokan lanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, dihujat dan disoraki oleh beberapa jemaah saat dirinya menghadiri Salat Id di salah satu masjid yang ada di Kota Sydney, Masjid Lakemba, pada Jumat (20/3/2026). Saat itu, Albanese dan Menteri Dalam Negeri Australia, Tony Burke, disoraki oleh jemaah Muslim yang ada di sana karena sikap mereka yang dianggap plin-plan dalam menyikapi konflik antara Israel dan Palestina. 

Australia memang mengecam agresi militer yang dilakukan Israel ke Palestina. Namun, di sisi lain, Australia rupanya juga mendukung hak Israel untuk menyerang Palestina. Sebab, Australia menganggap langkah tersebut sebagai hak membela diri karena Palestina telah lebih dulu menyerang Israel.

1. Sejumlah jemaah menyoraki Albanese sekitar 15 menit

Ilustrasi salat Id (pexels.com/Abid Ali)
Ilustrasi salat Id (pexels.com/Abid Ali)

Para jamaah tersebut menyoraki dan memprotes Albanese terkait sikap Australia terhadap konflik Israel-Palestina selama sekitar 15 menit. Ini membuat suasana di Masjid Lakemba berubah menjadi sedikit kacau.

"Saudara-saudari yang terkasih, tenangkan diri sedikit. Ini Hari Raya Idul Fitri. Ini hari yang penuh sukacita," kata seorang petugas masjid yang tidak disebut namanya meminta para jamaah untuk berhenti menyoraki Albanese, seperti dilansir Jerusalem Post.

Saat itu, sejumlah jamaah menyoraki Albanese dengan kata-kata kasar. Beberapa di antaranya, seperti disgrace, shame on you, dan genocide supporters. Selain itu, para jamaah tersebut juga sempat meminta Albanese dan Menteri Dalam Negeri Burke untuk keluar dari masjid.

2. Albanese juga dihujat karena telah melarang keberadaan organisasi Islam Hizb ut-Tahrir

Logo Hizb ut-Tahrir.
potret logo Hizb ut-Tahrir (commons.wikimedia.org/Throwaway865432)

Selain karena sikap plin-plan soal konflik Israel-Palestina, para jamaah juga menghujat Albanese karena dirinya sudah melarang organisasi Islam Hizb ut-Tahrir. Sebab, beberapa pekan lalu, Pemerintah Australia resmi melarang keberadaan organisasi tersebut karena dianggap menebar ancaman. 

Sebagai informasi, Hizb ut-Tahrir sendiri merupakan organisasi Islam radikal yang mencoba menentang negara-negara Barat. Organisasi tersebut menjadi salah satu pihak yang terlibat dalam serangan teroris yang terjadi di Pantai Bondi pada Desember 2025. 

Saat itu, serangan tersebut menewaskan sekitar 15 orang. Serangan tersebut menjadi salah satu serangan teroris paling mencekam yang pernah terjadi di Negeri Kanguru.

3. Jamaah yang menyoraki Albanese berhasil ditangani

Anthony Albanese sedang tersenyum.
potret Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese (commons.wikimedia.org/Ted86)

Namun, dalam pernyataannya, Albanese mengatakan, jamaah yang menyoraki dirinya berhasil ditangani petugas masjid. Oleh karena itu, situasi kembali normal dengan cepat tanpa ada konflik lanjutan di antara jamaah dan sang PM. 

"Saya berjalan menembus kerumunan menuju masjid dan tidak seorang pun mencemooh. Sebetulnya, ada beberapa pencemooh di dalam. Namun, mereka sudah ditangani,” jelas Albanese dilansir ABC News

"Bertentangan dengan apa yang telah disampaikan, tidak ada seorang pun yang dipaksa keluar. Kami hanya duduk di sana. Masalah itu ditangani oleh komunitas itu sendiri karena sebagian besar dari mereka tidak menginginkan hal itu terjadi," lanjutnya. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More