Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

PM Israel: Kami Siap Lanjut Perang Lawan Iran

PM Israel: Kami Siap Lanjut Perang Lawan Iran
potret Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (flickr.com/Hudson Institute via commons.wikimedia.org/Hudson Institute)
Intinya Sih
  • Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan kesiapan negaranya melanjutkan perang melawan Iran untuk menghancurkan fasilitas pengayaan uranium dan membuka kembali Selat Hormuz yang kini dikuasai Iran.
  • Amerika Serikat tengah berupaya melanjutkan negosiasi damai dengan Iran di Islamabad, namun perundingan sebelumnya gagal karena Iran menolak menghentikan program senjata nuklirnya sesuai syarat AS.
  • Sikap Israel berbeda dengan AS; saat AS ingin mengakhiri perang, Israel justru siap melanjutkannya meski konflik telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran dan memunculkan Mojtaba Khamenei sebagai pengganti.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan pihaknya siap melanjutkan perang melawan Iran. Ia mengatakan, Israel juga sudah menyiapkan kekuatan besar untuk melanjutkan perang melawan negara mayoritas Islam Syiah tersebut. 

Dalam pernyataannya, Netanyahu menjelaskan, ia ingin melanjutkan perang melawan Iran untuk menghancurkan fasilitas pengayaan uranium milik mereka. Selain itu, Netanyahu juga ingin membebaskan Selat Hormuz dari ancaman Iran. Sebab, sejak perang meletus pada 28 Februari 2026 lalu, selat tersebut mulai dikuasai oleh Iran.  

“Kami ingin melihat material uranium yang diperkaya milik Iran disingkirkan. Kami juga ingin melihat penghapusan kemampuan pengayaan uranium di Iran. Tentu saja, kami juga ingin melihat pembukaan kembali Selat Hormuz,” kata Netanyahu dalam sebuah video yang diunggah pada Rabu (15/4/2026), seperti dilansir Times of Israel.

1. AS akan melanjutkan negosiasi damai dengan Iran

Negosiasi damai.
ilustrasi negosiasi damai (pexels.com/Markus Winkler)

Pernyataan Netanyahu tadi disampaikan di saat Amerika Serikat bersiap melanjutkan negosiasi perdamaian dengan Iran di Islamabad, Pakistan. Negosiasi tersebut dilakukan sebagai lanjutan dari negosiasi sebelumnya yang gagal total. 

Menurut Wakil Presiden AS, JD Vance, gagalnya negosiasi di Pakistan pada pekan lalu disebabkan Iran tidak mau menyetujui syarat perdamaian yang diberikan AS. Padahal, jika Iran setuju dengan syarat tersebut, kesepakatan perdamaian kemungkinan besar bisa diraih.

Jadi, jika ingin berdamai, AS meminta Iran untuk menyetop program pengembangan senjata nuklir mereka. Sebab, program senjata nuklir dianggap mengganggu stabilitas keamanan dunia, khususnya di Timur Tengah. Namun, Iran memutuskan untuk menolak syarat tersebut. 

2. Trump menyebut perang dengan Iran akan segera usai

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berada di bandara selepas turun dari Pesawat Air Force One.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berada di bandara selepas turun dari Pesawat Air Force One. (commons.wikimedia.org/U.S. Air National Guard)

Negosiasi tahap ke-2 yang dilakukan AS dan Iran membuat Presiden Donald Trump merasa yakin perang akan segera usai. Sebab, ia yakin Iran pasti akan memilih damai daripada melanjutkan perang dengan AS dan Israel. 

Kendati begitu, Netanyahu mengatakan, masih terlalu dini untuk merasa yakin bahwa perang dengan Iran akan segera berakhir. Sebab, menurutnya, negosiasi lanjutan yang dilakukan AS dan Iran di Pakistan bisa saja kembali gagal. Jika hal itu terjadi, perang berpotensi kembali meletus.  

“Terlalu dini untuk mengatakan bagaimana ini akan berakhir atau bahkan bagaimana perkembangannya. Mengingat kemungkinan perang dapat berlanjut. Kami siap menghadapi skenario apa pun,” kata Netanyahu.

3. Sikap Israel berbeda dengan AS

Bendera Amerika Serikat dan Israel.
potret bendera Amerika Serikat dan Israel (pexels.com/www.kaboompics.com )

Pernyataan Netanyahu tadi menunjukkan bahwa Israel punya sikap yang berbeda dengan AS. AS ingin perang dengan Iran segera berakhir. Di sisi lain, Israel justru ingin perang berlanjut.

Israel sendiri mulai terlibat perang dengan Iran pada 28 Februari lalu. Kala itu, mereka turut membantu AS melancarkan serangan udara ke ibu kota Iran, Teheran. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Kematian Khamenei akibat serangan AS dan Israel membuat Iran berkabung dan sempat mengalami kekosongan pemimpin. Namun, peran Khamenei kini sudah digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei. Ia resmi terpilih menjadi Pemimpin Tertinggi Iran yang baru pada awal Maret. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More