Presiden Ukraina Sebut Perang Mungkin Berakhir pada 2025

- Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, optimistis perang akan berakhir pada 2025 setelah serangan ke Kursk Oblast, Rusia.
- Zelenskyy mendesak negosiasi damai dengan Rusia dan meminta dukungan senjata sumbangan dari Amerika Serikat.
- Perdana Menteri Kroasia, Andrej Plenkovic, memberikan dukungan kemanusiaan, ekonomi, dan militer kepada Ukraina serta mendukung masuknya Ukraina ke dalam Uni Eropa.
Jakarta, IDN Times - Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, pada Rabu (9/10/2024) mengatakan bahwa perang di negaranya kemungkinan akan berakhir pada 2025. Ia menyebut situasi di lapangan sudah memperlihatkan potensi untuk mengkhiri peperangan.
Sejak Agustus 2024, militer Ukraina sudah melancarkan serangan mengejutkan ke dalam teritori Kursk Oblast, Rusia. Zelenskyy menyebut bahwa inkursi tersebut bukan untuk memperluas wilayah, tapi berfungsi mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin untuk bernegosiasi.
1. Klaim kesempatan akhiri perang akan tiba pada akhir 2024
Dalam kunjungannya di Dubrovnik Kroasia, Zelenskyy mengungkapkan, keyakinannya bahwa perang di Ukraina akan berakhir tahun depan.
"Pada Oktober, November, dan Desember, kami memiliki sebuah kesempatan besar untuk bergerak ke arah perdamaian dan stabilitas jangka panjang. Situasi di medan perang sudah menunjukkan kesempatan ke arah pilihan ini untuk menyudahi perang pada 2025," terangnya, dikutip TVP World.
Selain itu, Zelenskyy juga menyerukan dukungan dari seluruh sekutunya, termasuk Amerika Serikat (AS) untuk mengizinkan menggunakan senjata sumbangan dalam menyasar target militer di teritori Rusia.
Meskipun terdesak di Kursk, militer Rusia diketahui masih terus melancarkan serangan di garis depan Donetsk dan mengklaim berhasil merebut Vuhledar. Hingga kini, Rusia sudah menduduki sekitar 20 persen dari teritori Ukraina.
2. Kroasia dukung Ukraina dan tolak penyerahan wilayah
Pada saat yang sama, Perdana Menteri Kroasia, Andrej Plenkovic mengatakan, negaranya akan memberikan bantuan kemanusiaan, ekonomi, dan militer kepada Ukraina. Ia juga mendukung masuknya Ukraina ke dalam Uni Eropa (UE).
"Ukraina adalah salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Kroasia pada 1990-an. Dan sekarang, mereka mempertahankan kemerdekaannya dan kami akan mendukungnya," tutur Plenkovic, dilansir Balkan Insight.
Ia menambahkan bahwa jika terdapat salah satu pihak yang melemah dalam suatu negosiasi, maka hasilnya akan berupa penyerahan wilayah.
"Bentuk penyerahan teritori adalah sebuah sinyal buruk dalam hukum internasional. Ini akan memberikan sebuah lampu hijau bagi pihak yang kuat dan berambisi untuk terus berekspansi," tambahnya.
3. Ukraina dinilai mampu duduki Kursk selama berbulan-bulan

Seorang pejabat senior di AS mengatakan bahwa Ukraina mampu mempertahankan teritori dudukan di Kursk Oblast selama berbulan-bulan. Ia menyebut Kiev tidak memiliki kendala dalam menduduki area tersebut.
"Sejauh ini, Ukraina belum mendapatkan masalah besar terkait suplai ke Kursk Oblast di tengah serangan balik Rusia. Mereka (Rusia) malah berfokus pada serangan di Ukraina bagian timur," ujarnya, dilansir Bloomberg.
Ia pun menilai saat ini Ukraina sudah mendapatkan suplai persenjataan dan amunisi yang cukup stabil dari sejumlah negara-negara Barat. Ia menyebut Zelenskyy kemungkinan akan menerapkan pendekatan fleksibel dalam mengakhiri perang di Ukraina.



















