Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pendukung Trump Kini Mengaku Mulai Menyesali Pilihan Mereka

Pendukung Trump Kini Mengaku Mulai Menyesali Pilihan Mereka
Donald Trump berpidato di sebuah rapat umum di Fountain Hills, Arizona tanggal 19 Maret 2016 (Gage Skidmore, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Survei CNN dan UMass Amherst menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Trump anjlok ke 33 persen, menandai berakhirnya masa 'bulan madu' politik di periode keduanya.
  • Banyak pendukung mulai menyesal karena janji ekonomi Trump gagal ditepati; inflasi tinggi, harga bensin naik, dan kebijakan tarif impor justru memperburuk kondisi dompet rakyat.
  • Kebijakan militer terhadap Iran serta isu transparansi kasus Epstein memperdalam ketidakpercayaan publik, membuat basis pendukung utama Trump—terutama kelas pekerja kulit putih—mulai terpecah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Hanya dalam waktu kurang dari dua tahun sejak pelantikannya kembali, "bulan madu" Presiden Donald Trump dengan publik Amerika tampaknya telah berakhir secara prematur. Hasil survei terbaru dari CNN dan University of Massachusetts Amherst (Maret-April 2026) mengungkapkan fakta pahit: angka kepuasan publik (approval rating) Trump anjlok ke titik nadir 33 persen, rekor terendah di masa jabatan keduanya.

Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan sinyal adanya keretakan serius dalam koalisi pemilih yang membawanya kembali ke Gedung Putih pada 2024.

1. Bangkitnya "The Regretful Trump Voter"

Demo A Day Without Immigrants Tanggal 1 Mei 2017 (Master Steve Rapport, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)
Demo A Day Without Immigrants Tanggal 1 Mei 2017 (Master Steve Rapport, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Untuk pertama kalinya, data menunjukkan bukti nyata adanya pemilih Trump yang menyesali pilihannya. Jika pada April 2025 sebanyak 74 persen pemilih Trump merasa "sangat percaya diri" dengan pilihan mereka, kini angka tersebut merosot menjadi 62 persen.

Meski hanya 5 persen yang secara terang-terangan mengatakan akan memilih kandidat lain jika pemilu diulang hari ini, "keraguan" mulai merayap. Sekitar 16 persen hingga 20 persen pemilih Trump kini mengaku memiliki "kekhawatiran" atau "perasaan campur aduk" terhadap performa sang Presiden, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan loyalis Kamala Harris.

2. Dompet makin tipis: Janji ekonomi yang meleset

Presiden Donald Trump menyampaikan pidato dari Balkon Ruang Biru pada Piknik Kongres, Kamis, 12 Juni 2025, di Halaman Selatan Gedung Putih.
Presiden Donald Trump menyampaikan pidato dari Balkon Ruang Biru pada Piknik Kongres, Kamis, 12 Juni 2025, di Halaman Selatan Gedung Putih. (Foto Resmi Gedung Putih oleh Andrea Hanks)

Dulu Trump menang karena janjinya untuk membuat rakyat lebih kaya, tapi sekarang kenyataannya malah semakin membuat pusing:

  • Harga barang naik (Inflasi): 71 persen warga Amerika merasa Trump gagal ngurusin harga-harga yang makin mahal.
  • Harga bensin: Bahkan 45 persen pendukung setianya sendiri ngomel gara-gara bensin mahal.
  • Pajak impor (Tarif): Kebijakan andalan Trump ini malah dianggap gagal total sama 64 persen orang karena bikin harga barang jadi naik.

Mayoritas warga Amerika tidak butuh tabel atau grafik rumit untuk menilai kinerja ekonomi Trump, mereka merasakannya langsung di kasir supermarket dan pom bensin. Janji kampanye Trump untuk membuat hidup lebih murah justru berbenturan dengan kenyataan harga barang yang terus meroket (inflasi) dan harga bensin yang selangit.

Kebijakan tarif impor yang dulu dibanggakan Trump sebagai "senjata sakti" pun kini dianggap gagal total oleh masyarakat karena malah membuat harga kebutuhan sehari-hari makin mahal. Bagi mereka, teori ekonomi itu nomor sekian; kalau dompet makin tipis dan hidup makin susah, rasa percaya mereka ke pemerintah otomatis luntur.

3. Perang Iran dan pengkhianatan terhadap "America First"?

Potret kota Tehran
Potret kota Tehran (unsplash.com/@mohammad2020)

Salah satu pemicu utama kemarahan publik adalah serangan militer terhadap Iran. Kebijakan ini dianggap bertolak belakang dengan janji kampanye Trump untuk mengakhiri "perang tanpa akhir."

Meski Trump berjanji tidak akan mengirim pasukan darat, 41 persen publik tidak percaya dan menganggap invasi darat tetap akan terjadi. Ketidakpuasan ini bahkan merembet ke tokoh konservatif seperti Tucker Carlson. Hanya kelompok "Strong MAGA" yang masih solid mendukung perang, sementara pemilih moderat dan independen mulai menjauh.

4. Erosi di basis pendukung utama

ilustrasi orang Afrika-Amerika
ilustrasi orang Afrika-Amerika (pexels.com/@pavel-danilyuk)

Bagian yang paling gawat buat Trump adalah hilangnya dukungan dari kelompok yang dulu mati-matian memenangkan dia di 2024. Kelompok "kerah biru" atau kelas pekerja kulit putih yang biasanya jadi benteng pertahanan terkuat Trump kini mulai retak; tingkat kepuasan mereka anjlok dari 63 persen menjadi tinggal 49 persen saja.

Bukan cuma itu, dukungan dari pemilih pria dan warga Afrika-Amerika juga terjun bebas sampai 20 poin dalam setahun terakhir. Kelompok pemilih independen dan moderat, yang biasanya jadi penentu kemenangan, juga ikutan menjauh karena merasa kebijakan Trump sekarang terlalu ekstrem dan bikin hidup makin susah. Kalau "benteng" pendukung utamanya saja sudah mulai roboh, ini jadi sinyal bahaya besar buat Partai Republik di pemilu mendatang.

5. Bayang-bayang kasus Jeffrey Epstein

Jeffrey Epstein
Jeffrey Epstein (Sumber: U.S. Department of Justice/Epstein Files)

Selain isu ekonomi dan perang, administrasi Trump juga dihantui oleh masalah transparansi. Sebanyak 59 persen warga Amerika percaya bahwa pemerintah masih menyembunyikan informasi terkait kasus Jeffrey Epstein. Ketidakmampuan pemerintah untuk meyakinkan publik dalam isu ini menambah persepsi negatif terhadap integritas administrasi.

Angka-angka ini muncul di saat yang sangat kritis. Dengan Pemilu Midterm 2026 yang sudah di depan mata, tren penurunan ini bisa menjadi "tsunami" bagi Partai Republik. Jika Trump tidak segera menemukan "jalan keluar" dari konflik Iran dan gagal menstabilkan harga-harga kebutuhan pokok, kekuasaan Grand Old Party (GOP) di Kongres terancam runtuh.

Seperti yang disampaikan oleh Tatishe Nteta dari UMass Amherst, "Presiden Trump tampaknya sedang berada di titik luar dengan publik Amerika. Kemampuannya untuk menarik kembali hati masyarakat akan menentukan nasib sisa masa jabatannya."

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
Fahreza Murnanda
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in News

See More