Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Radar Buatan China Gagal Deteksi Operasi Udara AS ke Venezuela

ilustrasi radar militer
ilustrasi radar militer (pexels.com/Alexandr Ivanov)
Intinya sih...
  • AS berhasil melumpuhkan sistem pertahanan udara Venezuela yang menggunakan perangkat buatan Rusia dan China.
  • Operasi AS melibatkan kombinasi perang siber dan perang elektronik mutakhir.
  • Keberhasilan AS menculik Presiden Venezuela memicu reaksi di China untuk memperkuat pertahanan udara dan sistem kontra-intelijen.
  • Dominasi teknologi Rusia dalam sistem pertahanan udara Venezuela dinilai terlalu lambat merespons ancaman modern.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Radar antisiluman bergerak JY-27A buatan China yang digunakan Venezuela sebelumnya diklaim mampu melacak jet siluman generasi kelima Amerika Serikat (AS), seperti F-22 dan F-35, dari jarak lebih dari 150 mil. Kenyataannya, perangkat itu sama sekali tak memberi peringatan dini ketika operasi udara AS berlangsung.

Sejumlah pejabat senior Taiwan memandang insiden tersebut sebagai bukti keunggulan teknologi militer AS atas sistem yang dipasok mitra-mitranya. Wakil Menteri Pertahanan Taiwan Hsu Szu-chien menilai persoalan utama terletak pada minimnya perawatan berkala serta dukungan teknis bagi peralatan militer Venezuela.

Dalam laporan Miami Strategic Intelligence Institute yang diterbitkan pada Juni lalu, kondisi pertahanan udara Venezuela digambarkan berada dalam situasi kritis. Lebih dari 60 persen radar negara tersebut dilaporkan tak bisa digunakan akibat kekurangan suku cadang dan lemahnya bantuan teknis dari China. Jalur pengadaan komponen pengganti pun hanya mengandalkan perantara sipil, dilansir dari Newsweek.

1. Sistem Rusia dan China dilumpuhkan teknologi AS

ilustrasi militer (pexels.com/Somchai Komkamsri)
ilustrasi militer (pexels.com/Somchai Komkamsri)

Venezuela selama ini mengoperasikan sistem pertahanan udara buatan Rusia yang dikenal maju, termasuk rudal permukaan-ke-udara S-300VM, kompleks Buk-M2, serta radar JY-27A dari China. Meski mengandalkan perangkat itu, jaringan pertahanan tersebut berhasil dilumpuhkan oleh militer AS melalui kombinasi perang siber dan perang elektronik mutakhir. Sedikitnya 150 pesawat militer AS, mulai dari jet tempur, pengebom, hingga pesawat pengintai, memasuki wilayah udara Venezuela untuk membuka jalur helikopter sekaligus menghancurkan pos radar dan instalasi pertahanan udara.

Analis militer China Fu Qianshao, yang pernah bertugas di angkatan udara, menilai radar Venezuela kemungkinan sengaja dimatikan oleh AS.

“Militer AS diyakini telah mengganggu daya listrik dan komunikasi, yang berpotensi mempengaruhi radar dan bahkan sistem komando mereka,” kata Fu, dikutip dari SCMP.

Fu juga menjelaskan helikopter AS terbang sangat rendah, sekitar 100 kaki atau 30 meter di atas permukaan air, guna menghindari jangkauan radar. Menurutnya, ketinggian ekstrem itu memungkinkan helikopter lolos dari deteksi meski sistem masih aktif.

“Pengawasan udara bukan tugas dari satu sistem radar saja,” kata Fu sambil menegaskan bahwa respons pertahanan Venezuela terlihat lamban dan tertinggal saat keadaan darurat.

Dalam pidato yang menonjolkan kekuatan militernya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth melontarkan sindiran bahwa pertahanan udara Rusia tampaknya tidak bekerja dengan baik.

2. Operasi penculikan Maduro picu reaksi di China

Nicolas Maduro (kiri) bersama istrinya Cilia Flores (kanan) pada tahun 2019. (The Presidential Press and Information Office of Azerbaijan, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
Nicolas Maduro (kiri) bersama istrinya Cilia Flores (kanan) pada tahun 2019. (The Presidential Press and Information Office of Azerbaijan, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Keberhasilan AS menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, langsung dari kediaman mereka di Caracas dipandang sebagai peringatan keras bagi China untuk memperkuat pertahanan udara dan sistem kontra-intelijen. Operasi yang selesai dalam waktu kurang dari tiga jam itu melibatkan pasukan khusus Delta Force yang membawa keduanya dengan helikopter ke kapal perang AS sebelum diterbangkan ke New York.

Sejumlah analis China menilai dominasi teknologi Rusia dalam sistem pertahanan udara Venezuela justru menyimpan banyak celah dan terlalu lambat merespons ancaman modern, termasuk pengawasan canggih, perang siber, serta gangguan elektronik yang digunakan AS.

Aksi cepat AS tersebut segera memicu perbincangan luas di media sosial China. Banyak warganet menyebut peristiwa itu sebagai pelajaran penting dan mendesak pemerintah memperkuat kekuatan militer serta posisi ekonomi demi menjaga kedaulatan.

3. Pengawasan intelijen AS jadi sorotan analis

ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Para analis China juga menilai keberanian AS menjalankan operasi tersebut didorong oleh fakta bahwa lawannya jauh lebih lemah. Peneliti senior National Institute of Strategic Studies Universitas Tsinghua, Xie Maosong, menekankan situasi China berbeda jauh dari Venezuela, terutama dalam perlindungan ibu kota dan pemimpin negara.

“Dalam hal kemampuan militer dan pertahanan dibandingkan dengan AS, kami relatif seimbang, hanya dengan sedikit kesenjangan,” ujar Xie sambil menyatakan bahwa China telah menerapkan pengamanan ketat atas rahasia negara, meski tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap upaya penyusupan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More

Anggota DPRD DKI Sebut Tak Ada Pembahasan Bongkar Tiang Monorel

09 Jan 2026, 10:05 WIBNews